Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

2. Sesepuh Rusuh

Happy reading!!

Perjodohan, satu kata yang membuat bulu kuduk Ashyela meremang, dikelasnya, teman perempuan yang katakanlah, tergabung dalam club' lambe turah, mereka sedang menggosip tentang hal itu, menikah muda, apalah mereka, ada hal yang sedang booming tentang pernikahan muda mereka berkeinginan untuk menikah muda? Latah.

"Nah kan, kayaknya tuh, enak njir," ucap Lisa dan diangguki oleh teman yang lainnya.

"Pikiran kalian tuh pendek, nikah nggak seenak yang kalian lihat di media sosial, masa iya dia lagi berantem sama suaminya di post di Instagram?" Celetuk Ashyela, ia dongkol dengan teman yang duduk di barisan belakangnya.

"Sekalian aja sist, ada yang mati muda kalian mau ikutan?" Tanya Calista diakhiri dengan tawa.

"Mulut, lo ya Calista, hih mana ada. Iya juga yah, bener Ashyela." Sadar juga manusia lambe satu ini.

"Hidup nggak cuma tentang menikah, pikirin tuh akhirat, lo udah bener belum beribadah?" Kicep sudah pasukan lambe dikelas XII IPA 1, ucapan Ranty bisa membuat mereka sadar.

Pandangan mereka teralihkan kala ada seseorang yang mengetuk pintu kelas.

"Assalamualaikum, ketua kelas dipanggil pak Sastro di ruang guru, katanya ditunggu," ucap gadis berkacamata yang mereka ketahui adalah murid kelas sebelah.

Pak Sastro, bukanlah guru bahasa Indonesia karena bernama Sastro, tetapi beliau merupakan guru matematika yang tidak disukai oleh muridnya sendiri,
Mereka semua terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya pada guru yang sebentar lagi pensiun itu. Jika beliau tengah mengajar suaranya sangat lembut uwuw tidak terdengar, perut buncit, dan ilmunya pasti sangat samar-samar untuk ditangkap. Sulit

"Tugas aja dah," celetuk cowok yang sambil menyugar rambutnya, Rangga, mantan ketua kelas yang sok keren.

"Sana woy gantiin males gue. Bilang aja gue sibuk, wakil sana woy, sekretaris, apaan dah gue Mulu," ucap si ketua kelas, yang tak lain Ashyela, hasil musyawarah yang terpaksa diterima oleh Ashyela.

"Gue aja dah, paling tugas. Semangat." Rangga langsung berlari menuju ruang guru.

"Dari dulu biarin Rangga aja yang jadi ketua kelas, rajin tu anak," ucap Tio teman sebangku Rangga.

"Nggak ada yang perintah supaya milih gue kan?"

"Emang pada nggak ada akhlak," timpal Calista membela Ashyela.

***

"Pejuang LDR, bung."

"Berisik, lo," jawab Satya dengan gaya cool.

"Nggak pantes jadi sok cool gitu."

Jeritan demi jeritan terdengar memenuhi kantin, sang most wanted sesepuh Ganesha sedang berjalan beriringan menuju meja yang sudah biasa mereka tempati di kantin ini.

Suasana riuh kaum hawa yang mengagumi ketampanan bak Dewa Yunani mereka berlima, namun sayang Adam yang sedang mereka teriaki sudah memiliki hawa yang sudah tertulis dan bersemayam di hati kelima most wanted sesepuh Ganesha. Dikatakan sebagai sesepuh karena mereka berada di angkatan terakhir yaitu kelas XII. Biasanya para most wanted boy Ganesha akan bersama berjalan beriringan.

"Itu si Farrel bajunya plis dimasukin, rambutnya di rapiin, rahim gue berdenyut, njir." Berbagai macam pekikan yang tidak ada akhlak sama sekali dalam memuji ketampanan most wanted sesepuh Ganesha, terutama Farrel, si badboy, dingin, serta dengan berbagai gaya khas yang menjadi daya tarik kaum hawa.

Mereka berlima duduk di kursi pojok yang tersedia di sana. Sebenarnya mereka berlima bukan dari kelas yang sama, tapi karena mendapat predikat most wanted tak apalah untuk bergabung.

"Bang Sat pesen sana, lo," perintah Rio pada Satya, yang diperintah hanya pura-pura tak dengar dan memasang earphone, dan manggut-manggut mengikuti alunan musik yang didengarnya.

Cowok disebelah Rio itu langsung menariknya tanpa sepatah katapun, dia memiliki sedikit darah Arab, namanya saja Aldi Abdullah, yang biasa disapa Aldi. Hanya mereka berempat saja yang memanggil dengan sebutan Abdul. Pantaslah seorang Abdul tergabung dalam the most wanted, Keturunan Arab, walaupun fans Aldi kalah dengan banyaknya fans Farrel.

"Lo, kenapa narik, gue, Dul?" tanya Rio jengah

Aldi hanya membalas pertanyaan Rio.
"Li, kinipi nirik, gii, Dil?"

"Asem, lo kenapa menye-menye, gue doain lo jadi menye-menye beneran, nggak balik bibir lo ke semula, Aamiin." Doa Rio untuk Abdul, mereka berdua jarang akurnya, walaupun sudah berteman sejak TK, walaupun begitu, entah sial atau sengaja, sampai SMA pun mereka tetap dalam satu kelas.

"Wih, nama elu Dila?"

"Nanti pulang sekolah, gue mau minta sama ummi buat tumpengan, ah...." Rio mengerutkan keningnya, jiwa tidak keseriusan saat diajak bicara Aldi, kumat.

Dimeja yang sama, pojok kantin GHS yang menjadi saksi sering terjadinya keributan. Tunggu dulu. Bukan ribut peperangan atau adu jotos, hanya saja ribut tentang hal yang tidak jelas contohnya saja Rio dan Aldi, ditambah ada Satya. Apalagi jika ditambah Calista, mereka melebihi ibu-ibu yang sedang bergosip di tukang sayur. Serta selebihnya kadang hanya ikut menimpali saja.

"El, bisa kan bajunya dimasukkin? Ikuti lah, peraturan, taati." Dia risih melihat keadaan sang kekasih yang acak-acakan seperti itu.

"Aku nggak bisa, kamu aja deh yang masukin."

"Heh, geblek." Calista memukul kening Aldi dengan sendok, yang dipukul hanya mengaduh kesakitan, jelas saja kekuatan Calista seperti kuli bangunan, tak hanya Calista, Ashyela juga sama kuatnya. Bisa-bisanya Aldi menjawab demikian.

"Hmm." yang diperingati hanya berdehem tak berminat untuk menjawab, benar kan? Pasangan ini tidak ada romantisnya sama sekali, seperti kisah remaja di novel-novel, atau film.

"Nih, lo pada tahu nggak?"

"Kagak!" Seru mereka bertujuh.

"Kucing gue lahiran," cengir Aldi lebar.

"Kirain apaan, njir," timpal Calista.

"Haa, kepo kan, lo?" tuding Aldi pada Calista, setalah itu Calista menatap Marcel yang sedari tadi diam, apakah dia tertular Farrel?

"Minta satu ya?" Calista menusuk bakso Marcel dengan garpunya dan langsung dimasukkan ke mulut. Sebelum itu Marcel terlebih dahulu menarik tangan Calista dan melahap bakso itu ke mulutnya sendiri.

"Anjir, suap-suapan," pekik Satya, yang membuat teman lainnya menatap ke arah mereka berdua.

"Heh, Otong gue bilangin ke om Gio, yah," ujar Ashyela.

"Julid, lo." Calista tahu, mana berani Ashyela mengadu pada papahnya. Lagian itu tidak seperti yang mereka pikirkan, hanya keisengan Marcel.

"Tuh, Shyel, minta Abang gue supaya disuapin," ujar Marcel sambil menunjuk Farrel.

"Sepupu ipar tidak ada akhlak," umpat Ashyela dalam hati.

"Mau?" ia menyodorkan bakso ke mulut Ashyela, mereka tak pernah berpikir bahwa Farrel akan melakukan hal itu, ya jelas saja pasti Ashyela akan menolak.

"Tarik mang...."

"Jangan kasih kendor...." Teriak Rio dan Aldi bergantian, kerusuhan mereka yang sudah biasa tidak membuat penghuni kantin keheranan.

"Berisik," ucap Farrel.

"Nah, loh mampus," timpal Satya.

"Kalian itu berisiknya menuhi kantin," ujar Ranty tak kalah dengan suara kencang, yang tadinya hanya diam menikmati bakso.

"Lo juga, Ranty!" Teriak mereka bersama-sama.

"Nggak papa kak, teriakan kalian terlalu merdu kak, apalagi kak Ashyela sama kak Farrel," ujar adik kelas yang berjarak dua meja dari mereka.

"Ketika fans berkoar," jawab mereka bersamaan, kecuali, Farrel dan Ashyela.

"Apalah dayaku, yang hanya remahan rengginang di toples khong guan." Aldi atau yang biasa disapa Abdul itu berdiri dan mendramatisir keadaan, ia layaknya  seorang deklamator yang menghayati puisinya. Yang melihat Aldi sedang mendrama di sana langsung terbahak, sampai ada yang tersedak makanan. Sebenarnya ucapan Aldi tak lucu sama sekali, tetapi gaya yang dibawakan Aldi itu yang membuahkan tawa.

Minal aidzin teman-teman, Mon maap baru bisa up dan ini melanggar jadwal up, wkwk gpp ya. Maaf akhir-akhir ini author sibuk, iya! sibuk sekolah online:v
Sama kan kek kalian?

Maap part gaje, author lagi nggak bisa serius:v
Candaa

Happy Eid Al Adha:)

Note: jika ada komentar yang tidak sesuai dengan isi cerita Mon maap ya, karena cerita ini author ubah lagi alurnya.  Terima kasih

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro