
029 - Meeting His Famly
Sepulang dari pesta barbeque, Jeff bertanya padaku tentang sejauh mana pergerakanku dalam menjalani tantangannya. Namun, aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Jeff karena--memang--terlalu ngantuk dan juga, tidak bisa berpikir lagi akibat nyaris mendapatkan ciuman Aiden. Sungguh, membayangkan momen itu akan terjadi saja aku tidak pernah, lalu Tuhan berbaik hati dengan memberikan kesempatan yang hampir terjadi itu.
Yeah, seharusnya aku berterima kasih pada Tuhan.
Dan demi Jesus Yang Maha Baik, jantungku benar-benar tidak bisa terkontrol setiap kali mengingat momen tersebut. Terlebih ketika ingin pergi tidur pun, Aiden masih saja menyempatkan diri untuk menelepon dan mengucapkan mimpi indah untukku.
Parahnya, harapan Aiden agar aku mendapatkan mimpi indah malah terus berlanjut, hingga membuatku malas untuk bangun pagi.
Alhasil, bukannya bangun tepat waktu, tapi malah terlambat bangub saking menikmati mimpi. Hingga di sekolah aku terpaksa harus mendapatkan peringatan penuh nada cibiran, saat aku sedang menjalani sidang di ruang kedisiplinan bersama orang-orang brengsek itu.
Sungguh! Jika mengingat bagaimana mereka memperlakukanku saat itu, aku sangat tidak setuju dengan hukuman yang sama beratnya denganku. Seminggu sebagai pengabdi sosial, terasa tak sebanding dengan lebam di tubuhku. Sehingga kalau bukan karena kesabaran Alma dan Jackson lalu cinta Aiden padaku, aku bisa meyakini bahwa mereka pasti tidak akan tertawa sampai minggu terakhir ini.
"Kau tidak akan pernah cantik jika bermuka masam seperti itu." Aku menoleh ke kanan saat suara Jeff, terdengar di pintu kamarku. Ia tampak bersandar pada kusen pintu kemudian melangkah dan duduk di tepi ranjangku. "Hebat juga," ujarnya, "hanya sekali kau berdansa dengannya, seminggu kemudian dia sudah mengajakmu ke rumahnya. Apa kau tahu artinya dan apa kau tidak merasa itu adalah hal aneh?"
Aku tidak tahan untuk tidak menggulirkan mata. Seharusnya aku sudah tahu apa alasan Jeff datang ke sini. Apalagi setelah ia tahu bahwa hari ini Aiden mengajakku untuk berkunjung ke rumahnya, dari hasil menguping obrolanku saat Aiden mengantarku pulang sekolah hari kamis kemarin.
"Memangnya ada apa dengan seorang lelaki yang mengajak pacarnya ke rumah?" Aku tahu bahwa kau menginginkan kekalahanku, tetapi kau berharap dengan gadis yang salah. "Kurasa tidak ada undang-undang negara yang melarang hal tersebut." Semakin menantang saja. Aku berusaha menyembunyikan senyum kemenangkanku.
"Aku hanya tidak ingin kau patah hati, Megan." Oh, Jeff, kau sungguh perhatian.
Aku mengedikkan bahu, sambil berkata, "Bukankah itu yang kau inginkan? Tantangan ini bertujuan untuk menyakiti seseorang."
Memang benar, itulah yang diinginkan Jeff membuat diantara kami patah hati kemudian akan menjadi dewa pematah hatu.
Dulu sekali ketima kami masih di elementery school, Jeff pernah mendapat pernyataan cinta dan kalian tahu bagaimana Jeff menyikapinya? Dia justru dengan otak idiotnya, malah menoleh ke belakang kemudian menunjuk ke arah lelaki yang berada di belakang lalu berteriak nyaring bahwa gadis barusan menyatakan perasaan untuk lelaki yang ditunjuk.
Hasilnya, Jeff jadi menerima label sebagai lelaki yang diwaspadai untuk menyatakan perasaan, sebab detik berikutnya ia akan menyakiti hatimu.
Kurang lebih begitulah para gadis-gadis melabeli Jeff. Oleh sebab itu, tidak heran jika Jeff selalu jomblo sejak junior high school, hingga sekarang. Meskipun, dia memiliki penggemar yang banyak, populer, dan sering membawa gadis ke kamar diam-diam.
"Sebenarnya, Megan." Kening Jeff berkerut dan kedua matanya menatapku. "Tantangan yang kuucapkan dulu adalah untuk melindungimu dari kelicikan--"
"Sorry, Jeff, tapi Aiden meneleponku dan itu tandanya ia sudah dekat dari sini." Sengaja aku memotong ucapan Jeff karena tidak ingin meragu akibat ucapannya yang sok peduli. "Aku harus segera turun ke bawah dan kita bisa mengobrol lagi nanti, Brother." Mencium pucuk kepala Jeff, aku pun segera meluncur pergi sambil menyanyikan lagu You Were So Beautiful milik One Direction.
Dan ketika kaki baru menginjak anak tangga terakhir, bel pintu pun berbunyi dan mom membukanya. Hingga seperti mendapatkan ilham dari Mr. Bean, aku berfikir untuk bersembunyi lalu menguping pembicaraan mereka nanti.
Mom melihatku bersembunyi di balik bufet dan secepat mungkin, aku meminta agar mom merahasiakan ini.
"Hai, kau lelaki yang sekarang bertugas sebagai sopirnya Megan, ya?" Mom menyapa dengan sangat bersahabat, tetapi bertanya tanpa pikir panjang. Aku menpuk jidat, saat mendengar tawa ringan milik Aiden.
"Lebih tepatnya aku adalah pemuda yang telah menjadi budak cintanya Megan." Lagi-lagi aku memukul keningku lalu menghantup-hantupkan kepalaku ke bufet secara perlahan.
"Hari ini aku ingin mengajak Megan pergi ke rumahku untuk makan siang bersama keluarga. Jika kau mengizinkanku, Mrs. Ave?"
Kedua sudut bibir mom terangkat dan itu merupakan pertanda baik, sehingga dengan jantung berdebar aku menunggu jawaban mom.
"Kau diperbolehkan pergi dengannya, tapi jangan pulang larut malam," ujar mom, sambil menunjuk ke arahku dan ....
Sialan!
Aiden melongokan kepalanya dan menoleh ke arahku.
Ya Tuhan! Mengapa jadi seperti ini?! Mom benar-benar ingin membuatku malu.
Aiden menyapa dengan menggunakan bahasa tubuh dan sambil menampilkan cengiran kambing, aku membalasnya.
"Mau pergi sekarang?" tanyanya saat kami benar-benar sudah berdiri saling berhadapan.
Aku pun hanya mengangguk sebagai jawabannya, sedangkan mom ia mendorong pelan punggungku hingga menimbulkan hentakan pelan ke arah Aiden.
"Hati-hati, Sayang. Jangan lupakan pesanku!" Mom melambaikan tangan saat kami berdua sudah di dalam mobil, dan sedetik kemudian Aiden sudah menjalankan kendaraannya menuju tempat tinggal keluarga Kowalsky.
***
Rumah Aiden adalah bangunan paling keren yang pernah kulihat. Rumahnya bertingkat, bercat putih dan baby blue, serta memiliki taman bunga super cantik.
Aiden memarkirkan mobilnya di jalanan depan bagasi dan setelah selesai dengan pekerjaan tersebut, Aiden pun segera turun dari mobil sambil menggandeng tanganku menuju pintu utama rumah itu.
"Megan, ini hanya makan siang biasa jadi kau tidak perlu bersikap seperti orang lain, demi menjadi sosok yang disukai orangtuaku."
Aku tersenyum tipis saat merasa bahwa Aiden telah memergoki segala hal tentang kegelisahanku.
"Asal kau tahu." Aku mnoleh ke arah Aiden. "Aku sama sekali tidak gugup," kataku, sambil menekan tombol bel lalu Aiden membuka pintunya dan pemandangan tidak biasa menyambutku.
Seorang lelaki paruh baya yang masih sehat bugar, sedang duduk di atas kursi roda. Wajahnya tampan dan tampak tidak asing, kemudian berpakaian sangat rapi, hingga aku merasa salah kostum karena hanya mengenakan mini skirt, komisol serta sepatu kets.
"Dia ayahku," bisik Aiden dan refleks aku segera memberikan salam. "Dan dia adik kembarku, Jack dan Finn.
"Lalu kau akan menemukan ibuku di dapur." Aiden menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya.
Rumah Aiden di lihat dari luar dan dalam, menurutku sangat bukan Aiden banget. Maksudku, Aiden itu orang yang populer, memiliki selera fashion luar biasa menarik, dan ... kukira dia adalah lelaki yang memiliki perekonomian menengah ke atas.
Sigh, lagi-lagi aku hanya menjadi gadis yang benar-benar sok tahu mengenai kehidupan Aiden.
Ketika kami berada dalam dua langkah memasuki rumah, Aiden menghampiri ayah dan juga adik kembarnya. Di mana sebelum menghampiri mereka, Aiden terlebih dahulu menyapa mereka.
"So, guys this is Megan," ucap Aiden sambil menggerakan bahasa tubuh, seolah aku adalah sebuah persembahan.
"Hai, nice to meet you all." Sumpah! Nada suaraku benar-benar seperti sedang diprogram menjadi seorang robot. "I'm Megan."
"Nicolle, Jack, and Finn. Say hello, guys."
"Hello, Megan." Aku tersenyum kikuk saat dua anak kecil kembar, yakni Jack dan Finn menyapaku.
"Well, aroma sudah tercium." Aiden menoleh ke arahku lalu menggenggam tanganku. "Kau juga harus bertemu dengan ibuku," ujarnya sudah seperti perkenalan pra menikah yang membuatku semakin bedebar-debar.
Setelah mohon izin untuk ke dapur, Aiden--seperti anak kecil--menyeretku menuju dapur. Lalu setelah sepuluh kali melangkah, aku melihat wanita pirang dengan tubuh bentuk tubuh sangat bagus seolah model papan atas.
Wanita itu sedang mengaduk sesuatu yang lezat di dalam pancinya. Celemek masak pun masih menempel di tubuhnya dan sambil menyanyikan lagu lawas, ia bekerja seolah tidak menyadari keberadaan kami.
"Mom, kau bisa memintaku untuk menumpahkan sayuran itu ke mangkuk." Aiden berbicara tepat di belakang tengkuk wanita itu dan kau tahu bagaimana kelanjutannya, beberapa peralatan yang ia gunakan pun terjatuh, bersamaan dengan makian yang mengalir lembut di bibirnya dan ketika dia memutar badan untuk melihat sang pelaku, sebuah pukulan pun diberikan untuk Aiden.
Aku tertawa pelan melihat tingkah mereka. Di mana jika dilihat, mereka berdua sangatlah akrab.
Namun, belum juga selesai tertawa atas tingkah kocak mereka, Aiden malah mengarahkan wajah wanita cantik itu ke arahku.
"Dia gadis yang kubicarakan, Mom," ujarnya di mana kalimat sederhana itu kembali membuatku tegang. "Megan Ave. Kurasa kau pasti akan menyukainya."
Wanita yang dipanggil mom oleh Aiden melangkah mendekatiku. Tidak ada senyum di wajahnya, tetapi justru mengamati dari atas ke bawah. Hal itu adalah perlakuan buruk buatku, karena mampu memberikan efek salah tingkah dan keringat berlebih.
Aku pun menyelipkan rambut cokelatku ke balik telinga, meskipun terasa percuma karena rambutku terlalu pendek.
Dan ketika aku menunduk karena malu, tiba-tiba saja seseorang memelukku dengan sangat erat.
Yaitu Mrs. Kowalsky, di mana saat kami masih berpelukan ia berujar, "Thank you so much, Megan. Kau adalah gadis pertama yang dikenalkan pada kami."
"W-what?" Aku menoleh ke arah Mrs. Kowalsky, tetapi bukannya mendapat penjelasan dari ucapan barusan, Mrs. Kowalsky justru berkata penuh keriangan yang menyuruh kami untuk membantunya menyiapkan makan siang.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro