Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bagian 36

Udah pada follow aku, kan? Wkwk.
Pokoknya part kali ini harus banyak komen, aku butuh asupan tenaga melalui komen antusias kalian. Karena sebulan ke depan aku bakalan sibukkkkkk bangett.

Happy reading :*

****

Elka pikir ia dan Rimba akan selamat begitu keluar dari rumah itu, nyatanya tidak. Entah berapa banyak gerombolan orang bertudung hitam yang mencegat mereka, satu hal yang jelas, orang-orang itu memang mengincar Rimba seorang. Aneh.

Seakan tak menginginkan Elka untuk mereka bawa. Tetapi, bukankah hal ini aneh? Kalaupun ada orang yang patut dijadikan sandera, tentu saja Elka paling layak. Elka adalah orang paling banyak terlibat dalam kasus ini, Elka juga yang berhubungan dengan Desca, lalu Elka juga yang berpotensi paling menghalangi misi Karin dan Sam ini.

Elka belum berhenti menangis ketika kini berada di rangkulan Desca. Ia masih mengoceh dengan suara parau mengenai Rimba.

"Kau pikir kita sedang berhadapan dengan siapa, Elka?" tanya Desca. "Orang yang kita hadapi bukan penjahat amatiran, mereka tentu punya rencana mengapa malah Rimba yang mereka incar dan bukan kamu."

"Saya setuju, Tuan." Ledrik menimpali secara tiba-tiba, membuat Elka terkejut dan semakin menempel ke tubuh Desca. Sejak kapan orang itu ada di sampingnya? "Sepertinya rencana mereka tidak lain adalah membuat Nona Elka melemah, seperti sekarang."

"Ya. Dan omong-omong, kalau mau muncul pake peringatan dulu," cetus Elka kesal sembari mengusap hidungnya yang terasa perih, terlalu lama menangis.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" gumam Ledrik, mengabaikan gerutuan Elka. "Bagaimana kalau kita kembali dulu?"

"Dan membiarkan Rimba tewas di tangan mereka?!" bentak Elka.

"Elka," panggil Desca dengan suara rendah. "Kita kembali, hanya untuk mengobati lukamu. Percayalah, mereka sudah merencanakan ini. Mereka punya Sam yang sangat mengenalmu, aku yakin situasi ini sengaja mereka ciptakan untuk memancingmu berbuat gegabah. Saranku, kita harus sedapat mungkin menghindari segala tindakan yang ingin kamu lakukan."

"Benar. Sam pasti sudah memperhitungkan Nona akan datang secepat mungkin menyelamatkan Rimba. Kita tidak boleh ikut pada tuntunan rencana mereka, Nona."

Elka terdiam, memikirkan perkataan Desca dan Ledrik yang memang sepenuhnya benar. Dia tak boleh melupakan fakta bahwa Sam adalah salah satu orang yang harus ia lawan. Dan fakta sialan lainnya adalah, Sam orang yang paling mengerti caranya bertindak menjalankan misi.

Belum sempat Elka bersuara, cahaya mobil dari arah kanan membuat ketiganya menyipitkan pandangan dan menghalau cahaya dengan sebelah tangan. Mereka baru tersadar berada di tengah jalan sejak tadi.

Mobil itu berhenti, Melody keluar dari dalamnya. Kemudian menatap Elka dengan raut terkejut.

"Elka?!" pekiknya kaget. Kemudian menatap tajam ke arah Desca yang merangkul bahu Elka. "LEPASKAN DIA!"

"Emm, K-kak ...."

"GUE BILANG LEPASIN DIA!" bentak Melody lagi, sembari menarik Elka dari rangkulan Desca. "SIAPA LO BERDUA, HAH?!"

Elka berdeham pelan, berbisik dari belakang Melody. "Emm, Kak ... aku kenal mereka kok."

"OH, JADI—eh? A-apa?" Intonasi suara Melody langsung melemah. Ia pura-pura batuk demi menutupi kegugupannya, kemudian sejenak mendelik tajam pada Elka. "Kenapa lo bisa kayak gini?"

Elka meringis. "Ceritanya panjang."

Melody melirik singkat kepada Desca dan Ledrik. "Siapa mereka?"

"Orang yang gue kenal," balas Elka. Kemudian berdeham, semakin memperkecil suaranya. "Mereka bukan orang jahat."

"Permisi ... sekarang boleh aku bicara, Nona tukang teriak?" celetuk Desca membuat Melody kontan memutar tubuh menghadapnya. "Bisa kau memberi tumpangan pada kami? Kami harus segera pulang, ada hal penting yang harus kami lakukan."

"APA YANG—"

"Kak Mel," potong Elka menarik pelan bahu Melody agar menoleh padanya. Mata Elka menunjukkan ekspresi memohon agar tak memulai perdebatan

Melody memejamkan matanya, kemudian mengembuskan napas kasar. "Fine! Lo punya banyak hutang cerita. Dan soal Tomi, ada yang pengen gue bicarakan."

"Tomi?" Elka membeo.

"Ya. Ada sesuatu yang aneh."

"Kita bicarakan di rumah." Melody mengangguk sebagai respons. Kemudian mereka akhirnya masuk ke dalam mobil dan memutuskan untuk pulang ke rumah Elka.

****

Annisa tertidur, tanpa bisa gadis itu cegah. Tampaknya rasa lelah di otak, hati, dan tubuhnya membuat seluruh sistem dalam dirinya gampang lelah. Gadis itu perlahan menggerakkan tubuhnya, sakit semua. Kedua tangannya masih terikat, kepalanya terasa berkunang-kunang. Tenaganya seakan meninggalkan tubuhnya.

Annisa lapar.

"Sudah bangun?"

Mata Annisa terbelalak, segera ia mengalihkan pandangan ke sosok yang berdiri dengan posisi bersandar di pintu besi ruangan pengap itu. Sam. Jaket kulit warna cokelat membuatnya seakan menyatu dengan dinding tanah liat yang menjadi tiap sisi ruangan berukuran sedang itu.

Annisa mengedarkan pandangan. Rantai yang menjadi pengikat di kaki Adira kini tergeletak di sampingnya. "D-di mana Adira?" tanya Annisa lemah.

"Di ruang sebelah."

Annisa mengangkat wajahnya yang sembab, masih meninggalkan jejak air mata karena tak bisa menghapusnya dengan dua tangan.

"Di ruang sebelah kiri ada Rimba, Tomi dan Andra. Di sebelahnya lagi ada Adira." Sam menjelaskan tanpa diminta. "Sudah waktunya makan. Lo nggak mau makan?"

Annisa menggerakkan kepala ke arah piring yang tak jauh di depannya. Piring aluminium yang berisi nasi dan lauk yang lumayan banyak. Ia tersenyum miris, haruskah ia bersyukur karena diberi makan layak?

"Bagaimana aku bisa makan?" Annisa menggerakkan tangannya yang terikat di belakang. "Tanganku terikat."

"Gue nggak bisa buka ikatan lo," balas Sam.

Annisa tersenyum masam. "Aku juga nggak berharap kamu membukanya. Tentu saja nggak mungkin." Hati Annisa terasa sesak saat mengucapkan itu, terlebih lagi Sam tak membantahnya sama sekali. "Kamu benar-benar memperlakukan kami seperti binatang? Makan dengan mengandalkan mulut, jadi aku harus makan sembari bertekuk lutut seperti seekor ternak?"

Sam tidak menjawab.

Air mata Annisa kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Baiklah, akan aku lakukan. Lagi pula aku memang sangat lapar."

Annisa belum sampai menunduk untuk mencapai piring berisikan makanan itu karena Sam lebih dulu menggapai piringnya, lalu duduk di hadapan Annisa.

Keduanya terdiam. Sam belum melakukan apa pun, hanya diam memandamgi makanan di tangannya, sementara Annisa pun melakukan hal yang sama.

"Gue suapin."

Annisa mengangkat wajah, menatap Sam tak percaya. "A-apa?"

"Makan. Gue suapin." Sam memulai kegiatannya dengan mencuci tangan menggunakan sedikit air minum di gelas aluminium yang tersedia, kemudian mengambil nasi beserta sayuran secukupnya. "Buka mulut lo."

Bibir Annisa bergetar saat membuka mulutnya. Suapan pertama dari tangan Sam ia terima, Annisa mengunyah dengan lambat. Mati-matian ia menahan air mata yang sedang memberontak ingin dikeluarkan.

Suapan kedua diterimanya, Annisa tak sanggup lagi.

Gadis itu menangis.

Sam juga seketika berhenti memisahkan daging ayam dari tulangnya lalu membuatnya menjadi suiran kecil seperti kesukaan Annisa. Lelaki itu menatap Annisa yang kini menunduk dan terisak kuat.

"Kenapa? Masakannya nggak enak? Mau gue pesanin yang baru? Padahal, gue pesan di tempat biasa kok."

"K-kenapa? Kenapa, hah!" Annisa mengangkat wajah, menatap Sam  tajam. "Kenapa aku perlu makan lagi, huh? Kenapa nggak kamu biarin aja aku mati, Sam?! BIARIN AJA AKU MATI!"

"Annisa ...."

"Bukannya itu yang kalian mau? Kalian pengen melihat aku dan lainnya mati 'kan? Bunuh saja aku, Sam! Bunuh aku!"

Sam melepaskan piring di tangannya, kemudian menangkup kedua bahu Annisa dengan erat. "Nis, dengerin gue ... g-gue minta maaf karena—"

"Percuma," potong Annisa cepat. Gadis itu membuang pandangannya ke arah yang berbeda. Walau ruangan itu hanya diterangi oleh satu lilin berukuran besar, tetapi Sam bisa melihat dengan jelas wajah penuh kekecewaan gadis itu.

"Oke." Sam melepaskan tangannya dari bahu Annisa. "Gue nggak akan jelasin apa-apa. Karena gue tahu hasilnya tetap sama, nggak akan ada yang berubah."

"Makanya, kalau begitu jelasin ke aku kenapa kamu lakukan ini?"

"Gue ... nggak bisa."

Tersenyum miris, Annisa menggigit bibirnya demi menghalau isakkan. "A-aku dingin, dingin banget hiks ... d-dingin banget, aku capek."

Sam langsung melepaskan jaketnya kemudian memindahkannya ke bahu Annisa yang terus menangis. "Lo makan, ya? Waktu gue nggak banyak, Nisa."

Annisa masih terus saja menangis, tak menjawab perkataan Sam.

"Nisa ... makan, ya?"

"Aku kira kamu beneran sayang aku, Sam!"

DEG

Napas Sam tercekat.

"AKU KIRA KAMU BENERAN SAYANG AKU, SAM! PEMBOHONG! PENIPU! AKU SEKARANG TAHU BAGAIMANA DEFINISI ORANG BERENGSEK! KAMU ORANGNYA! KAMU BERENGSEK!"

Tubuh Sam kaku, tatapannya kosong menghadap wajah merah Annisa. Jeritan itu sangat menusuk dan melukai hatinya. Sam bahkan kesulitan menelan ludahnya sendiri, bernapas pun terasa sulit sekarang.

"Aku bodoh karena masih saja menganggap kamu mungkin khilaf. Aku masih nggak percaya saat jelas-jelas kamu membawaku ke sini, menjadikan aku sandera! HARUSNYA AKU TAHU KAMU BERENGSEK! NGGAK SEHARUSNYA AKU BERHARAP INI SEMUA MIMPI! INI MEMANG NYATA! KENYATAANNYA KAMU HANYA SEORANG BAJINGAN!"

Sam berdiri, memundurkan langkahnya dengan pelan. Hatinya sakit mendengar itu. Sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu, sederet kalimat dari Annisa membuat dunianya berguncang hebat.

"Aku benci kamu Sam. Aku benci diriku sendiri karena harus jatuh cinta dengan bajingan seperti kamu! Aku harap aku lenyap dari muka bumi daripada harus mengenal orang sepertimu!"

Detik itu juga Sam tahu, harapannya bersama dengan gadis itu telah sirna. Lenyap. Terbumihanguskan oleh keadaan.

Sam hancur.

****

Halo, semua!

Tolong dijawab pertanyaan-pertanyaannya, ya.

1. Bagaimana pendapat kalian dengan part kali ini?

2. Bagaimana ceritanya sejauh ini?

3. Harapan kalian dengan endingnya gimana? (Mau lihat kira-kira ada yang sependapat dengan aku atau enggak)

4. Kalau kalian ada di posisi Annisa, apa yang kalian lakukan?

5. Kalian tim Annisa-Sam?

6. Kalian tim menolak Annisa-Sam?

7. Apa yang kalian harapkan dengan hubungan Annisa Sam?

8. Apa yang kalian harapkan dari hubungan Elka-Rimba?

9. Gimana dengan Desca?

Maaf banyak tanya. Sekali lagi, aku pengen terhibur aja dengan komenan kalian. Akhir2 ini kayak lelah banget, wkwk. Thanks buat yang baca, vote, dan komen tiap partnya. Kalian luar biasa.

Best regards
Emeliiy

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro