Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bagian 15

Koreksi typo, ya. Maaf berantakan soalnya dibuat ngebut hanya dalam 30 menit. Baca note di bawah, itu lumayan membutuhkan komen kalian.

****

Elka sangat bersyukur karena malam ini tidak perlu bertemu Desca. Entah kemana lagi dua makhluk non manusia itu, yang jelas mereka pasti sedang melacak keberadaan ras werewolf yang sudah menyusahkan dunia mereka dan juga mengacaukan dunia manusia, tentu saja.

Elka, Rimba, Adira dan Andra melongo saat melihat peralatan asing di pandangan mereka. Sementara, Sam dan Annisa adalah orang yang paling antusias membongkar alat-alat itu. Elka mengatupkan rahangnya yang terbuka sejak tadi, kemudian berpindah duduk di samping Annisa. Mereka telah berpindah dari rumah pohon menuju ruang tamu rumah Elka.

"Ini semua apaan?"

Annisa tersenyum kalem. "Alat penyadap!" Gadis itu mengangkat alat berwarna silver dengan bagian tengah yang transparan menampilkan warna keunguan di dalamnya. Seperti jam pasir, versi kecil. "Ini bisa kita tanamkan di depan rumah Karin, fungsinya menyadap seluruh aktifitas yang berhubungan dengan jaringan internet atau listrik. Canggih kan? Ini semacam kotak hitam di pesawat."

"Wahh, lo dapet ini semua dari mana?" sahut Andra penasaran.

Menjawab hal itu, Annisa menghentikan gerakan tangan lalu saling bertukar pandangan dengan Sam. Keduanya tersenyum denga maksud yang sama. Diam-diam, Rimba merasa merinding. Dua orang ini kalau mau jadi stalker profesional pasti akan sukses besar. Ah, apalagi kalau jadi agen penyelidikan. Rimba segera menggeleng untuk mengusir pikiran konyol itu.

"Seperti biasa, masing-masing pakai alat komunikasi. Kali ini lebih kecil," jelas Sam, kemudian membagikan sebuah alat yang bisa menempel pada kulit. Begitu kecil dan tipis. "Tempelkan di belakang telinga, dia akan menempel dan mengikuti warna kulit. Tekan untuk mengaktifkan."

Semua orang di sana menuruti intruksi tersebut.

"Tes ... tes!" Andra berujar dengan sengaja berteriak.

Rimba meringis. "BEGO! PELAN-PELAN!"

Andra nyengir konyol menanggapi itu. Dia kan hanya mengetes doang, Rimba ini sensitif.

"Ayo berangkat!" seru Sam saat selesai menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. "Sesuai rencana, Andra dan Adira tetap di pos penjagaan di luar rumah. Gue, Annisa, Rimba dan Elka akan masuk dan pasang semua alat pengintai. Rumah ini kosong, seharusnya mustahil ada orang di sana. Mungkin, itu hanya diguakan sebagai basecamp oleh komplotan pembunuh ini."

"Siap!" sahut mereka kompak.

>>><<<

Kedengarannya saat mengatur rencana kegiatan ini akan seru-seru saja, kenyataannya tidak. Menyeramkan rasanya berada di rumah kosong berukuran besar dengan furniture yang sudah tua seperti ini. Kalian tahu? Rasanya seperti sedang berlakon untuk film horor.

Enam remaja itu berhenti di pekarangan depan rumah tersebut. Sam mengarahkan senter kecilnya ke arah pintu utama rumah itu yang berdiri kokoh dan tinggi, berwarna cokelat dengan ukiran-ukiran kuno. Kotak yang menyerupai tas kantoran diletakan Sam di atas rerumputan, dia membukanya sembari menggigit senter kecil untuk menerangi alat-alat yang akan diambilnya.

"Rimba dan Elka, sebaiknya lo berdua pasang kamera kecil ini di sekitar tempat ini, lumayan luas juga ternyata halamannya."

Elka dan Rimba mengangguk dan menerima alat tersebut.

"Andra dan Adira, sebaiknya kembali ke depan dan awasi keadaannya. Rumah ini terkonfirmasi kosong, tetapi bisa saja ada yang datang."

"Siap!" Kakak beradik itu segera beranjak keluar.

Tersisa Sam dan Annisa, dua orang itu tengah berjongkok dengan masing-masing menggali tanah dengan bor kecil, membuat lubang yang cukup menanam alat penyadap seluruh aktifitas elektronik di sekitar rumah itu.

"Nis," panggil Sam membuat Annisa mengalihkan pandangannya kepada pemuda itu. "Lo nggak bakal dicariin? Udah ngasih kabar ke nyokap lo?"

Annisa sedikit mengeryit karena pertanyaan itu. "Gampang kok, bunda orangnya nggak bawel."

"Gue tahu, tapi biar bagaimana pun harusnya lo kabarin, biar dia tahu posisi lo."

Annisa tersenyum. "Iya, Sam. Makasih."

Keduanya kembali berkutat dengan alat penyadap itu, menanamnya dengan hati-hati dan berusaha agar bekas galian mereka tidak menimbulkan tanda mencurigakan.

"Sam, kita udah beres masang kamera pengintai sekitar sini. Kita masuk aja?" tanya Elka.

Sam mengangguk, kemudian berdiri. "Iya, kita masuk sekarang."

Meninggalkan pekarangan depan, empat remaja itu masuk ke dalam rumah. Tak ada kesulitan berarti saat mencoba membuka pintu utama yang terkunci. Annisa dengan otak jenius yang kadang polos tak tertolong itu dengan mudah membukanya menggunakan besi sekecil lidi yang ia buat bengkok.

"Sejak kapan lo belajar cara bobol pintu?" tanya Rimba cukup takjub saat mereka memasuki rumah itu.

Annisa terkekeh, kembali memasukan besi ke dalam kantong bajunya. "Biasalah, aku emang multitasking."

Sam dan Elka mencibir geli.

"Udah, ayo pakai sarung tangan. Jangan sampe ninggalin jejak," kata Sam kemudian menyerahkan masing-masing sarung tangan untuk tiga temannya itu.

"Rumah ini luas," ucap Elka sambil memasang sarung tangan. "Sebaiknya kita berpencar. Gue dan Rimba akan ke lantai atas, lo berdua di lantai ini saja."

Annisa dan Sam mengangguk setuju, kemudian mereka mulai membagikan kamera cctv yang akan dipasang. Sam memberikan instruksi singkat seputar memasang kamera cctv, lalu Rimba dan Elka dengan cepat memahami.

Mereka berpencar dengan masing-masing tugas dan kewaspadaan yang tinggi.

"Sam, apa kita ke kamar-kamar dulu saja?" tanya Annisa.

Sam yang memegang senter kecil, akhirnya mengarahkan cahayanya ke wajah Annisa. Gadis itu langsung mengeryitkan mata. "Iya."

"Nggak usah senter wajah aku yang cantik ini, ntar kamu naksir aku nggak tahu tanggung jawabnya gimana!" gerutu Annisa dengan nada bercanda yang kental.

Sam tertawa singkat, mereka belum beranjak juga, malah sekarang Sam memandangi wajah Annisa yang diterpa bias-bias cahaya dari jendela ruang tamu itu, tirai penutup jendela itu berkibar-kibar akibat angin malam yang cukup kencang malam ini.

"Sam!"

"Hah?" Pemuda itu terkaget, kemudian berdeham salah tingkah. "Oh, sorry. Ayo ke kamar sana dulu!" Sam menunjuk kamar yang paling dekat dari ruang tamu, pintunya berwarna hitam polos.

Annisa menyetujui dengan anggukan. Keduanya masuk, membuka pintu dengan sangat pelan padahal tahu tak ada orang di sana. Pemandangan kamar yang polos menyambut mereka. Hanya ada satu kasur di sana, tak ada apa-apa lagi. Bahkan tak ada foto yang bergantung, atau lemari pakaian. Annisa dan Sam berdiri mematung dengan perasaan bingung.

"Kita pasang kameranya di mana dong, Sam?" tanya Annisa pelan.

Sam menggaruk kepalanya ikut bingung. "Gue nggak tahu, Nis. Enaknya di mana?"

Annisa memasuki kamar lebih dalam, memindai kamar itu dengan saksama. Benar-benar polos. Cat dindingnya hitam legam, kasur dengan seprai warna senada lalu satu bantal dengan sarung warna yang sama. Menyeramkan.

"Siapa yang tidur di kamar menyerakan seperti ini?" Annisa bergedik ngeri memikirkannya.

"Kita pasang di pintu kira-kira kelihatan?" tanya Sam.

Annisa mendekat lagi pada lelaki itu. Sam yang sedang memerhatika daun pintu tersebut, menoleh ke samping. Annisa berdiri dengan tatapan menilai.

"Sepertinya kalau kita sedikit merekatkannya tidak akan kelihatan." Annisa kemudian menatap Sam yang juga menatapnya. "Kita pasang di sini saja."

"Nisa, lo mau tahu cara bertanggung jawab yang tepat?"

Annisa mengerutkan keningnya dalam, memandang Sam dengan wajah terkejut dan tidak paham.

"Soal tadi. Bertaggung jawab kalau gue naksir."

"Oh ...." Suara Annisa sumbang. Gadis itu bergerak salah tingkah, lalu memasang senyum terpaksa. "Ha ha, a-aku bercanda kok. Lagian kan mana mungkin kamu—"

"Mungkin aja," potong Sam cepat. Annisa diam. Pemuda itu menatap Annisa intens, sehingga yang ditatapan hanya bisa menunduk, malu. "Lo kenyataannya emang cantik. Kenyataan selanjutnya lagi ... gue naksir ke lo, jauh sebelum lo mengaku cantik tadi."

Suasana menjadi sangat hening. Bahkan Annisa merasa ia menahan napas untuk beberapa saat. Kepalanya bergerak kaku saat berpaling membalas tatapan Sam, beberapa kali gadis itu mengerjap lambat.

"Masih mau tahu bagaimana caranya bertanggung jawab?"

Annisa terbata saat menjawab, "Hah?"

"Jadi pacar gue."

"Hah?" Kali ini wajah Annisa lebih terlihat bodoh. "A-apa? Hah? Maksudnya?"

Sam menghela napas pendek. Gadis itu kadang bikin geram. Asal dia tahu saja, dari tadi di balik sikap santai dan datar Sam, dia itu sangat gugup. Sam bisa merasakan kedua tangannya dingin. Lelaki itu bahkan tidak sadar telah mendorong pintu hingga tertutup. Mata mengerjap pelan dari gadis berhijab di sampingnya, sukses membuat napas Sam berembus berantakan.

"Guys!"

Belum sempat Sam memperjelas maksudnya, suara Andra menginterupsi dan menganggetkan keduanya.

"Ada yang datang! Sembunyi!"

Dan kalimat itu sukses membuat Sam dan Annisa berpandangan dengan wajah terkejut, dan detik selanjutnya umpatan Elka terdengar dari alat komunikasi.

Seketika Sam ikut mengumpat, dia baru ingat bahwa semua yang dia ucapkan tadi juga terdengar oleh teman-temannya yang lain.

Terkutuklah alat komunikasi canggih yang dipesannya dari Rusia itu!

>>><<<

Helo, iam come back!

Lama ya? Ehe, miane. Jadi guys, sebenarnya aku mau menghiatuskan cerita ini dulu selama ramadhan. Kenapa? Karena aku akan ada project selama ramadhan di akun keduaku, judulnya : Fatimah, Hakuna Matata. Nanti mampir ya, kalau nggak mampir nanti aku ngambek dan males update. (Bercanda).

Tapiiiiiii, aku mau lihat antusias kalian dulu. Soalnya kemarin ada yang sampe DM pengen update. Aku nggak tega juga mengabaikan permintaan kalian, jadi mungkin akan tetap aku lanjut selama ramadhan tapi nggak intens.

Setuju lanjut atau hiatus aja dulu?

Nahh, gimana momen Sam-Annisanya? Maaf nih kalau kurang skinship, ingat! Annisa pake hijab. Berteman dekat dengan lelaki mungkin nggak apa-apa, tapi kalau sampai ada hubungan intens dan intim, itu bukan Annisa banget. Selain dia anak yang alim, kalian harus ingat juga dia rada polos dan nyaris bego soal begituan. Maklumi anak emak, ya!!!

Salam,
Emak Annisa-Sam

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro