8. Karena Bunda dan Mami
Happy reading!!!
Jangan lupa vote komen!
"Tipe orang tua itu berbeda-beda, Nak." Ashyela masih memerhatikan penjelasan Deisy. Sore-sore enaknya ngobrol santai.
"Kadang ada yang cuek sama anak, tapi rasa sayangnya itu besar, ada yang protektif sampai anaknya nggak nyaman, dan masih banyak lagi. Nggak ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya, orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya."
"Terus, kalau anak yang kurang perhatian, Bunda?" Deisy tersenyum, mengelus surai panjang milik putrinya.
"Sebenarnya orang tuanya ya sayang sama anaknya, tapi karena terlalu memikirkan bagaimana cara membahagiakan anaknya dengan uang, sehingga orang tua itu bekerja keras sampai lupa anaknya, nggak tahu tumbuh kembang anaknya, akhirnya si anak jadi cari perhatian dengan hal-hal yang merujuk pada keburukan, kan nanti orang tua jadi noleh ke anak itu."
"Aku pernah baca Bun, kalau misalnya anak itu punya privasi jadi sebagai orang tua jangan terlalu kepo sama apa yang sedang anaknya lakukan, misalnya saat Ashyela tutup pintu di kamar, bunda atau ayah nggak langsung masuk, melainkan harus mengetuk pintu dulu," ucapnya sambil menatap bundanya lekat. Deisy mengangguk-angguk sambil berpikir kecil.
"Iya, itu betul juga, itu ya awalnya dari ajaran orang tua, kalau orang tuanya menghargai privasi anaknya, anaknya juga pasti akan menghargai privasi orang tuanya. Tapi, jadi anak juga nggak boleh terlalu tertutup sama orang tuanya."
"Jadi, sekarang aku paham. Kenapa bunda sering banget nggak asal masuk kamar aku, nggak asal buka buku atau barang yang aku punya, padahalkan, itu semua di beli dengan uang ayah, bukan uang aku sendiri." Ashyela menjadi paham setelah ia membaca artikel tentang hal ini, sebenarnya banyak hal yang sudah kita lakukan tanpa kita sadari yang mengandung adab dan sopan santun yang tinggi, karena sudah didikan orang tua sedari kecil.
"Jadi sayang banget sama Bunda dan Ayah...." Ashyela menghambur ke pelukan Deisy.
"Kemarin yang ngambek, sok kabur dari rumah siapa?" Deisy terkekeh melihat ekspresi anaknya yang di buta cemberut.
"Kan Ashyela lagi emosi."
"Lain kali, jangan ambil keputusan pas lagi emosi ya, jangan di ulangi lagi, untung kamu termasuk anak yang langka, kabur ke rumah nenek." Deisy menarik hidung mancung Ashyela.
"Tadi, bunda habis arisan di rumah calon mertua kamu," ujarnya sambil terkekeh, yang membuat Ashyela mengerutkan dahinya.
"Siapa, Bun? Bunda jangan ngadi-ngadi deh." Apakah yang di maksud Deisy ini, adalah orang yang akan di jodohkan dengan Ashyela, nggak mungkin juga si. Deisy tambah geli dan tertawa melihat ekspresi sang anak.
"Tante Adriani." Entah ekspresi Ashyela sudah seperti apa, dan rona di pipinya itu sudah separah apa, Adriani merupakan mami farrel.
"Bunda mah suka bercanda, sering banget ngeledekin anaknya, udah ah gatau sama itu anak." Sebenarnya Deisy sudah tahu hubungan mereka sudah renggang sejak Ashyela kabur ke rumah neneknya.
"Tidak apa-apa, pacarankan emang nggak boleh, lebih baik nggak usah pacaran. Kamu juga sudah kelas 12 jadi fokus saja ke ujian nanti." Apa memang ini jalan terbaik untuk Ashyela? Ashyela mengembuskan nafasnya pelan.
Perempuan beda usia itu sama-sama diam, Ashyela mengecek gawainya dan menatapnya kaget, ia membelalakan matanya. "Bun, Bunda." Ashyela memanggil bundanya yang ada di sebelahnya sedang menatap serius acara televisi.
"Bunda ... Ini gimana dong?" Sambil menunjukkan roomchat itu kepada Deisy.
"Ya sudah tidak ada salahnya kan? Sana siap-siap, bunda izinin, kalau perlu juga bicarakan baik-baik, kalau misalnya kamu menuruti Ayah, dan pilihan kamu mantap, itu hak kamu," ucapnya sambil tersenyum hangat.
***
Di kediaman rumah Adhyastha di ributkan dengan kelakuan putri kecil Vino Adhyastha, yang membuat sang kakak jangah.
"Abang ... Pokoknya harus turuti kemauan Vania," ucapnya memohon, gadis berusia tujuh tahun ini terus saja merengek pada abangnya agar Ashyela datang ke rumahnya. Mereka sudah kenal, dan orang tuanya juga sudah tahu, tetapi Ashyela terlambat memberi tahu Ayahnya sampai akhirnya menjadi seperti ini.
"Kenapa si?" Tanyanya heran.
"Vania itu kangen sama kak Ashyela! Vania udah nggak pernah ketemu kakak cantik lagi!" Vania memalingkan wajah dari Farrel, menaruh tangannya di depan dada.
"Lah, ni bocah bisaan banget, gimana gue bawa dia ke sini," ucapnya dalam hati, Farrel mengacak rambutnya kasar. Farrel menatap adiknya yang cemberut, Farrel termasuk kakak yang sangat menyayangi adiknya. Untuk Vania ia akan melakukan apapun.
"Ganti baju dulu sana, coba Abang tanya dulu, siapa tahu kan kakaknya lagi sibuk," ucapnya, tak lupa mengusap lembut pucuk kepala sang adik, raut muka Vania langsung berubah senang. Vania bergegas turun dari ranjang Farrel dan berlari keluar kamar sang kakak.
"Lo pake guna-guna apa si? Pake pelet jenis apa? Sampai gue sekeluarga luluh sama elo, apalagi adek gue," gumamnya, sambil mengetikkan sesuatu di gawainya.
Tak lama kemudian, gawai Farrel bergetar mendapat balasan dari Ashyela.
Ashyelala🐼
Vania pngn main sm lo,
gue sm Vania d tmn
Ya, gue ke sana
Farrel sangat senang, jika kalian ingin tahu, tetapi dalam dirinya masih ada sedikit rasa kecewa. Farrel mengambil jaket denim hitam dan segera memakainya, mengambil kunci motor, lalu menghampiri Vania yang ada di lantai bawah bahwa kakak kesayangannya bersedia bermain bersama.
***
Taman tampak ramai di sore hari, banyak anak-anak hingga orang lanjut usia duduk-duduk santai di taman. Tetapi, lebih di dominasi para remaja.
"Abang? Kok kakak cantik lama ya?" Vania takut, jika Ashyela tidak bisa bermain dengannya, Vania takut Farrel hanya berbohong untuk membuatnya senang.
"Sabar elah." Farrel masih mengotak-atik gawainya, mendial nomor Ashyela.
"Di mana?" Vania yang mendengar Farrel berbicara dengan seseorang di balik gawainya, ia penasaran dan menatap Farrel. Serasa paham dengan suara itu, Vania merebut gawai Farrel. Namun, di cegah olehnya.
"Kakak cantik, cepetan...." Teriak Vania yang bisa di dengar oleh Ashyela.
"Sebelah Utara, cepet." Setelah memutus sambungan telepon, Farrel melihat Ashyela yang sedang berjalan ke arahnya, sore ini Ashyela tampil cantik dengan rambut yang tergerai dan pakaian sederhana.
"Hallo," sapanya pada Vania, yang langsung di hadiahi pelukan. Sebegitu rindunya kah?
"Kakak, Vania rindu ... Banget. Kata Dilan rindu berat, yah. Jadi, Vania paksa Abang supaya aku bisa main sama kakak, tapi tadi Abang kaya nggak mau, Abang pelit, Abang cemburu masa sama Vania," adu Vania pada Ashyela dengan bibir yang mengerucut, Ashyela terkekeh mendengar ucapan Vania, dari mana anak kecil tahu hal seperti itu. Dan Farrel hanya memutar bola matanya malas.
"Kamu kok lucu banget si, jadi pengin kakak bungkus, di ajarin siapa ngomong gitu?" Menarik gemas pipi chubby Vania yang ada di hadapannya. Farrel semakin jengah dengan kelakuan adiknya, pasti nanti akan menunjuk dirinya.
"Abang," ucapnya sambil menunjuk Farrel yang ada di sebelahnya, Ashyela tampak berpikir.
"Kan Vania pernah denger pas Abang telpon kakak, Abang bilang 'jangan rindu, rindu itu berat kata Dilan', terus nggak tahu lagi Vania lupa." Mendengar itu, pipi Ashyela merona, ia menjadi teringat kejadian itu, Farrel yang pandai menggombal tidak seperti biasanya. Memang, Farrel itu selalu saja berubah-ubah.
Ashyela membisikkan sesuatu pada Farrel yang sudah duduk di sebelahnya, sejak kapan ia pindah? "Kalau telpon lihat dulu ada Vania nggak."
"Hmm," jawabnya singkat. Ingin sekali Ashyela menabok bibir Farrel supaya berkata lebih banyak lagi, tetapi saat itu juga Ashyela teringat ucapannya saat di rumah neneknya.
Menggigit bibir bawahnya, Ashyela memberanikan diri bertanya pada Farrel. "Kamu masih marah?" Dan sejak kapan gaya bahasa Ashyela jadi 'aku-kamu'.
"Pikir sendiri," jawabnya ketus, tetapi dalam hati Farrel juga ada rasa senang, karena gaya bahasa Ashyela itu lebih enak di dengar dan romantis.
"Abang, aku mau beli itu," tunjuknya pada penjual yang ada di seberang. Vania aneh, meminta izin kepada Farrel, tetapi tangannya menarik Ashyela agar cepat-cepat membeli makanan yang bernama rambut nenek.
Farrel berdiri dan mengikuti perempuan beda usia itu sambil tersenyum. Farrel senang, melihat keakraban mereka berdua, tetapi itu sirna kala mengingat ucapan Ashyela bahwa perempuan itu meminta putus.
"Kakak, Abang dua ya ...." Pintanya.
"Satu," jawab keduanya bersamaan.
"Ciee cieee." Vania terbahak dan terus menggoda keduanya, usil sekali bocah ini.
"Kan yang satu buat kakak, jadi Vania beli dua."
Ashyela menetralkan raut wajahnya, "satu aja, kakak nggak doyan, buat kamu aja." Ashyela geli, dengan makanan itu, sama persis seperti namanya rambut nenek yang membuat ia bergidik saat memakannya.
Setalah menerima rambut nenek dari penjualnya dan membayar, mereka bertiga kembali ke tempat yang tadi mereka duduki. "Lo nggak beli?" Ashyela menatap Farrel yang bertanya lalu menggeleng.
Ashyela masih memandangi wajah tampan Farrel, menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Seketika raut Farrel berubah merah menahan amarah ketika menatap layar gawainya.
"Kenapa?" Ashyela bertanya sambil memegang lengan Farrel, guna meredam amarahnya, lalu mengusapnya.
"Gue harus pergi, Lo bawa kendaraan?" Yang di tanya hanya menggeleng dengan raut kebingungan. "Vania, ayo pulang! Ayo." Farrel menarik tangan Ashyela untuk mengikuti langkahnya, dan Vania yang berlari mengejar keduanya.
"Kalau mau pergi, pergi aja. Nanti gue telpon supir supaya jemput gue, sekalian antar Vania."
"Nggak, naik!"
Setelah beberapa menit, akhirnya sampai di depan gerbang rumah Ashyela. Ashyela turun dari motor itu.
"Vania main di sini, mau?" Tanya Farrel pada adiknya, yang pasti langsung di setujui oleh adiknya dengan kesenangan yang luar biasa.
"Farrel? Mau kemana? Ada apa?"
"Urusan cowok, masuk sana."
"Hati-hati, kalau misalnya ada apa-apa, hubungi ya." Tercetak jelas raut kekhawatiran pada muka Ashyela. Setelah itu, Farrel melesat dengan kecepatan yang tinggi.
"Tadi Bundanya kakak juga main ke rumah aku, terus Bunda cerita tentang kakak ke Mami, jadi aku paksa Abang deh." Ashyela tersenyum mendengarnya.
"Jadi itu alasannya," ucap Ashyela dalam hati, keduanya memasuki rumah bak istana itu.
Hai hai
Gimana part ini?
Semoga suka!
Ini panjang loh
Udah di voment belummm??
Terima kasih
Tbc
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro