Chapter 20 : Sais
Beberapa bagian hutan terbakar hebat. Semua penduduk Oreno bekerja keras memadamkan Api yang melahap.
Ratu Damacena mengumpulkan semua rakyat Oreno dan mambuat pertahanan ketat di sekitar Eriesa. Membkolkade musuh yang akan mendekat.
"Besok adalah peperangan besar untuk kita."
Ratu Damacena berbicara. Dengan Adnan dan Kan'an dikedua sisinya seperti penjaga.
"Saya sangat menyesali musuh merusak hutan kita yang lestari. Beberapa dari kita menjadi korban ledakan dan kehilangan nyawa mereka. Saya sungguh sangat berduka dengan kehilangan mereka. Saya harap kalian tidak akan merasa kecil hati atau gentar terhadap ancaman musuh seperti ini. " Ratu Damacena memberi pidato singkat dan menyilahkan Eldin menyiapkan strategi perang dengan para komandan yang diangkatnya. Terbagi menjadi beberapa batalion.
Batalion A dari pasukan berkendara elang yang dikomandani Shinji. Terdiri dari 50 personil siap tempur dan panah.
Batalion B oleh Kan'an, akan menyerang dari daratan. Memiliki 100 prajurit dengan senjata pedang.
Batalion C akan berada di belakang. Dipimpin oleh Ratu Damacena sendiri. Terdiri dari 200 pejuang tempur. Dari laki-laki dewasa dan orangtua.
Pagi-pagi buta. Mereka berada dipadang Taiga yang menghampar luas. Pemandangan gunung es terlihat jelas di kejauhan. Tertutup salju di puncak-puncaknya. Beberapa pohon pinus berdiri jarang di belakang.
Pasukan Mourvin sudah siap di depan sana. Jumlahnya sangat besar.
Barikade musuh berdiri di depan sana. Aura hitam menggantung di atas pasukan kegelapan itu. Mengabarkan ancaman yang akan merundung rakyat OrenoVeruska.
Disinilah puncaknya. Nyawa menjadi taruhan. Adnan begitu gugup sampai jantungnya bertalu kencang. Padahal ia sudah banyak menderita sakit untuk bisa menemui medan perang.
Tapi tetap saja. Taiga yang luas ini. Dan barikade musuh yang rapat dan gelap, membuatnya merinding dan berbayang kematian.
"Tetaplah tenang, putraku. Kau adalah Pangeran yang harus bisa memberi contoh rakyatmu. " kata Ratu Damacena. Ia mengenakan zirah yang melindungi dada tanpa lengan. Dan celana kulit ketat yang terlihat liat dan elok di tubuhnya yang seputih giok. Kulit lengannya yang indah terekspos dan memantulkan sinar mentari pagi dengan eloknya.
"Baik ibunda. " sahut Adnan.
Dum.
Genderang sudah dibunyikan.
Dum.
Semakin lama ritmenya semakin cepat. Kedua kubu merangsek maju bersamaan dengan teriakan komandan batalion mereka. Jenderal Eldin dan Ratu Damacena memimpin dengan berani pasukan mereka.
Cipratan darah dan sayatan senjata menyatu. Peperangan cukup besar itu pun pecah.
Adnan tanpa ampun menebas lawannya. Belati Ayn Dour di tangannya sesekali berpendar biru shafir indah. Seakan merasakan sesuatu di sekeliling Adnan. Namun sejauh ini, Adnan tak menemukan biang keladi semua ini. Morvin.
Batalion Morvin dipimpin oleh ex-ksatria elite yang ternyata cukup merepotkan. Mereka semua, Cabaye, Cole, Lescot, Trafford, Sinoin, dan beberapa yang belum dikenal Adnan. Dari pihak Oreno hanya tersisa 8 orang saja.
"Kita bertemu lagi, Pangeran." Sinoin menyapa Adnan di tengah pertempuran. Senjatanya masih sama. Sebuah katana panjang bermata satu dengan tebasan mematikan.
"Kau, Tidak mempunyai tatapan kosong. Kenapa kau di pihak Morvin? "
"Aku berbeda dari mereka semua, Almer. " Sinoin masih bergerak gesit menyerang Adnan. "Aku suka sekali gaya bertarungmu. Membuatku tidak merasa bosan. Gerakanmu cepat Pangeran! " puji Sinoin.
Adnan tidak terpancing dengan pujian Sinoin atau itu akan menjatuhkannya. Pertarungan berjalan sengit untuk beberapa saat.
"Dan, Zlip! " Sinoin membentakkan sebuah nama yang tak dimengerti Adnan. Kaki Adnan tidak bisa bergerak. Sebuah akar yang menyulur membelit kaki kanannya.
Bukankah ini Viellius milik Kan'an? Kenapa?
"Kenapa Pangeran? Kau sudah kehabisan tenaga? " Sinoin berjalan maju. Menebaskan pedangnya ke leher Adnan. Secepat sulur akar itu menarik kaki Adnan dan menyeret Adnan memasuki rapatnya hutan.
"Kan'an? Kan'an? Apa yang kau lakukan?" teriak Adnan pada sulur sialan itu. Ia semakin tertarik dan mencoba melawan dengan berpegangan pada apapun yang dilewatinya. Namun tarikan sulur itu cukup kuat. Adnan semakin tertarik ke gelapnya hutan.
Sulur itu berhenti menariknya, melepaskan belitannya dari kakinya. Tak habis pikir jika benar Kan'an yang berulah. Kenapa?
"Terimakasih Kan'an. " sebuah suara yang merdu terdengar. Suara seorang lelaki dengan intonasi dan aksen yang indah.
Adnan memandang lelaki pucat itu. Diakah Morvin?
Di tengah mereka, Kan'an terluka dan memuntahkan darah. Lelaki itu tertawa menggila. Namun tawa itu juga terdengar merdu dan melenakan.
"Kan'an? Kau Kan'an? "
"Ya Pangeran. " jawab si lelaki. "Dia adikmu. "
"Dasar bodoh!" sebuah suara lain yang sangat dikenal Adnan menimpali di tengah obrolan Adnan dan Mourvin.
"Almer, kemarilah! " pinta Morvin.
"Jangan mendekat bodoh! "
"Ayo, Majulah! Kau ingin menyelamatkan Kan'an kan? "
"Adnan. ADNAN SHAW!! Dasar kau tolol!" bentakan itu terjadi lagi.
Adnan tersadar dan menatap ke sekelilingnya. Ia melihat Sais di tengah lapang itu. Diikat dan penuh luka. Beberapa jarum mencuat dari tubuhnya. Luka-luka yang masih baru mengalirkan darah merah yang pekat.
"Sadarlah bodoh! " kata Sais tegas.
Adnan mendekati Sais yang terlihat mengenaskan itu. Perasaannya campur aduk. "Sais? Ada apa denganmu? Siapa yang melakukannya? "
Tepat saat Adnan melepas ikatan Sais, tubuh Sais ambruk di tanah. Tak kuat lagi membawa beban.
"Kau terkena hipnotis dari Zlip Sinoin. Adnan, maafkan aku. Maafkan Sinoin, adikku. "
"Apa? " Adnan ingin mencerna ucapan Sais. "Apa yang kau bicarakan Sais? Berhentilah mengoceh, kita obati lukamu! "
Uhuk.. Sais terbatuk dan darah keluar dari mulutnya. Sisa tenaganya sudah ia kuras untuk menangkal sihir dari Sinoin yang memerangkap diri Adnan. Mungkin ini adalah nasibnya sebagai kaum penyihir Offlaf. Mungkin ini adalah akhir bagi hidup Sais si Tampan.
Well, see u next Chapter...
Akankah Sais selamat? Waaa jinjja saya sudah nggak sabaaar... 😆
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro