Chapter 9 : Jati diri Adnan
Perjalanan pertama mereka memasuki kawasan hutan. Hutan di dunia ini sama dengan hutan di wilayah bumi bagian sub tropis. Banyak tumbuhan pinus dan cemara yang mendominasi isi hutan. Kabut pagi yang semula tebal mulai berkurang, sehingga menampakkan warna asli dari kayu-kayu pohon di sekitar mereka.
"Kayunya hitam? " Angela bergumam sendiri. Kayu-kayu cemara itu berwarna hitam gelap. Mengesankan hutan ini misterius dan menakutkan.
"Kenapa?" Katrine yang merasa keheranan Angela aneh angkat bicara.
"Ee.. Tidak. Baru kali ini saja aku lihat cemara berkayu hitam. "
"Ooh.. "
Angela tersandung bebatuan lagi. Perjalanan mereka sering terhenti untuk istirahat. Mengimbangi stamina Angela yang masih lemah. Sadar ia menjadi beban, Angela tetap bangkit dan tidak mengeluh apapun tentang capeknya dirinya.
"Angel. Kakak gendong ya? " Adnan mensejajari langkah Angela.
"Nggak usah kak. Kita jalan sendiri-sendiri aja. Angel masih kuat kok. " Angela berusaha meyakinkan Adnan dengan memasang senyum semanis mungkin.
"Seharusnya kita memang naik kendaraan saja Sais." Robin memberi komentar. Cowok yang lebih banyak diam itu memandangi si Ketua yang mempertimbangkan keadaan anggotanya.
"Tak apa. Kalau pelan-pelan juga nanti sampai. " Evrin berkata dengan sikap tenangnya. "Ya sudah ayo lanjut lagi! "
Adnan meraih tangan Angela dan menautkan jemari mereka. "Jangan jatuh lagi ya. Aku akan memegangimu. "
Lima detik serangan listrik itu menjalari tangan Angela hingga sampai ke jantungnya. Kenapa? Seharusnya ia sudah terbiasa dengan sikap Adnan yang selalu menjaganya. Tetapi di tempat ini Adnan seperti laki-laki yang berbeda. Badannga tampak lebih tegap. Sorot matanya lebih cemerlang dari biasanya. Aura baru yang kuat melingkupi sosok Adnan. Jauh sebagai Adnan yang menjadi kakaknya yang dikenali Angela.
Angela menutupi mukanya dengan sebelah tangannya yang bebas karena merasa panas dan malu. Adnan, dia bukan Adnan kakakku yang kukenal..
Saat tengah hari -kira-kira- Sais menghentikan rombongan dan menyilahkan untuk istirahat dan makan siang. Perbekalan yang disiapkan Evrin lumayan untuk mengisi logistik mereka berenam selama dua hari ke depan.
Sais melirik Adnan yang terus menempel saja pada Angela disaat makan.
"Adnan. " panggil Sais. "Ikut aku sebentar! "
Mereka berdua menjauh dari kelompok. Sais menamengi sekitar mereka dengan mantra agar percakapan mereka tidak bocor oleh pihak lain.
"Kau sadar kau ini siapa? " Sais tidak membuang waktu hanya untuk berpura-pura.
"Adnan? " Adnan bertanya polos.
"Kau adalah Pangeran Negeri ini. Yang digadang akan meneruskan tahta Ratu Damacena."
".." kenyataan yang perlahan Adnan ketahui ini jelas membuat Adnan terkejut. Namun sikapnya tetap tenang. Tak berusaha menyangkal apa yang dikatakan Ketuanya. Tak juga menjawab karena ia masih bingung harus merespon bagaimana?
"Aku hanya mengingatkan sebagai Ketua yang peduli padamu. Kau dan Angela sangat dekat Ad. Sebenarnya aku tidak akan melarangmu. Juga menentang hubungan kalian. Namun sikap protektifmu pada Angela harus kau hentikan. Disamping dirimu belum mampu untuk menjaga Angela, Angela hanya akan menjadi beban dan kau hanya akan menjadi tameng kematian saja. Maupun sebaliknya. Sebaiknya biarkan saja Angela bersama dengan Katrin saja. Jangan terlalu dekat lagi. Ini demi kebaikan kalian berdua. "
"Aku? " Adnan menunjuk dirinya sendiri. Ia masih saja berpikir ia adalah remaja yang asyik main cinta-cintaan. Namun setelah tahu ia adalah Pangeran yang membuat ia meremang karena memikirkan tanggung jawab kedepannya, Adnan menjadi lebih gugup lagi. Lebih baiknya memang Adnan menjauh saja dari Angela dulu. Karena musuh pasti mengincar kelemahannya. Apalagi ia belum 'mampu' menjaga Angela pujaan hatinya.
"Kau bisa mengerti kan? "
Adnan mengangguk sebagai jawaban. Jantungnya masih berderu mengetahui kenyataan. Bahkan kakinya mengalami tremor ringan.
"Bagus kalau begitu. Biarkan Angela secara alami memahami kekuatan dirinya sendiri juga. Dan kau juga bisa lebih fokus menyiapkan fisik dan mental untuk peperangan dengan Morvin kedepannya. "
"Baik Ketua. " jawab Adnan singkat. Sais menghilangkan mantra dan mengajak Adnan bergabung lagi dengan rombongan.
Angela menyodorkan roti untuk Adnan namun Adnan menolak dengan halus. "Makanlah Angela, biar tenagamu pulih juga. Itu kan jatah makananmu. "
Angela malu sendiri perhatiannya ditolak. Ia mengangguk dua kali dan memakan lagi rotinya. Adnan yang tadinya duduk bersebalahan dengan Angela sekarang malah disamping Sais. Dan mereka berdua asyik mengobrol tentang perjalanan ke depan.
Katrin menyenggol bahu Angela. "Kau menyukai siapa? Ketua atau Adnan? "
Jantung Angela berdegup kencang. Meski ucapan Katrin hanya bisikan tapi tetap saja Angela malu kalau didengar kedua orang yang bersangkutan. Siapa tahu mereka juga punya pendengaran tajam? "Yak! Jangan ngaco deh!"
"Ngaco? "
"Asal bicata Katriiin!! Kamu nggak boleh asal bicara seperti itu! "
Katrin malah tertawa melihat muka malu Angela yang semerah tomat ranum. Muka Angela cemberut lucu. Ditertawai Katrin begitu.
Maaf kalau chapternya tambah lama up nya. Terimakasih sudah mau mampir baca.. 😇😁
Awal nulis ini author pakai nama-nama pemain manchaster unuted tahun 2014 entah musim apa lhoh. Karena saat itu author lagi baca koran tentang bola. Jadi keilham buat cerita Almer tapi bingung mau pakai nama apa dan istilah apa.
Nama-nama dulu. Adnan, Patric Evra, Ibrahimovic, Shinji Kagawa, Ander Herrera, Moutin-ho dll.. Ada yang kenal?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro