Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bagian 18


Elka termenung memikirkan perkataan Desca malam itu. Setelah melontarkan kata-kata yang masih sulit dinalar oleh Elka, semua kembali seperti sedia kala. Teman-temannya tersadar dengan ingatan bahwa mereka sudah terselamatkan oleh keberadaan Desca. Teman-temannya bersikap seperti biasa, sementara Elka sering kali merenung penuh tanya.

Siapa Elka?

Bahkan pertanyaan itu sering muncul di benaknya. Bukankah ini lucu? Pernahkah kamu meragukan dirimu sendiri? Pernah merasa seakan kamu tidak mengenal dirimu sendiri?

Sungguh anomali. Bagi Elka, kehidupannya selama ini memang cenderung tanpa rencana. Elka bertindak impusif, tidak terlalu ingin ambil pusing. Elka bukan tipe yang ribet, karenanya sering kali Elka tak minat bersusah payah mengingat masa lalunya.

Hal yang Elka tahu, dia mengalami trauma pasca tewasnya sang bunda dalam sebuah kecelakaan yang terungkap kebenarannya pada kasus yang pernah Elka selidiki. Trauma yang cukup berat itu membuat sebuah sugessti yang salah pada dirinya, hingga sebagian ingatan bersama bundanya terlupakan. Hal ini dikarenakan sisi lain dari diri manusia mempunyai sistem pertahanan, Elka nyaris mengalami yang namanya alter ego.

Untung saja, sebelum depresi tak berujung, Elka segera ditangani oleh psikiater andal. Dari sana juga Elka banyak belajar tentang membaca ekspresi wajah manusia.

Elka kira, setelah depresinya berangsur hilang berarti hidupnya bisa kembali normal. Nyatanya tidak sepenuhnya demikian.

Memang benar, terkadang kenyataan sangat berbeda dari ekspetasi kita.

Elka masih punya ketakutan tersendiri dengan ruang tertutup, gelap, dan sempit, walau masih bisa diatasi. Elka juga belum sepenuhnya bisa mengingat tentang masa kecilnya.

Tetapi, melihat bagaimana mudahnya Desca dan Ledrik menghapus ingatan teman-temannya malam itu, membuat otak Elka kembali bekerja.

Apakah yang dialaminya sekarang adalah trauma, atau ... ada seseorang yang sengaja menghapus ingatannya?

Astaga!

Elka mengusap wajah dengan kasar. Pemikiran macam apa ini?

"Elka?" Panggilan itu menarik Elka sepenuhnya dari dunia khayal. Gadis itu menoleh cepat, mendapati Rimba yang duduk merapat padanya. "Lo kenapa?"

"Hah, apanya?"

"Dari tadi gue lihat lo ngelamun." Pemuda itu menjulurkan tangan, mengusap jidat Elka yang mengerut dalam. "Jangan keseringan berpikir berat gini, nanti lo sakit."

Elka melirik cowok itu lagi. "Omong-omong, lo ngapain di sini? Kenapa nggak bareng yang lain? Dan sejak kapan lo di sini?"

Rimba menurunkan tangan dari jidat Elka, namun tangan tersebut terulur di sandaran sofa, sehingga jika hanya sekilas kelihatannya Rimba sedang merangkul Elka. Kedekatan itu tak membuat keduanya canggung lagi.

Hell, setelah semua yang pernah terjadi, apakah pantas jika masih canggung?

"Gue sengaja dateng lebih dulu. Sejak malam itu lo jadi lebih banyak diam. Gue takut, ada yang terlewatkan dari pandangan gue. Apa yang ada di otak lo, El? Sesekali jangan jadi perempuan keras kepala. Lo bisa sepenuhnya membagi itu dengan gue." Suara Rimba lembut, tatapannya memaku Elka agar terus mendongkak padanya.

"Gue ...." Elka menggantung ucapannya, menarik senyum perlahan. "Gue nggak apa-apa, Rimba."

"Terus kenapa lo banyak diem?"

"Gue lagi PMS," balas Elka asal.

Giliran Rimba yang mengerutkan kening, pemuda itu agak menjauhkan wajahnya agar bisa memperhatikan gelagat Elka lebih jelas.

"Perasaan jadwal tamu bulanan lo seharusnya udah lewat seminggu yang lalu deh."

"Hah?" sahut Elka terkejut. "Kok lo tahu?!"

Sekarang Rimba mendecak, menatap gadis itu dengan seringai. "Menurut lo hanya sekali atau dua kali doang gue kena semprot karena masa PMS sialan lo itu?"

Elka tertawa, terbahak-bahak hingga harus membungkuk memegangi perutnya. Kedua netranta berkaca-kaca tak bisa menahan geli melihat ekspresi sebal yang lucu versi Rimba.

"Aduuhh, nggak sadar gue." Elka masih berusaha meredakan tawanya, hingga berdetik-detik berlalu intonasi tawanya menurun normal. "Ternyata lo cukup jeli juga ya."

Rimba memutar matanya kesal. "Terserah tuan putri aja."

Lalu keduanya terdiam, menikmati hening yang menenangkan. Hingga beberapa saat berlalu dengan senyap, Elka memandangi Rimba yang ternyata sedang memandanginya pula.

Kening Elka terangkat sebelah. "Gue secantik itu?"

"Iya," jawab Rimba mengangguk ringan.

Elka terkekeh. "Sejauh apa lo kenal gue, Rim?"

Pertanyaan itu membuat tatapan Rimba diselimuti kebingungan. Namun, soror serius dari gadis cantik itu membuat Rimba mengerti bahwa ini bukan sekadar pertanyaan iseng. Rimba mengubah duduknya menyamping, sepenuhnya menghadap Elka. Kedua kakinya dinaikan ke sofa, disilangkan agar bersila.

"Mungkin gue bukan keluarga terdekat lo, bukan juga teman terdekat lo, apalagi teman sepesial." Rimba menjeda dengan batuk kecil, membuat Elka harus mendelik. "Tapi, sebagai orang yang nyaris setiap hari barengan sama lo, menjadi orang yang lumayan banyak denger cerita dari lo, gue menyimpulkan beberapa hal."

Elka tertarik.

"So?"

"Elka orang yang dinamis. Bukan moodnya yang labil, tetapi orangnya yang memang gampang menyesuaikan. Bakalan marah ketika dibuat marah, bakalan senang ketika diperlakukan dengan baik, bakalan rese dengan orang jail. Pokonya lo orang yang bisa mengikuti emosi seseorang. Waktu awal-awal gue kenal lo, gue langsung nyimpulin satu hal bahwa lo orang yang perfeksionis. Tetapi nyatanya enggak." Tatapan Rimba menerawang ke depan, menatap layar datar televisi di ruang tamu itu yang sedang dalam mode off. "Lo tipe yang sederhana. Lo cantik, tapi seakan nggak menganggap cantik itu sesuatu yang dibanggakan. Lo pinter, tapi nggak pernah terlihat mencolok. Lo nggak suka basa basi, tapi juga nggak jutek. Menurut gue sebenarnya lo nggak cuek, hanya saja keadaan yang kadang membuat lo harus bersikap demikian."

Tatapan Rimba teralih kepada Elka lagi. "Lo bisa bela diri, lo bisa jadi perempuan super cantik, lo smart. Lo ... ah, gue akan ngulangin kata-kata gue dulu. Lo sehebat itu sampai-sampai rasanya gue nggak bisa ngimbangin lo."

Elka tertegun untuk sepersekian detik detakan jantung yang menggila.

"Bagaimana kalau ...." Elka menelan silava dengan kasar. "Bagaimana kalau ternyata gue nggak seperti penilaian lo?"

Rimba tersenyum. "Lo mau berubah? Pengen jadi seperti apa? Gue penasaran dengan cara apa lagi lo buat gue jatuh cinta." Senyuman Rimba semakin lebar seiring Elka yang semakin gugup. "Mau lo seperti apa pun, El. Hati gue selalu percaya ... pada akhirnya, hati gue akan memilih lo untuk menjadi persinggahan terakhir. Bukan hanya ketika lelah, tapi karena merasa sudah waktunya menetap."

Elka sampai harus mengerjapkan matanya beberapa kali. Di depannya ini Rimba, kan?

Gugup, Elka menolehkan pandangannya ke segala arah.

"Gue tahu lo nggak siap buat hal-hal seperti ini." Rimba tersenyum dengan sikap tenangnya. "Gue siap nunggu. Jangan tertekan dengan ungkapan gue barusan. Kita masih tetap berteman, seperti biasa."

Itu sama sekali tidak bisa membuat perasaan Elka tenang.

Elka mengembuskan napas panjang, melirik Rimba yang menatap ke depan dengan sarat yang tak bisa dibaca. Gadis itu mendesah lagi, kemudian semakin merapatkan diri dan meletakan kepalanya di bahu Rimba. Pemuda itu sempat menegang, walau tak lama berselang menjadi rileks, bahkan sebelah tangannya terulur merangkuk bahu Elka.

"Gue butuh lo. Nggak tahu harus mendeskripsikan perasaan gue seperti apa. Tetapi yang jelas, gue butuh lo."

Dan buat Rimba, kalimat itu sudah cukup. Ya, cinta tidak mengenal egoisme. Karena egois hanya akan berujung pada perasaan kecewa dan sakit.

Tanpa mereka ketahui, adegan sederhana itu menjadi dramatis karena adanya sepasang mata yang mengawasi dari balik tembok di belakang mereka.

Desca gagal meneruskan langkahnya ke dapur saat melihat adegan itu. Ucapan Elka tadi menganggunya. Entah untuk alasan apa, seakan ada ribuan belati yang menyerang secara bersamaan. Desca memegang dadanya, dia bahkan bisa merasakan jantungnya yang terpacu menyesakkan.

"Ini tidak benar," ucap Desca lirih, memejamkan mata.

****

Elka sedang menyiapkan sarapan paginya, saat Desca mucul bersama Ledrik. Keduanya bersiap berangkat sekolah.

Senyum Elka mengembang begitu saja. Gadis itu memutari meja bar menuju meja makan dengan membawa nampan dua jus jeruk dan satu cangkir teh.

"Good morning, all!"

"Wah, Nona terlihat lebih ceria hari ini," sahut Ledrik ketika berhasil mendudukan bokongnya.

Elka tersenyum sombong. "Iya dong!" Gadis itu meletakan minuman milik Ledrik, kemudian menuju Desca dan meletakan cangkir teh di depan pemuda itu. "Good morning, Tuan!" ujar Elka dengan nada jenaka.

Ledrik tersedak minumannya, lelaki itu menatap Elka horor sementara yang ditatap hanya terkekeh dan duduk di kursinya, berhadapan dengan Desca yang senantiasa memasang wajah datar.

"N-Nona?" Suara Ledrik bergetar. "Kepala Nona baik-baik saja, kan?"

"Baik. Sangat baik," balas Elka.

Ledrik melirik Desca ragu. Mendapati wajah tak bersahabat Desca, Ledrik yakin ada hal yang sudah ia lewatkan.

Ledrik mendenguskan napas panjang, kemudian kembali membawa gelas jus jeruknya ke mulut.

"Kamu sebahagia itu?" tanya Desca dingin. "Dengannya kamu begitu mudah tertawa, kenapa tidak bersikap sama denganku?"

Kedua kalinya Ledrik tersedak. Kali ini lebih parah, hingga terbatuk-batuk. Ledrik mengusap bibirnya yang masih menyisakan jus jeruk. Bergantian ia menatap Desca dan Elka.

"Maksud lo?"

Senyum sinis Desca bermakna tak baik. "Kau bersikap manis kepada orang lain, sementara kepadaku justru sebaliknya. Sebenarnya ... apa yang membuatmu begitu sulit menerima keberadaanku, heh?!"

"Maksud lo apa, sih?" tanya Elka benar-benar bingung. "Kita udah pernah bahas hal ini. Gue terima kalian, itu faktanya. Bukannya setiap hari kita juga berantem? Lo tahu gue suka kasar omongannya, tapi lo baik-baik aja dan nggak mempermasalahkan itu. Kenapa justru sekarang lo sewot dan membanding-bandingkan sikap gue ke lo dan ke orang lain?"

Tatapan Desca menajam. Sinar amarahnya terpancar hingga soflens tak mampu membendung warna kemerahan di sana.

"T-Tuan ...." Ledrik menegur takut-takut.

Desca berpaling kesal. Wajahnya dingin. "Sudahlah. Seharusnya aku tahu bahwa mengobrol denganmu akan selalu membawa pada perdebatan. Lagi pula, aku bingung betapa bodohnya dirimu."

"Apa lo bilang?" Elka berdiri dari duduknya. "Sebenarnya ada apa? Oh, apa jangan-jangan lo masih kesel karena malam itu gue nggak nanggepin apa-apa? Lo pikir mudah buat gue, huh? Lo itu—"

"Sudahlah." Desca berdiri dari kursinya, diikuti Ledrik. "Aku akan berangkat duluan. Lagi pula, aku yakin pemuda jelek itu akan menjemputmu, iya kan, pelayan?" dengus Desca dengan nada mencibir.

Elka melongo.

Ledrik pun sama, namun lelaki itu tetap menyusul Desca yang sudah berjalan lebih dulu menuju pekarangan depan.

"Dia tahu dari mana kalau gue berangkat bareng Rimba?" Elka berpikir sebentar. "Apa jangan-jangan?" Kemudian gadis itu meringis. "Sial banget!"

DRRRTTTTTT DRRRTTTTT

Getaran singkat mengalihkan perhatiannya ke ponsel yang terletak di atas meja itu. Elka meraihnya dan membaca sebuah pesan dari aplikasi whatsApp.

Ayah
Ayah akan sampai ke Indonesia besok. Tumben mau Ayah cepat pulang, ada apa?

Elka tersenyum samar, kemudian mengetikkan sebuah balasan.

Elka
Ada yang mau Elka tanyakan. Maaf kalau aku udah bikin jadwal ayah berantakan.

Ayah
No, problem, princess. Tunggu ayah di rumah besok.

Elka mengantongi ponselnya, tersenyum lagi. Semoga dengan kepulangan ayahnya nanti, dia bisa mendapat semua jawaban teka-teki yang sulit dinalarnya selama ini.

****

Adegan teenfic banget ya, sama bumbu kecemburuan dikit. Anggap istirahat sebelum meluncur ke part selanjutnya yang bikin otak terkuras.

Udah baca notice di atas? Jangan lupa mampir, lho. Yakin nggak nyesel kok bacanya. Tim gue itu terbangun dari penulis romance-thriller. Jadi, gila-gilaan banget alurnya. Ini rekomended banget dari gue, serius. Bakal up 2 kali dalam seminggu, guys!

Selamat berpuasa.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro