Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

67 • Bulan Itu Mulai Meninggalkan Sinarnya

Pagar makan tanaman, satelit yang semua orang tahu hanyalah seorang sahabat munafik yang menyakiti hati sahabatnya sendiri. Bulan bahkan tahu betapa rendahnya dirinya sekarang. Namun, Bulan sudah bertekat, memar di pipinya bukti bahwa dia sudah lelah. Dia hanya ingin belajar dan menjalani hari dengan tenang--kemudian lulus dari sekolahnya yang memuakkan dan mencari pekerjaan yang lebih pantas untuk dirinya dan Bintang.

Perempuan itu cuman mau itu, serius. Maka ketika setiap orang di sekolah memandanginya dengan tatapan merendahkan, dan bergunjing tentang betapa murah dirinya, gadis itu seperti biasanya, dia tidak peduli--apapun lagi. Namun kali ini, kepalanya tidak menunduk--penuh percaya diri bahwa dirinya kuat--bahwa dirinya gadis terkuat yang pernah ia ingat.

Hingga kopi susu itu menumpahi seragamnya, mengotori kemeja putih yang ia miliki satu-satunya. Mereka tertawa--sahabat-sahabatnya--yang merundung dirinya--yang menghancurkan hatinya. Namun haya satu orang yang tidak terlihat.

"Jalan pake mata dong, Kuda Nil!" Salma menyemprotnya lebih dulu. "Lihat gak es kopi gue tumpah?! Emangnya lo mau gantiin?"

Shania tertawa. "Untung enggak kena baju lu, ya, Sal. Kalau kena emang dia mampu bayar laundry nya juga?"

Jesika, Audrey  ikut tertawa. "Hati-hati makanya, Kuda Nil." Sambil menyeruput es kopi milik mereka masing-masing.

Salma menatap dalam mata Bulan, menoyor kepalanya dengan telunjuk, mengancam. "Lan, bisa enggak sih enggak usah munculin muka lo di depan gue lagi?" hardiknya. "Gue muak, lo tau enggak, sih?" jelasnya bahwa dia begitu benci gadis di hadapannya. "Gue muak liat pengkhianat kayak lo!" Salma menyiram kembali Bulan dengan sisa minumannya.

"Gak tau malu banget, sih."

"Ck, pagar makan tanaman."

Semua tertawa. Guyonan-guyonan itu tentang betapa murah dan palsunya dirinya. Bulan lelah, dia sudah bilang bahwa di capek dengan ini semua. Maka Bulan merebut paksa es kopi di genggaman Audrey, menyiram es itu ke wajah gadis di depannya--dia muak? Maka gadis yang ia siram dengan sengaja kemeja putihnya juga muak--melebihi dirinya sendiri.

Semua orang yang menyaksikan terhenyak. Menganga atas apa yang gadis itu perbuat. Salma berteriak.

"LO APA-APAAN, SIH?!"

"WAH, LO GILA YA?!" Shania ikut berteriak. Dia menyiram semua es kopi miliknya.

Namun gadis yang disaram itu merebut es kopi milik mereka kembali, kali ini milik Jesika satu-satunya yang tersisa. Dia menyiram balik Shania dengan tangannya. Dia basah, hatinya jauh lebih basah daripada itu. Namun ini sebuah peringatan, bahwa Bulan tidak akan tinggal diam lagi, dia tidak akan diam ketika harga dirinya diinjak oleh orang lain--ketika dirinya menjadi mainan orang lain lagi. Memar di pipi yang tak kunjung sembuh itu menjadi bukti betapa menyedihkannya dirinya dahulu.

"LO BENERAN NYARI MATI ATAU GIMANA?" Shania melemparkan tamparan, namun Bulan menahannya. Dengan kuat--bahwa memang dia kuat!

"Aku juga muak, Shan!" jawabnya. Tangis itu tertahan. "Bukan cuman kamu! Aku lebih benci diri aku sendiri jauh lebih daripada kamu! Tapi bukan berarti kamu bisa injak-injak aku, Shan! Kamu inget itu!

"Kalian enggak berhak sama sekali!" Gadis itu menjorokkan lengan Shania yang ia genggam karena ingin menamparnya. Dia menahan seluruh tangis di dalam mata, dia tidak pernah marah--ini kali pertamanya.

"Lo berhak, Kuda Nil! Orang tolol kayak lo berhak nerima semua ini!" Shania mendorong bahu perempuan di hadapannya.

"Kamu marah karena Gemintang enggak suka sama kamu, Shan? Kamu bukan marah karena Cahaya, 'kan?" Satu tembakan lagi. "Kamu marah sama aku karena Gemintang suka sama aku, iya, 'kan, Shan?!

"Kamu benci Aya karena dia cantik, kaya, populer, enggak kayak kamu. Tapi kamu ngebenci aku dan manfaatin semua ini buat serang aku, karena kamu tau, Gemintang cuman suka sama aku! Karena itu 'kan?! Karena kamu kalah sama perempuan paling tolol yang ada di sekolah ini!--itu aku! Kamu kalah sama aku!"

Semua kata-kata itu keluar, itu yang Bulan pikirkan, meski hanya ingin menggertak nenek sihir di depannya, meski hanya untuk membuatnya takut akan Bulan.

"LO BENER-BENER YA!"

Tangan itu melayang kembali ingin menampar pipi. Namun tidak sampai, Bulan kembali menahan tangan lemah itu, tangan nenek sihir kecil yang tidak akan terasa apa-apa.

"Ini sekolah," bisiknya. "Aku capek tau, gak?!" Dia menjatuhkan lagi lengan Shania. Mendorongnya. Kemudian pergi karena lelah, karena semua amarahnya ia menahan tangisnya.

Bibirnya bergemater, giginya terasa sakit sekarang karena air mata yang sudah ada diujung--ingin jatuh, namun sekuat tenaga ia tahan. Maka sang gadis berjalan pergi, menabrak lebih dahulu perempuan aneh di hadapannya.

Tidak ada perlawanan lagi dari mereka. Dia yakin dia menang, dia yakin dia juaranya. Namun kala ia melihat sosok gadis yang ia cintai dan laki-laki paling manis yang pernah ia temui saling berjalan beriringan menatapnya--ia tahu air mata itu segera terjun tanpa aba-aba dari kedua matanya.

Seketika kala mereka bergandengan tangan, membuat hati yang sudah hancur di dalam sana menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya--hati itu berubah menjadi semangkuk bubur--hanya perlu kerupuk untuk melengkapi rasanya.

Bulan yang tadinya mau pergi malah terdiam di tempatnya saat dua orang itu berjalan juga ke arahnya.

"Waduh, Samudra sama Aya mesranya ... ke sekolah bareng-bareng," kata mereka bersorakan. Memanasi Bulan--tentu saja.

"Semoga enggak ada lagi perusak atau temen enggak tau malu ya, Cahaya!" teriaknya. Untuk Bulan juga.

"Ada yang panas, nih!" Siapa lagi? Untuk Kuda Nil yang mereka bilang pastinya.

Cahaya tersenyum ceria pada teman-temannya. Samudra hanya diam sambil berjalan tanpa ada senyuman--melihat langit di atas sana. Melihat Bulan di depannya. Mata mereka bertemu, bulan mempengaruhi lautan--pasang surutnya dipengaruhi rembulan.

Genggaman mereka semakin kuat, mereka saling mencintai, Bulan sadar itu. Maka ia menyeka hatinya, tidak akan membiarkan jantung di rusuknya terluka lagi. Tidak akan membiarkan rusuk di tubuhnya tersakiti lagi.

Hingga satu rengkuhan melingkari bahunya, satu rengkuhan kuat namun juga terasa lembut saat itu juga. Ia melihat Gemintang--sekumpulan bintang terujung yang selalu ia lihat. Dia terkekeh.

"Jangan lihat Abang gue," katanya.

Tidak ada matahari.

"Lihat gue aja," godanya. "Ya, nggak?"

...

a.n

Saya tahu saya emang enggak jelas!

Terus berdoa dan buat lingkeran supaya cerita ini update lagi malam minggu nanti!

Salam,

Laki-laki Yang Menyia-nyiakan Cinta

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro