Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bagian 37

Siap-siap dibuat terkejod lagi nih. Cerita ini emang absrud. Part sebelumnya naik, part kali ini salto. Ah, nano-nano.

Selamat membaca.

****

Begitu sampai di rumah, Elka beserta yang lainnya masing-masing mengambil duduk di ruang tamu. Elka mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, sementara itu Melody masih menatap Desca dan Ledrik dengan penuh was-was.

"Apa yang akan Kakak jelaskan tentang Tomi?" tanya Elka memulai obrolan.

Melody melepaskan tatapannya dari Desca, kemudian beralih ke arah Elka. "Waktu gue menghubungi Tomi, dia malah nyuruh gue ke apartemennya."

"Maksudnya?"

"Gue nggak tahu apa maksudnya, karena itu adalah jebakan."

Kening Elka berkerut samar. "Jebakan? Tomi membuat jebakan?"

"Bukan. Nggak begitu tepatnya. Ada orang yang berusaha menjadi Tomi mau menjebak gue."

"Oh, sial!" umpat Elka menyandarkan punggungnya dengan kasar ke sandaran sofa. "Apa itu artinya Tomi dan Andra juga sudah dibawa ke suatu tempat?"

"Gue benci ngakuinnya, tapi sepertinya iya."

Elka meremas rambutnya dengan sebelah tangan. "Sebenarnya tujuan mereka apa, sih?"

"Mengingat tadi gue sempat dihubungin, sepertinya mereka ingin gue ikut dibawa menjadi sandera."

"Apa Sam gila? Dia nggak tahu siapa Kakak?"

Melody mengedikkan bahu. "Bisa saja mereka mempersiapkan orang khusus menangkap gue?"

Elka langsung teringat Zato. Kalau lelaki itu lawan Melody, jelas Melody bakalan kalah.

"Bagaimana dengan Rimba?"

Elka menggelengkan kepalanya pelan. "Dia dibawa."

"Sebenarnya gue punya satu rencana, tapi cukup beresiko," kata Melody.

Sebelum ia melanjutkan kalimat, dehaman Desca memutuskan niat itu. Lelaki tersebut seakan meminta izin kepada dua perempuan itu untuk mengakui keberadaannya di sana. Pasalnya sejak tadi, dua perempuan itu asik bercakap bertukar informasi tanpa mengindahkan dirinya di sana.

"Sekarang hanya ada kita, bukankah sebaiknya kita jangan gegabah?"

"Gue tahu, makanya denger dulu rencana gue," balas Melody.

"Kamu menyusun rencana di saat kita tidak tahu seberapa kuat musuh?" timpal Desca lagi.

"Mereka kuat dengan adanya Sam dan Karin. Selain itu ada keterlibatan seseorang yang ya ... cukup kuat," kata Elka sengaja tak menyebut nama Zato, namun Desca memahaminya. "Ditambah pasti ada orang-orang yang belum kita ketahui identitasnya."

"Selain itu, apakah nona yakin di mana tempat persembunyian mereka?" tanya Ledrik.

Elka mengangguk ringan. "Di rumah itu, gue yakin. Pasti ada sebuah jalan rahasia menuju persembunyian mereka. Jika kembali mengingat soal ruang bawah tanah di kasus sebelumnya, gue rasa nggak sulit menebak. Sepertinya keluarga Karin ini hebat sekali soal bersembunyi."

"Iya, bahasa kasarnya, mereka pengecut." Melody mendengus sangking kesalnya.

"Dengar, aku akan membantu kalian menyelamatkan teman-teman kalian karena aku juga ada urusan dengan orang-orang itu," kata Desca, kemudian menarik napas panjang. "Aku akan membantu kalian, tapi ... kalian harus ikut rencanaku."

"Kalau rencana lo bagus, gue ikut." Elka menatap Desca serius. "Apa rencana lo?"

****

Annisa memeluk dirinya sendiri, merasa kedinginan. Bantuan jaket Sam yang tersampir di bahunya sama sekali tidak membantu, gadis itu meringkuk dengan wajah tenggelam di atas lututnya.

Giginya bergemeletuk, sepertinya gadis itu demam.

Annisa terlalu takut, perutnya kosong, udara terlalu dingin dan lembab, belum lagi pencahayaannya membuat ketakutan Annisa bertambah. Hanya sepijar lilin putih yang sebentar lagi akan ikut melebur dan mati. Gadis itu tak sanggup bertahan.

"Masih belum mau makan?" tanya Sam dari ambang pintu. Lelaki itu terus kembali setiap tiga puluh menit, padahal ia tahu Annisa tidak akan menjawab. "Lo harus makan."

Diam lagi.

Walau dengan luka yang menganga di hatinya, Sam tetap mendekat. Raut wajahnya sedemikian rupa dibuat datar untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya.

"Makan!" perintah Sam menyodorkan makanan ke hadapan Annisa.

Gadis itu balas menatapnya dingin. "Aku nggak mau."

"Makan, Annisa." Nada suara Sam mengancam.

Bukannya takut, Annisa semakin mengetatkan rahangnya. "Aku nggak mau!"

PRANGG

Sam membanting piring yang berisi makanan itu. Hal tersebut membuat Annisa berjengit kaget. Gadis itu merapat ke tembok, kedua tangannya yang terikat berada di depan lutut yang menekuk.

"Oke kalau lo nggak mau! Terserah!" bentak Sam. Lelaki itu kemudian mendekat dan mencengkram rahang Annisa erat. "Lo lagi apa? Berharap gue peduli dengan aksi mogok makan lo ini? Mimpi aja sana! Sekalipun lo mati di sini, gue nggak bakalan peduli!"

Kedua mata Annisa membelalak lebar, memandang tak percaya wajah Sam saat ini. Ekspresi dingin dan murka yang tak pernah Annisa lihat, membuat gadis itu kontan ketakutan dan kehilangan kata-kata.

"Lo benar-benar mau tahu apa gue sayang ke lo atau nggak? Jawabannya udah jelas, Nis, lo aja yang bego!"

Hati Annisa sakit dicibir demikian. Cengkraman Sam semakin kuat, tak urung membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Dengar baik-baik karena gue hanya akan bilang hal ini satu kali saja."

Mata berkaca-kaca Annisa dipaksa berada satu garis lurus dengan pandangan Sam.

"Gue ...." Sam tercekat untuk sesaat. Lelaki itu mengepalkan sebelah tangannya yang bebas, detik berikutnya tangan itu meninju tembok di samping Annisa yang kemudian membuat Annisa kaget. "Gue sayang sama lo, sialan!"

Cengkraman Sam mengendur, berganti tangan itu mencengkram pundak Annisa, kemudian kepala Sam jatuh lemas di pundak lainnya.

Jantung Annisa berdetak tak keruan, napasnya tak beraturan, air matanya merebak seiring dengan bibir yang bergetar, tak sanggup mengeluarkan kalimat.

"Gue sayang lo Annisa, makanya lo harus makan, jangan bikin gue gila, jangan paksa gue jadi orang jahat yang gagal menjadi jahat!" desis Sam. Air matanya mulai keluar, membasahi pundak Annisa.

Bisa Annisa rasakan pundaknya menghangat akibat dijatuhi cairan bening itu.

"Lo nggak tahu betapa frustasinya gue. Lo ... lo nggak tahu ...." Sam menghentikkan laju kalimatnya. Pemuda itu mengangkat kepala, beralih menatap Annisa. "Lo nggak tahu betapa gue pengen mati saat lo bilang benci gue, Annisa!"

Gadis itu tergugu. Terisak semakin kuat, perasaannya kacau saat ini. Bagaimana caranya mempercayai Sam sekarang? Bagaimana caranya ia memandang Sam sekarang?

"Jangan memulainya lagi, Sam." Annisa berbisik parau. "Aku capek, aku mohon hentikanlah. Sudah cukup kamu membodohi semua orang selama ini."

Tatapan Sam menyendu, pemuda itu tertunduk. "Kali ini saja lo harus percaya ke gue." Sam kemudian kembali menatap Annisa. "Denger gue baik-baik, Nisa. Sepuluh menit kemudian Rimba akan menyelamatkan lo. Lo harus ikut dia."

Annisa mengerutkan kening, menatap Sam heran.

"Dia akan lewat papan yang ada di atas kita sekarang."

Pandangan Annisa otomatis menengadah ke atas. Plafon ruangan ini rendah dan terbuat dari papan berukuran kecil-kecil yang tampak sudah tua.

"Kalian akan melalui jalan menuju corong tempat pembakaran rumah ini."

"Tempat pembakaran? Maksudmu—"

"Ya, corong pembakaran itu akan membawa kalian keluar."

Rumah gaya eropa kuno memang cenderung mempunyai tempat pembakaran sebagai alternatif untuk menghangatkan ruangan. Tentu saja, Annisa tak mengira tempat seperti itu akan menjadi jalan keluar.

"Lo harus kuat, corong itu nggak ada tangga. Makanya lo harus makan," kata Sam lagi. Nada suaranya rendah dan bergetar. "Gue akan suruh orang untuk bawain makanan, lo harus makan, oke? Waktu kita nggak banyak."

Saat Sam hendak berbalik, Annisa menghentikannya dengan cekalan di bahu. "Apa maksud kamu bentak aku tadi? Lalu tiba-tiba bersikap seperti ini?"

"Aku sengaja menarik perhatian Karin. Dia harus melihat cara gue memperlakukan lo."

Annisa melepaskan cekalannya, merasa sudah paham situasi. Tangan Sam terulur membelai pucuk kepalanya.

"Kalau situasinya sudah kembali membaik, ada banyak hal yang perlu kita bahas. Ada banyak hal yang ingin gue sampaikan dan ada banyak permintaan maaf yang harus gue tebus."

"Aku menunggu saat itu," jawab Annisa.

Sam mengangguk. "Sure."

"Kali ini kamu nggak boleh pergi gitu aja, kamu harus janji dulu. Janji kalau kita pasti akan kembali berbincang di situasi yang lebih baik."

Sam menatapnya agak lama, sebelum mengangguk untuk meyakinkan. "Iam promise."

****

Shippernya Annisa-Sam auto jejeritan nihh. Buat moodbooster, jawab pertanyaanku.

1. Gimana reaksi kalian saat baca momen Sam-Annisa tadi?
2. Bagian mana yang paling bikin greget?
3. Menurut kalian, gimana part kali ini?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro