Blurb
Selama menikah dengan Horizon Devoss, sangat mudah bagi Skylar Betelgeuse untuk berpura-pura mencintai pria itu. Namun, setelah mereka bercerai, Skylar tak pernah menyangka rupanya sangat sulit untuk berpura-pura tak peduli kepada mantan suaminya tersebut yang tiba-tiba membajak hidupnya, menggagalkan rencana-rencananya dan menginvasi seluruh jalur masa depannya. Terutama saat Skylar tidak lagi berpura-pura, melainkan sungguh-sungguh mencintai Horizon.
WARNING 21+
BUKAN BACAAN SEMUA ORANG
SNEAK PEEK
Seharusnya tidak seperti ini! Bukan ini jalur rencana yang kumaksud!
Pada refleksi cermin, aku melihat pria itu berdiri di samping kiriku dengan posisi beberapa langkah di belakangku. Setelan biru tua yang membalut tubuh gagahnya mengejek kemeja putih lengan panjang miliknya yang kukenakan tanpa dikancingkan dan tanpa bawahan.
Kemeja itu menganga, membelah di tengah tubuhku, memamerkan kulitku yang tidak mengenakan bra. Meski demikian, tubuh privasi bagian depanku tetap tertutup. Genital string hitam bersama pentyhose senada transparan berpenyangga menjadi tambahan komponen kekontrasan warna pakaian serta kulit pucatku, setelah lipstik merah mentereng di bibirku yang sedikit terbuka.
Sepasang iris gelap pria itu yang menyipit memperhatikanku secara saksama. Senyum miring licik yang melekuk di bibir sensualnya menandakan kepuasan sekaligus bentuk kesabarannya menungguku.
Menungguku aksiku.
Apakah dia benar-benar berpikir aku akan melakukannya? Apakah aku sudah tidak waras?
Sayang seribu sayang. Sudah terlambat bagiku untuk menyadari hal tersebut dan memutar balik haluan. Aku sudah masuk jalurnya, perangkapnya. Bukan hanya pada situasi ini, melainkan juga isi batok dalam kepalaku hingga sudut terkecil di batinku. Dia mengorek semuanya, menguasaiku, mengobrak-abriknya lalu menyusunnya kembali menjadi sesuatu yang baru. Individu baru.
Pada intinya, dia sinting dan menularkan kesintingannya padaku.
Beberapa detik setelah menyelami pikiranku lebih dalam, aku sadar pria yang membenamkan kedua tangannya ke saku celananya itu sengaja tidak bersuara. Dengan cara inilah dia menawanku: dengan menaikkan dagu pelan serta amat sedikit. Matanya yang lebih dipicingkan dan senyum tipis yang menambah level kesininasannya mengisyaratkan perintah tak terucap untukku.
Aku pasti sudah gila kalau menurutinya. But, I will.
Aku memejam sejenak untuk menarik napas dalam-dalam kemudian mendongak. Jantungku berpacu saat secara perlahan-lahan kuoleskan ketiga jemariku yang berlumuran aftershave pria itu ke rahang dekat bibir kiriku. Kugerakkan kepala ke kanan seraya merasakan jemariku menuruni leher sampai berhenti di tengah jalur dadaku.
“Bagaimana rasanya kalau aku mencumbumu seperti itu?”
Tubuhku terkesiap oleh suara bariton tersebut. Bayangan gesekan bakal-bakal janggut pria itu di permukaan kulitku makin kuat.
“Aku menyukainya.”
Oh! Dasar sial! Inilah yang kumaksud; dia mempengaruhiku, menawanku, memonopoli, mengendalikan fisik, bantin, dan perasaanku. Baginya, isi pikiranku transparan. Jadi, tidak ada gunanya berbohong.
“Kau menyukainya ...,” ulangnya dengan suara jauh lebih rendah daripada sebelumnya.
Jantungku hampir lepas kala merasakan kehadiran pria itu di belakangku. Hangat napasnya membelai daun telingaku. Masih memejam, kurasakan salah satu tangan besarnya mengambil kedua tanganku dan membawanya ke atas kepalaku seolah-olah memborgolku. Sejenak aku berpikir dia akan menekuri leherku menggunakan hidung, mulut dan lidahnya. Maka, aku mendongak, bersiap-siap untuk menerimanya agar dia lebih leluasa menginvasi diriku. Namun, rupanya aku keliru. Bukan itu yang dia lakukan.
Tangan lain pria itu memang menyibak tengkukku. Namun, bukan untuk menyusurkan cumbuannya. Melainkan mendorongku pelan sampai kepalaku menempel di permukaan tepi wastafel marmer ini. Dia memperlakukanku bagai pencuri dibeguk polisi.
“Biarkan tanganmu seperti ini dan jangan bersuara,” titahnya dengan suara berat, serak, dan rasanya aku hampir sinting karena merinding. Bayangan-bayangan yang tak seharusnya kumiliki dan nyaris berubah nyata itu rupanya menambah sensasi gejolak yang mengaduk-aduk perutku.
Lalu ketika aku membuka mata dan mendapatinya berjongkok di belakangku, aku mengabaikan perintahnya untuk tetap tutup mulut. Maksudku, bagaimana mungkin aku tahan untuk tidak mengerang sambil berjingkat saat permukaan jari-jarinya yang kasar digunakan untuk menyusuri betisku, merangkak naik ke paha dan hampir bermuara di tempat tujuannya? Jejak panas itu membakarku.
“Oh ....”
Gerakannya sontak berhenti untuk menatapku. “Dasar pembangkang!” umpatnya dengan nada datar dan pelan. “Sekali lagi kau bersuara, kau tahu apa yang akan kau dapatkan.”
Napasku tercekat begitu merasakan tangan pria itu menyingkap bawah kemejaku hingga memperlihatkan setengah pantatku. Tangan kanannya meraih gunting di sebelah keran wastafel. Dan aku nyaris menjerit ketika benda itu resmi digunakan untuk menggunting genital string-ku.
“Aku harus jujur padamu. Ini jauh lebih baik daripada kemarin-kemarin. Tubuhmu jauh lebih berisi, lebih menonjol di bagian-bagian yang tepat. Seperti bongkahan ini.”
Aku tidak bisa menutup mulut kala pria itu menegaskan kalimat terakhirnya dengan meremas pantatku. Alamat, dia akan murka.
“Sepertinya aku perlu sesuatu untuk menyumpal mulutmu yang berisik ini.”
Mataku memelotot melihat pria itu mengambil benda yang dimaksud. Lalu ditegakkannya tubuhku lagi.
“Apa yang kau lakukan? Ini tida—hhhkkk!”
Sebelum aku bisa rampungkan kalimat protes, dia menjejalkan benda terkutuk itu ke mulutku yang otomatis menahan kata-kataku keluar. Ini penyiksaan sempurna. Inilah yang pada akhirnya kudapatkan karena melanggar perintahnya. Selanjutnya dia merapikan rambut pirangku yang kutata bergelombang.
“Lihatlah dirimu di cermin.” Tanpa memedulikan tangannya yang terkena aftershave, dia mengarahkan rahangku ke depan cermin, lalu berbisik di pelipisku. “Sangat cantik dan seksi dengan bola hitam di mulutmu ini.” Jemari tengahnya menekan bola hitam di mulutku sampai nyaris membuatku tersedak.
“Dan talinya ini ...,” desisnya tepat di daun telingaku sampai bulu kudukku meremang. Dia menyelipkan jari di antara tali kulit yang melingkari rahangku, seperti mengecek kekencangannya; apakah kulitku akan terluka atau tidak; apakah tali ini cukup kencang untuk menahan bola di dalam mulutku; apakah tali ini bisa melepaskan bola itu. “Aku makin tidak sabar ingin menyiksamu!”
Aku nyaris menumpahkan air mataku, tetapi dia terburu mengejek, “Menjeritlah sambil menangis yang kencang. Itu membuatku senang.”
____________________________________________________
Waduh waduh waduh terlalu hawt nggak ini?
Kalau terlalu, entar saya kurangi ya kadarnya
Omong-omong, makasih banget yang udah vote, dan spam komen, terhura, itu bikin saya semangat update lop yu gaes .... 🙈❤️
Btw saya minta 75 vote dan 30 komen di bab ini dulu ya, baru entar saya publish next part-nya
Bonus foto:
Horizon Devoss
Skylar Betelgeuse
Well, see you next teman-temin
With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻
Jumat, 3 November 2023
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro