Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

004 - Here She Comes

"Kurasa dia sedang dalam masalah besar." Jackson menutup laci lokernya setelah selesai memasukan buku saku sejarah Amerika dan menggantinya dengan sejarah Eropa. "Dia tidak pernah curhat padaku sebelumnya dan jika ia sampai melakukan hal tersebut, bisa kusimpulkan bahwa keadaannya benar-benar genting."

"Apa dunia perkuliahan akan serumit itu?"

"Mungkin, karena Agatha meneleponku semalam suntuk, demi menceritakan sosok Shawn Dallas dengan segudang emosi tak terbendung."

"Halo, apa hanya aku yang tidak tahu siapa sosok Agatha itu, eh?" Alma menerobos masuk di antara kami. Di mana sebelumnya ia hanya sibuk bersama ponsel, berbalas pesan dengan pacar jarak jauh asal Indonesia. "Jackson, kau tidak pernah membicarakan seorang gadis sebelumnya. Apa dia pacarmu? Akhirnya kau melepas status lajangmu juga."

"Oh, no, Alma." Jackson menggelengkan kepalanya, begitu pula denganku sebagai respon candaan tidak lucu yang dilontarkan Alma barusan. "Agatha adalah kakak tiriku yang sekarang sedang kuliah di Washington University."

"Oh, kampus yang memiliki asrama itu, ya?" Alma mengetuk-ngetuk bibir menggunakan ujung pulpen. Bahasa tubuh yang biasa ia gunakan saat berpikir, tetapi menurutku sama sekali tidak memengaruhi cara kerja otak. "Sebenarnya aku berencana untuk melanjutkan study di sana, tapi karena kakakmu saja mengalami hal serumit itu ... aku jadi meragu."

Jackson memutar mata lalu aku melihatnya memukul pelan kepala Alma menggunakan buku Kimia, hingga gadis itu memekik sebagai reaksi alamiah. Beberapa kali Alma mencoba untuk mengelak serangan Jackson, tetapi selalu gagal karena Jackson jauh lebih tinggi daripada Alma. Yang benar saja, meskipun Jackson merupakan keturunan Asia, nyatanya ia memiliki postur tubuh lumayan tinggi yaitu kurang lebih 182 cm.

Di antara ratusan suara yang saling tumpah tindih di lorong menuju kafetaria, menceritakan tentang keburukan orang lain atau membanggakan diri sendiri, aku bisa setengah mendengar obrolan Alma dan Jackson mengenai bagaimana reaksi kekesalan Aubrey di kelas sejarah tadi. Yaitu ketika gadis itu melihat Aiden menghampiri mejaku, di saat bel makan siang berbunyi demi meletakkan kembali Dr Pepper yang sebelumnya kukembalikan dengan cara tidak bersahabat. Sialnya, kali ini bukan hanya sekaleng Dr Pepper, melainkan Aiden juga menyelipkan secarik kertas berisi nomor ponselnya sembari mengatakan sesuatu.

"Oh, shit! Kau melihatnya, Megan?" Ucapan Alma seketika menggiringku untuk mengikuti ke mana arah fokusnya. "Here she comes. I thought you'd be in trouble, Megan."

"Yeah, dan aku harus bersikap seperti seleberiti yang melakukan manifesto di khalayak publik demi membersihkan nama--"

"Hai, Megan." Aubrey bersama satu temannya berdiri di hadapanku. "Percayalah, kau pasti sedang menduga-duga tentang alasan kenapa aku harus membuang waktu demi menegurmu terlebih dahulu."

Oh, sangat percaya diri, tetapi justru menjurus pada narsisisme. Tipikal dari kebanyakan orang populer.

"Kau mau mengobrol santai?" tanyaku, tanpa merasa rendah diri karena berhadapan dengan sang ratu sekolah. "Aku tahu kau ingin membicarakan Aiden. Tapi ngomong-ngomong, kerah bajumu terkena noda Kool-Aid yang sedang kau minum."

Aubrey menunduk ke arah kerah baju yang memiliki potongan rendah lalu menemukan bercak warna pink di kemeja putih gadingya. Ia menjengit sebentar kemudian meluruskan tulang punggung, demi kembali menatapku. "Oh, hanya orang-orang tertentu yang tahu bahwa pakaian dengan noda sedang trend akhir-akhir ini. Kau gadis ploretariat jelas tidak akan tahu apa-apa."

Kedua alisku terangkat, sembari bibir mengisyaratkan kata 'O'. Apa yang dikatakan Aubrey tentu hanya alasan demi menjaga harga dirinya yang tinggi.

"Yeah, aku memang tidak memerhatikan fashion karena terlalu sibuk dengan kehidupan lain."

"Tentu saja!" Aubrey menaikkan nada suaranya. Ia melangkah satu langkah di hadapanku, seolah ingin memberikan efek intimidasi. Namun, apa yang dilakukan Aubrey sangat tidak berpengaruh padaku sebab dilihat dari sudut pandang mana pun, aku jauh lebih kuat daripada Aubrey. Bukannya sombong, tapi itu kenyataan. Di mataku Aubrey tidak berbeda dengan sosok gadis metropolitan yang super manja.

"Kau jalang sialan! Tidak heran jika kau dilahirkan dari rahim seorang wanita murahan perebut milik orang la ... akh!"

"Sialan! Kau bilang apa?!"

Serius! Jika bukan karena Aubrey menyebut wanita yang merujuk pada mom, aku tentu tidak akan menjambak rambut pirangnya. Secara tidak langsung, Aubrey menghina mom seolah tahu apa pun. Menghina mom adalah harga diriku, sehingga tanpa sadar otot-otot tangan kiriku mengencang, siap untuk menghajar wajah busuk Aubrey.

"Kau dan ibumu saja, menggoda lelaki lain demi mendapatkan popula ... akh, sial! Lepaskan tangan kotormu, Bitch!"

"Tidak akan. Kau tahu, aku ingin sekali menghancurkan wajahmu jika kau menolak untuk mencabut ... akh!" Brengsek! Aubrey balas menarik rambutku, bergerak lebih barbar dari yang kuprediksi hingga satu kepalan tangan nyaris mendarat ke wajah gadis itu jika tidak ditahan oleh Alma.

"Lepas, Alma. Gadis bermulut pahit ini akan terus menghina ibuku jika tidak kuberi pelajaran."

"Menghina ibumu?! Hah, so funny! Aku mengatakan kenyataan, kau merebut Aiden dariku dan ibumu merebut Aland dari--"

"Tutup mulutmu, Bitch!" Sebisa mungkin aku berusaha lepas dari cengkraman tangan Alma dan Jackson.

Ucapan Aubrey benar-benar keterlaluan jika terus dibiarkan. Seluruh urat emosiku saling berkedut kencang, jantung berpacu cepat, dan perasaan ingin melahap gadis itu dengan sadis terasa sangat memberontak jika tidak segera disalurkan. Apalagi, saat melihat mereka--yang berada di sekitar kami--sibuk mengabadikan momen ini. Aku tidak bisa membiarkan nama mom menjadi buruk karena ucapan penuh kebohongan dari bibir Aubrey, sehingga dengan penuh kekuatan aku berusaha melepaskan cengkraman dari kedua sahabatku. Bergerak secepat mungkin dan ....

Tamparan telak menghampiri wajah ber-make up tipis itu, menciptakan teriakan Aubrey yang terdengar sangat nyaring, menggantikan cerita palsu yang ia umumkan di lorong menuju kafetaria

Suara-suara di lorong terdengar tumpang tindih, menyoraki jagoan masing-masing. Namun, aku masih mendengar Alma yang mengatakan, "Oh my God, menyiram bensin di kobaran api."

Aku melirik sejenak ke arah Alma yang mengatakan perumpamaan tersebut kemudian segera beralih ke Aubrey. Sedetik kemudian, gadis itu melayangkan pukulan yang terlalu mudah kuhindari. Namun, entah bagaimana caranya ia berhasil meraih rambutku dan menjambaknya hingga kulit kepalaku terasa ingin tercabut.

Setengah mati kubalas jambakan Aubrey dan ingin sekali kudorong tubuhnya hingga terjatuh di lantai kemudian memberikan pukulan bertubi-tubi. Namun, bagaimana melakukan hal tersebut jika dua sosok lain--Alma dan Paula (teman Aubrey)--ikut berpartisipasi tanpa diminta?

Alma berada di pihakku pun ikut meramaikan suasana yaitu menjambak rambut Paula yang sebelumnya ingin membantu Aubrey untuk menyerangku. Suasana semakin kacau, keramaian para penonton saling bersahutan menyerukan nama kami dan tentu belum berhenti jika Mr. Lee tidak turun tangan dengan suara peluit di tangannya.

Jackson yang tidak kuperhatikan keberadaannya segera memisahkan kami berempat. Ia sungguh berbaik hati dengan mengorbankan diri sejenak sebagai media emosi empat gadis barbar.

"Please stop it! Jika kalian tidak ingin mempermalukan diri sendiri!" seru Jackson ketika Mr. Lee benar-benar berdiri di hadapan kami.

Dan yang benar saja, kehadiran lelaki paruh baya itu sangat berpengaruh besar. Kumpulan murid-murid di sekeliling kami--membentuk huruf U--seketika melakukan aktivitas serempak membubarkan diri. Aku hanya memutar mata cukup kesal akibat beberapa hal.

"Kalian berempat, kita bicara di ruangan saya sepuluh menit sebelum jam makan siang berakhir," ujar Mr. Lee sambil menuliskan nama-nama kami di buku kecil di mana jika kami mencoba untuk kabur, maka bersiaplah dipanggil dengan menggunakan speaker.

Itu lebih memalukan. Apalagi jika Jeff sampai mengetahui hal tersebut dan dia akan mengumbarkan peristiwa ini--secara versinya--kepada mom dan dad kemudian ... yeah, kalian akan tahu bagaimana akhirnya.

"I'm sorry, Megan." Jackson berdiri di hadapanku ketika hanya menyisakan kami bertiga. "Tapi aku harus melakukan ini, sebelum kau benar-benar menjadi monster seperti di bioskop setahun yang lalu."

"Sialan, kau tidak tahu betapa marahnya aku--"

"Megan." Aku dan Jackson seketika menoleh, saat Alma memanggil dan memotong ucapanku. Wajah Alma tampak kucam dengan sorot mata yang tertuju pada ujung jemarinya. "I think ... I'm bleeding."

"Alma, oh my God, your hand ...."

"Shit!"

***

"Apa kau mendapatkan hukuman?" Jackson bertanya ketika aku baru saja keluar dari ruang kedisiplinan, setelah menyeret paksa Aubrey agar menyelesaikan urusan ini dengan cepat.

Aku menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Jakson, lalu melangkah menuju ruang kesehatan sesuai rencana--setelah perdebatan cukup panjang--kami. Memang, mulanya Jackson menyuruhku agar menyelesaikan permasalahanku dulu di ruang kedisiplinan, melakukan negosiasi atas hukuman yang akan kuterima, serta meluruskan kesalahpahaman antara aku dan Aubrey. Namun, jika Jackson tahu bagaimana hasilnya, aku bisa menebak bahwa dia akan kembali menceramahiku seperti mom.

"Tidak? Lalu bagaimana hasilnya? Kau sudah berbaikan, ya? Dampai Mr. Lee meloloskan kalian?"

"Lebih tepatnya, aku yang memaksa Aubrey agar melakukan drama persahabatan, Jackson."

"Apa? Drama persahabatan kau bilang?" Kedua mata Jackson melebar. "Aku tidak mengerti, tapi kurasa itu bukan ide yang baik."

"Tentu saja ide terbaik karena aku tidak harus menjalani hukuman bersama gadis menyebalkan itu. Apalagi, aku bukan gadis genit yang menggoda Aiden untuk menjadi milikku. Ew, membayangkannya saja aku sudah merasa mual."

"Well it's true, but ... yeah, let's see." Jackson mengedikkan bahunya, sedangkan aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perkacapan karena telah sampai di ruang kesehatan, dan melihat ketidakberdayaan Alma di ranjang pasien.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro