88 • Bulan Bertanya Pada Langit
Gemintang duduk di kursi yang warnanya biru bak lautan. Dia tertidur, gadis itu mengamati lekat dari ranjang tempatnya berbaring—ia tidak mengerti mengapa semua tiba-tiba terasa gelap—terasa menyakiti—hingga ia rengkuhkan tubuhnya pada punggung kuat bak ksatria berkuda.
Gemintang menunggunya—membawanya pergi—membuat air mata itu jatuh ke pipinya. Bisakah dia berhenti peduli? Bisa enggak sih laki-laki tolol itu jauh dari hidupnya? Semua yang dia lakukan enggak akan ada gunanya sekarang jika di dekat gadis murahan ini. Itu hanya menambah masalah.
Gemintang bodoh karena tidak mengikuti ujian hanya untuk menggendong perempuan tidka tahu diri ini ke ruang kesehatan, Gemintang beneran bodoh jika dia masih peduli pada gadis yang terobsesi sama laki-laki, dan gadis sok cantik ini lebih bodoh karena dia tidak bisa berbuat apapun untuk Gemintang yang selalu ada untuknya, mengapa dia baru sadar kali ini?
Gadis murahan itu tidak ingin Gemintang dipukuli lagi, gadis tolol ini tidak ingin laki-laki itu disakiti lagi. Maka dia berjalan pergi dari ranjangnya, meninggalkan Gemintang yang tertidur di kursi biru.
Wajahnya terlihat lebih baik saat matanya tertutup, embusan napasnya terasa bagai angin di pagi hari saat ia mengayuh sepedanya. Ia tatap lekat alis tebal milik pria itu, merapihkan rambut depannya yang berantakan.
"Kuda nil?" bisiknya pelan. "Cemen."
...
Air mata itu membasahi dua bibir yang menempel satu sama lain bagai kotoran di kebun binatang, Bulan cuman gadis murahan yang ciuman pertamanya diambil oleh laki-laki sialan. Bibir itu menggigit bibir atasnya, membiarkan laki-laki di depannya menciuminya. Ia embuskan napas beraroma rokok sialan itu di telinganya.
Harusnya ia teriak, harusnya ia pukuli bibir sialan itu, harusnya ia lakukan apapun agar dirinya berhenti menjadi gadis murahan yang dibilang semua orang. Namun Gemintang ada di pikirannya, dia lihat astronot di televisi itu Gemintang, dia lihat Bintang di sana juga, menjadi ilmuwan pembuat roket yang diwawancarai di televisi. Bulan menangis karena dia bahagia.
Dia lihat seluruh bintangnya, maka ia biarkan ciuman itu menempel di bibirnya. Bahkan bila darah keluar dari bibir murahan ini. Ia akan tetap bertahan untuk semua bintangnya.
"Aku 'kan udah bilang, Kuda Nil. Jangan deketin Gemintang lagi. Kenapa sih kamu masih aja caper sama dia? Di punggung dia?
"Kamu milik aku."
Air mata itu terus menetes di pipinya hingga bibirnya yang merah, tidak ingin berhenti, entah sampai kapan. Kamar mandi tidak lagi terasa dingin. Terasa sampai tenggorokan hingga ingin memuntahkan semuanya.
"Sekarang kamu jadi milik Nata, ya. Aku udah capek.
"Kalo kamu masih kayak gini."
Nata di sana, di antara suara dedaunan dan burung yang memanasi. "Gua serahin cewek cantik ini buat lu, Ta. Jaga dia baik-baik."
"Lo serius?"
Rangga mengangguk. "Cium dong."
Maka giliran Nata kali ini yang menciuminya, lembut namun begitu menyakiti. Ia remas area vital belakang milik gadis itu, berkata. "Cantik banget."
Laki-laki tolol itu memfoto dua bibir yang menempel, tertawa—cekikikan. Matahari bahkan tidak tenggelam karenanya. Rembulan membiarkan, karena ini yang hanya bisa ia lakukan untung seluruh bintang.
"Jauhin Gemintang tolong ya cantik.
"Kamu enggak mau kan dia kita pukulin lagi?
"Nah gitu dong, cantik.
"Kamu cantik banget deh."
Ia biarkan sekali lagi bibir sialan itu menempel di bibirnya.
Dia benci cantik, harusnya dia terima saja kalau dia gadis jelek yang cuman bisa bermimpi tentang pangeran berkuda, harusnya sadar sedari awal ia terlalu jelek untuk dunia, harusnya dia tahu bahwa tidak akan ada perubahan meski dirinya secantik dewi mitologi.
Hari-hari berikutnya ia benci cantik, ia biarkan jerawat tumbuh di pipinya, ia makan kembali semua tepung dan minyak itu dan biarkan pipinya mengembang sejak awal.
Karena yang terjadi selama itu hanyalah ujian, mencium bibir sialan itu dan menangis, kemudian mengulanginya setiap hari. Namun yang Bulan tahu dia hanya harus tetap mengikuti setiap ujian, agar nilainya baik hingga ujian nasional terakhir, agar semua bintang itu terwujud di hati.
Bulan bertanya pada langit, bisakah dirinya menjaga rasi bintang di hati?
...
an
sakit, yang nulis sakit, karena dia juga enggak bisa berbuat apa-apa buat seluruh benda di langit dan lautan. dia cuman cowok sialan yang coba nulis buat nutupin kebusukan hati nya sendiri.
salam,
laki-laki sok puitis
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro