Chapter 1
Di zaman serba praktis ini, nyatanya masih banyak hal menyusahkan. Contohnya nih, pintu minimarket yang sebelahnya harus didorong dan satunya lagi ditarik. Sementara tidak ada keterangan yang diberikan sisi mana yang butuh didorong atau ditarik.
Kalau pintu kaca biasa saja lebih mudah, kenapa harus pakai pintu semacam itu? Malah bikin mood jelek pagi-pagi. Padahal niatku hanya mau beli roti, bukan bikin susah hidup. Mana pintunya keras banget lagi!
"Lo kayak baru pertama kali ke situ aja sih, Sa. Yang kiri itu didorong, yang kanan ditarik," kata Noah sambil tertawa di sampingku, sama-sama berjalan masuk ke kantor. "Lo juga malah maksa dorong pintu yang harusnya ditarik."
"Terus salah gue?" Aku langsung menatapnya tajam, dan dia langsung angkat tangan. "Lagian kenapa nggak ditempelin sticker atau apa gitu, kek? Pelit amat cuma buat kayak gitu."
"Bukan pelit, Sa. Soalnya dari semua orang yang komplain hanya lo doang."
"Nggak mungkin! Yang begitu tuh menyusahkan bangsa dan negara, No! Kalau ada pintu biasa, kenapa harus pakai yang begitu? Atau pakai pintu otomatis aja biar gampang."
"Itu minimarket, Sa, bukan mal." Noah menggeleng-geleng, masih tertawa. "Lagi PMS, ya? Masih pagi aja udah ngomel-ngomel."
"Cewek ngomel belum tentu karena-"
"Tuh, kan," sambar Noah langsung. "Lo kenapa deh? Ini kita kerja juga belum, tenaga lo bisa-bisa habis hanya karena protes sama pintu minimarket."
Rasanya malah aku yang diomeli sekarang.
Sebenarnya aku sendiri pun tidak begitu mengerti kenapa berasa seperti Mak-Beti-mode-on begini. Sejak bangun tadi pagi, semua terasa menyebalkan. Aku tidak bisa sarapan karena gas habis, water heater sama sekali tidak bisa dipakai, dan hari ini bis kelihatannya tidak beroperasi seperti biasa, padahal aku sudah menunggu di halte nyaris 20 menit. Aku biasanya bawa motor, tapi karena sejak 2 minggu yang lalu si kecil itu harus di-service, mau tidak mau bis yang bisa kuandalkan. Kalau saja tidak bertemu dengan Noah tadi, sudah dipastikan aku telat dan siap menampung omelan bos yang terhormat.
Mau bilang sial, takutnya sial betulan.
Noah mendorong pintu ruangan kami lebih lebar, masuk lebih dulu dengan sapaan dari teman-teman lain yang heboh karena ada yang membawa camilan banyak. Yakin deh, kurang dari 5 menit plastik itu pasti sudah kosong. And he won't even angry for it.
Baru saja aku mau menyusul ke dalam, tiba-tiba ada suara lain yang terdengar.
"Isabella."
Aku menoleh ke arah tangga dekat ruangan, dan seorang pria dengan kemeja biru dongker muncul, turun dan berjalan ke arahku. Ternyata Ethan, project manager baru sekaligus ketua tim IT consultant-timku.
Dalam kepala aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan: menyapa, tersenyum , atau melakukan gestur lain yang menunjukkan kesopanan seorang karyawan pada bos. Tapi itu justru menyebalkan, dan dengan suasana hatiku yang sekarang, membayangkannya saja sudah jengkel sendiri. Jadi aku hanya menunduk kecil.
"Kamu dari mana?"
"Baru datang, Pak," jawabku seadanya. Tanpa perlu melirik jam pun, aku tahu kalau ini bahkan belum jam masuk kantor. Masih ada 10 menit lagi. Dia tidak akan mengomeliku karena itu, kan?
Aku mewanti-wanti, bersiaga jika saja dia akan mengeluarkan omelannya. Sudah ada berbagai argumen yang kusiapkan. Kali aku aku tidak sedang dalam posisi untuk dimarahi, apalagi oleh dia.
"Kalau begitu siap-siap. Kamu temani saya ketemu klien hari ini. Bawa laptop kamu."
Seketika aku menganga. "Saya, Pak? Tapi hari ini saya harus selesaikan lapor-"
"Saya tunggu di depan."
Seakan pendapatku sama sekali tidak diperlukan, Ethan beranjak begitu saja, meninggalkanku yang tercenung sendiri di tempat. Aku hanya bisa memandanginya sampai menghilang dari jarak pandangku.
Kalau begini ceritanya, aku tak bisa menolak. Opsi itu sejak awal tidak tersedia.
Apa aku betulan sial hari ini? Demi Tuhan, ini bahkan belum jam 7.
"Kenapa, Sa?" tanya Noah begitu aku masuk, meletakkan ransel bawah meja kerjaku, mengeluarkan tas laptop dari dalam dan memasukkan plastik belanjaanku ke dalam ransel. "Lho, roti lo nggak dibawa?"
"Nggak akan sempat gue makan, nanti aja." Aku menghela napas pasrah. "Gue harus nyusul Pak Ethan. Langsung disuruh ikut ketemu klien."
Noah menunduk memandangi arloji. "Jam segini?"
"Kak Isa dapat kejutan dari bos, ya?" Anggota paling muda dalam tim, Keira, ikut mengganggu. "Dari minggu lalu juga lo kan yang diajak dia meeting bareng, Kak?"
Diingatkan meeting dadakan minggu lalu membuatku makin kesal. Kesannya Ethan senang membuatku kelimpungan tiba-tiba.
"Gue nggak butuh dikejutin begini," balasku sebal. "Padahal kemarin dia yang nyuruh buat laporan analisis pemakaian data telko sebelah. Sekarang disuruh begini. Dia pikir gue punya jurus seribu bayangan, apa?"
"Kayaknya Pak Ethan nyantol banget sama Isa, ya?" Kali ini Sean berdiri dari kubikelnya, berjalan ke arah mesin kopi sambil tersenyum jahil padaku. "Yakin dia senior lo doang, Sa? Atau mungkin cinta lama kali."
"Lumayan, tuh, Kak. Belum pernah pacaran juga, kan?" timpal Keira. "Kan keren, sekalinya punya pacar eh sama bos."
Sekarang statusku ikut jadi bahan ejekan.
Hanya Noah yang sedikit waras dan bilang, "Udah, weh. Kasihan Isa digangguin terus. Mood dia lagi jelek." Aku merasa sedikit lega. Tapi ternyata, dia belum selesai. "Jangan sampai diterkam singa pagi-pagi."
Mereka semua nggak ada yang waras!
"Suka-suka kalian deh." Aku mendelik sebal, memilih untuk langsung keluar dari ruangan dan menyusul Ethan daripada mendengarkan omong kosong yang diucapkan teman-temanku.
No doubt, dia memang kakak tingkatku dulu. Tapi semua asumsi teman-temanku itu salah. Daripada 'nyantol', aku rasa 'dendam' merupakan deskripsi yang lebih cocok.
Hanya saja seharusnya dia nggak punya hak buat dendam padaku. Bukannya lebih pas kalau aku yang dendam karena 8 tahun lalu diputuskan secara sepihak?
*
People said that we will always remember every first in our life. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan perasaan. Kita selalu ingat siapa orang pertama yang membuat hati berbunga-bunga, dan siapa yang menghancurkannya berkeping-keping.
Bagiku, semua itu ada pada orang yang sama-Ethan.
Menggelikan rasanya kalau mengingat bagaimana aku menilainya dulu. Bagi seorang Isabella Hamijaya yang berusia 15 tahun, Ethan adalah makhluk hidup paling keren yang pernah aku kenal dengan gaya cool khasnya dan kepintarannya yang memukau. Dia sudah mahasiswa tingkat dua waktu itu, membuatku tertarik lebih dalam pada bidang informatika. Dulu, Ethan tetanggaku. Menurut Ayah dan Tante Hananti, ibunya Ethan, kami seperti adik kakak yang sering sama-sama. Terlebih saat itu aku mengincar kampus yang sama dengan tempat Ethan kuliah, jadi sejak kelas 1 SMA aku seperti sudah dapat bantuan khusus darinya.
But little do they know, there was something between us. Was, ya. Sudah berlalu juga. Sekarang semuanya kosong. Setidaknya untukku. Aku tidak tahu kalau Ethan betulan punya dendam atau tidak.
Tapi kelihatannya begitu.
Sejak satu bulan lalu, posisi ketua tim yang sebelumnya ditempati Pak Reyner diganti oleh orang lain. Yang tidak kuduga, yang menggantikan justru Ethan. Anak kantor sudah sempat bergosip soal itu sebelumnya, tapi aku sendiri tidak mau ambil pusing. Toh, yang namanya 'Ethan' ada banyak. Ethan yang kukenal sudah hilang dari muka bumi setelah dia wisuda 8 tahun yang lalu dan memutuskanku lewat telepon, dengan penjelasan nggak lebih dari: "Sorry, Isa. Kita udah nggak bisa bareng-bareng lagi."
And that's it. Semudah itu semuanya berakhir, dan aku nggak pernah lagi melihatnya semenjak Keluarga Adipramana pindah ke Balikpapan. Bukan berarti aku belum move on, ya. Delapan tahun sudah cukup untuk membuang pengalaman pacaran sembunyi-sembunyi ala remaja. Lagi pula, selama pacaran pun, dia lebih sibuk dengan urusan kampusnya daripada aku.
Tapi kenapa harus ketemu lagi? Dan jadi bosku? Yang benar saja! Apa begini rasanya negara air waktu diserang negara api, ya?
Mirisnya, mau merutuk seberapa banyak pun, semuanya sudah terjadi. Nyatanya aku duduk di sampingnya sekarang, tak bisa melakukan hal lain selain patuh mengikuti arahannya dalam mencatat dan menandai hasil analisis kami selama pertemuan dengan klien baru. Selama satu jam lebih aku hanya bisa mengikuti arahannya. Syukurnya rapat ini tak terlalu lama, jadi kami bisa langsung kembali ke kantor. Sampai di sana aku akan langsung makan rotiku, sungguh. Perutku sudah mulai berulah.
"Semuanya sudah kamu catat, kan?" tanya Ethan begitu ruangan sudah mulai kosong. Hanya tinggal kami berdua dan satu orang petugas kebersihan yang mulai mengatur kembali meja dan kursi.
Aku mengangguk. "Kan Bapak lihat sendiri saya ngetik terus selama rapat."
"Belum tentu kamu mengerjakan apa yang saya bilang," balasnya datar. "Nanti saya mau lihat catatan kamu. Kirimi ke email saya sekaligus sama presentasi front end web mereka."
Ini orang betulan rese, ya?
Sengaja aku tidak mengomentari ucapan tadi, hanya mengangguk kemudian membereskan laptop dan catatan kecil yang kugunakan sebelumnya. Baru saja keluar dari ruangan, tahu-tahu Ethan sudah kembali bicara. "Kita ke bawah dulu. Kantinnya pasti sudah buka."
Aku hanya diam saking herannya dengan ucapan tiba-tiba Ethan ini. Bergerak pun tidak.
"Kenapa? Kamu butuh digendong sampai ke bawah?" tanyanya lagi, kali ini dia menatapku dengan alis terangkat, membuat tatapannya terkesan penuh tuduhan.
Harus sabar, Isa. Marah sama bos bukan jalan keluar. Harus jaga citra diri di tempat orang.
"Kamu belum sarapan, kan? Saya juga belum. Setelah ini kita langsung ke kantor."
Dan lagi-lagi, sebelum sempat merespons, Ethan sudah berjalan lebih dulu, sementara aku masih mencoba menebak apakah itu semacam bentuk perhatian atau memang dia yang mau makan.
Tapi pilihan pertama sudah pasti tidak mungkin juga sih. Konyol kalau aku berpikir begitu.
Jadi aku memilih untuk mengikutinya tanpa banyak bicara. Kita bukan lagi pasangan yang saling memperhatikan, melainkan dua manusia yang butuh mengisi perut. []
Catatan:
Halo, pipel. Masih inget sama Ethan dan Isa? 😄 Ini nggak ada hubungannya sama cerita sebelah ya. Hanya bikin Ethan-Isa versi universe baru dengan sifat mereka sepeti biasa.
Terus seperti yang bisa kalian lihat di cover, yes, buku ini bakal diterbitkan sama Gramedia Pustaka Utama. Akhirnya ya, Bun. Sebwa impian :")
Jadi, ceritanya nggak akan tamat di sini. Versi yang aku publikasikan ini pun draft, jadi dipastikan bukunya jauh jauh jauh lebih rapi. Kalian bisa dapatin versi full-nya nanti di toko buku kesayangan kalian akhir April.
Kalau mau lebih cepat, aku juga bakal buat Special Pre-Order, jadi selain buku, bakal ada merch juga. Biar makin lengkap Ethan, Isa, sama member baru kita, Dennis. 🤣
PO bakal aku buka tanggal 15-21 Maret, dimulai dari 12.00, dengan paket terbatas (banget LOL). Untuk info terkait PO bisa dilihat di instagram @/aratakim.
Siap ikutan? ;)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro