1. Anniversary
Happy reading!!
Gadis yang kini termenung mengingat kejadian satu tahun lalu membuatnya tersenyum geli, kisah cintanya tak serumit itu, menurutnya. Walaupun membutuhkan penantian yang terbilang cukup lama, namun berakhir dengan bahagia. Mereka mampu bersatu. Surai panjangnya yang tertiup angin membuat helai demi helai rambut menari indah. Senyumnya yang manis mungkin bisa membuat orang yang melihatnya diabetes.
"Nggak nyangka, sumpah," gumamnya, dan Ashyela kembali tersenyum. Sudah cukup lama dia berdiam mengingat masa lalu yang menurutnya terlalu manis.
"Lama-lama gue gila." Setelah itu Ashyela memilih hengkang dari balkon kamarnya menuju lantai satu, pasti di sana ayah dan bundanya sedang bermanja ria sampai melupakan anak perempuan satu-satunya.
Dan benar saja terdengar gelak tawa dari sang ayah, Ashyela ikut tersenyum dan menambah laju jalannya.
"Eh, princess shyelalala," ledek Ganendra pada anak perempuannya. Mulanya Calista yang memanggil Ashyela dengan shyelalala, jadilah keluarganya pun memanggil dengan shyelalala.
"Ayah ketawanya kenceng banget," celetuk Ashyela saat dia duduk di sebelah bundanya.
"Itu bang Al tadi katanya sudah ingin pulang, makanya ayah ketawa, ada-ada aja sambil manja gitu, kan geli," jelas Deisy pada Ashyela.
"Woi, kangen gue nggak?" Ashyela langsung menatap layar ponsel ayahnya yang menampilkan wajah kakak laki-lakinya yang terlampau tampan, kulit putih, rahang tegas, hidung mancung, serta mata, alis dan segala yang dimiliki tercetak pas sesuai dengan porsinya.
"Nggak." Mendengar jawaban Ashyela orang tuanya hanya terkekeh geli, walaupun sebenarnya Ashyela itu rindu dengan abangnya yang terlalu lama mengabdi di negeri orang.
***
"Bun, aku izin ke mall sama Calista, Ranty, boleh ya, Bun," pintanya pada Deisy, setelah obrolan tadi malam, mereka berencana pagi ini akan pergi ke mall.
"Boleh, hati-hati." Setelah mendapat izin dari sang bunda, lantas Ashyela mencium punggung tangan bundanya dan bergegas menuju garasi mobil di rumahnya. Mobil Lamborghini merah miliknya sudah siap untuk menemani hari ini.
Ashyela akan menjemput Calista serta Ranty yang sudah menunggu dirinya di rumah Calista. Katanya, tadi malam Ranty menginap di rumah Calista, karena mereka sama-sama di rumah sendiri, hanya ditemani pembantu. Jadilah Ranty menginap di rumah Calista.
"Shye, ngaret banget, lo." Baru saja Ashyela menapakkan kakinya di pekarangan rumah Calista, dirinya sudah di semprot omongan Calista.
"Yaudah ayo cepetan." Mereka bertiga meluncur menuju mall pusat di kota Jakarta.
Sesampainya di sana mereka langsung menuju tempat baju, entahlah mereka hanya mengikuti Ranty saja, sebenarnya Ashyela tidak suka belanja seperti perempuan lainnya. Baginya, itu hanya menghamburkan uang. Walaupun Ashyela anak dari Ganendra Myesha, orang terkaya di Indonesia. Ini saja hasil paksaan dari kedua sahabatnya.
"Bentar, kayaknya di sana deh, Tong," tunjuk Ranty memberi tahu tempat kepada Calista, entahlah Ashyela tak memedulikan itu. Ranty menarik tangan Calista, begitu pun Calista yang menarik tangan Ashyela jadilah acara tarik menarik, biarkan sesuka Ranty akan membawa mereka kemana.
Ranty memilih dress kemudian memberikannya pada Ashyela. "Nih, coba dulu." Ashyela mengerutkan keningnya, ia tak paham sebenarnya dia di tarik ke sini untuk apa.
"Coba aja, nurut." Oke, kali ini jadilah Ashyela yang penurut.
"Seketika Shyelalala tambah cangtip," celetuk Calista saat Ashyela keluar dari ruang ganti pakaian. Ranty menyuruh Ashyela untuk duduk dan memakaikan high heels.
"Sebenarnya kalian kenapa si?" Tanya Ashyela heran.
Ashyela masih saja bingung, kedua sahabatnya entah dirasuki setan apa. Sikapnya aneh, dari malam yang memaksa dirinya agar pergi ke mall dengan tujuan menemani mereka, sampai di sana malah dirinya yang diberikan dress, high heels. Dan sekarang ia dibawa kerumah Ranty yang katanya ada alat make up.
"Kali ini, lo harus nurut sama kita, oke."
"Sebenarnya kenapa si, gue kan nemenin kalian belanja, eh malah gue yang kalian beliin ginian. Dan kalian nggak beli apa-apa gitu?"
"Yee, kata siapa kita nggak beli, lo nggak lihat, tuh," tunjuk Calista pada barang yang ada di kasur queen size milik Ranty, dan sejak kapan ada itu di sana.
"Cepet ganti pakaian sama yang tadi, shye." Daripada nantinya menimbulkan perdebatan yang panjang, Ashyela memilih menurut, setelah mengganti pakaiannya, Ranty menariknya menuju meja rias.
"Nggak perlu tebel, natural aja deh, muka lo udah terlanjur cangtip."
"Lagian shyelalala nggak suka make up kek lo, Ra."
"Diem, lo otong." Dengan lihai Ranty memoles wajah cantik Ashyela, rambut Ashyela yang dibiarkan tergerai indah.
"Perfect, tunggu gue ganti baju, kita ke rumah Calista. Oke shye. Fix lo cangtip banget, tapi sayang cemberut."
"Ta, sebenernya ada apa si? Kalian aneh banget, untung mood gue lumayan ya."
"Nanti tahu, oke tunggu aja deh, kejutan masa dikasih tahu, bukan kejutan dong namanya."
"Ra, udah kan?" Ranty mengangguk, lantas mereka bertiga ke rumah Calista yang entah di sana ada apa. Sampai Ashyela memakai dress.
***
Tiba di rumah Calista, mata Ashyela langsung ditutup dengan kain oleh Calista. "Otong, kalian pada kenapa si, awas aja kalian macem-macem sama gue. Gue pecat ya jadi sahabat."
"Kalau gue dipecat, gue ajuin CV buat daftar jadi sahabat lo lagi dong," jawab Calista enteng.
"Udah, nurut aja kenapa si. Susah banget jadi anak ya." Mereka berdua menuntun Ashyela kedalam rumah Calista. Selepas di ruang tamu, mereka melepaskan genggaman tangannya dan mereka meninggalkan Ashyela sendirian di sana.
"Woy, otong maksudnya apaan dah. Rara," teriak Ashyela, dengan kesal Ashyela menarik penutup matanya sampai terlepas, dan menemukan sosok bak dewa Yunani dihadapannya.
"Kenapa?" Sumpah demi apapun, gayanya yang cool rambutnya tertata rapi, membuat Ashyela speechless. Oh ayolah, Farrel sangat tampan kali ini.
"Farrel?" Farrel hanya mengangguk, dan terdengar suara teriakan dari arah yang berbeda.
"Happy anniversary, duo cool."
"Ciee, satu tahun memadu kasih, duha— adaw." Belum sempat Satya menyelesaikan ucapannya, dia sudah kena timpuk oleh Marcel. Mereka tahu pasti Satya akan menyanyikan lagu di ala-ala pengantin baru.
"Gue udah tahu, lo Mau nyanyi gituan. Ngerusak suasana," ucap Marcel sinis.
"Happy anniversary, maafin gue kalo selama satu tahun ini buat lo marah," ucap Farrel, selama mereka berpacaran satu tahun ini tidak pernah mereka menggunakan aku-kamu. Karena menurut mereka itu terlalu alay. Begitu juga kedua sahabatnya.
"You are my everything."
"Rel kereta, bisa alay juga. Anjay suranjay takanjay kanjay," celetuk Satya, tidak usah heran dengan manusia satu ini.
"Lo, yang alay."
"Sama-sama, maafin gue juga dan makasih kejutannya. Nyatanya gue nggak terkejut," ucapnya sambil terkekeh, Farrel langsung menghadiahi Ashyela berupa sentilan di dahinya.
"Kuy, makan."
"Berisik, sat."
"Duluan, gue mau ngomong."
Jika kalian pikir acara anniversary ini ada kue, tiup lilin atau apa. Tidak sama sekali, pasangan ini memang unik. Memang utuk apa juga, Farrel hanya memesan makanan, untuk dimakan bersama. Mungkin, bila Meraka sudah menikah acaranya akan berbeda lagi.
"Cantik." Ucapan yang bisa merubah warna dipipi Ashyela, pasti bertambah merah. Tadi saja Ranty memakaikan blush on.
"Cie, tambah merah. Tadi pake berapa lapis tu," ucap Farrel, Ashyela hanya memukul lengan Farrel. Ashyela malu tentunya.
"El." Farrel kembali menghadap ke Ashyela sambil menarik alis kanannya. "Bingung mau ngomong apa." Farrel tertawa, ucapan Ashyela tak bermutu, dia bingung serta canggung.
"Ya, tinggal ngomong aja, gratis kok."
"Bukannya dulu, elo yang irit ngomong?"
"Itu dulu, dan ini juga cuma sama, lo Kan Kalo gini?" Ya memang tidak bisa dimungkiri, Farrel berbicara panjang lebar hanya dengan orang tuanya dan Ashyela tentunya. Tak tahu sebabnya Farrel bisa memiliki kepribadian yang dingin.
"Dress sama high heels ini, lo yang beliin? Ngaku deh." Ashyela tidak percaya bahwa kedua sahabatnya yang membelikan itu semua. Lagian mereka juga tahu Ashyela tidak akan menerima. Sulit, butuh proses pemaksaan dulu.
Farrel mengangguk. "Nggak perlu, El. Mending buat beli kebutuhan, lo yang lain."
"Nggak masalah, selagi itu buat, lo."
"Yaudah, Kali ini gue terima, makasih banyak untuk selama ini. Masa gue lupa aniv kita. Kemarin mah gue inget, tapi pagi tadi udah lupa." Memang betul adanya. Ashyela sudah mengingatnya jauh hari, namun saat tepat anivnya dia melupakan itu.
"Dasar, pacar siapa si?"
"Es balok berjalan," ucap Ashyela sambil terkekeh. Farrel terlalu gemas dengan tingkah Ashyela.
"Boleh dong, kenalin ke gue."
"Boleh banget." Farrel mengacak rambut Ashyela gemas.
"Love you."
"Woy pasutri, ini makanannya mau abis, gue abisin sekalian ya." Pasti kalian mengetahui suara itu, ya Satya.
"Lo, belum makan kan? Makan dulu." Farrel beranjak dari duduknya dan menarik tangan Ashyela, mereka berjalan beriringan menuju meja makan rumah Ashyela. Jangan lupakan tangan mereka yang bergandengan.
"Kek mau nyebrang aja kalian," cibir Ranty.
"Iri bilang bos," jawab Marcel.
"Otong sama cel prokariotik, shyelalala Sama rel kereta, gue sama siapa dong?" Tanya Satya pada dirinya sendiri.
"Tuh, Ranty jomlo."
"Heh, mana ada gue jomlo."
"Gue sama dia? Ogah."
"Salah sendiri, pacarnya nggak diajak coba," jawab calista. Mereka semua sudah memiliki pasangan masing-masing.
"Berisik," ucap Farrel, dan Ashyela ikut dengan menjulurkan lidahnya ke Satya.
"Betapa kejamnya dirimu atas diriku." Satya menyanyikan lirik lagu milik penyanyi perempuan yang dijadikan soundtrack acara televisi swasta di Indonesia.
Hallo jumpa lagi dengan Ashyela di hari Kamis. Semoga suka dengan part awalnya ya.
Fyi, Ashyela bakal author update Senin dan Kamis ya. Jangan lupa mampir di lapak sebelah Suddenly.
Note: jika ada komentar yang tidak sesuai dengan isi cerita Mon maap ya, karena cerita ini author ubah lagi alurnya. Terima kasih
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro