Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

3. Truth

Satu dorongan pada dada Chandra membuat lelaki itu terpaksa melepas panggutan panasnya dari bibir Bintang. Gadis itu menunduk dengan napas terengah. Chandra tak pernah main-main pda ucapannya, terutama jika sudah menyangkut ancaman seperti di kafe depan kampus waktu lalu. Memang tak hari itu juga langsung menghukum Bintang, karena sengaja membuat gadisnya lupa dan... BOOM. Lelaki itu akan menyerang tanpa aba-aba seperti pertemuan mereka sekarang.

"Kenapa?"

"Tangan kamu," lirih Bintang menarik keluar tangan usil Chandra yang mulai merayap ke atas di dalam kemejanya. "Lagian ini udah sore banget, Chan."

Kepala Bintang kelingukan melihat sekeliling parkiran kampus yang bersisa dua mobil saja.

Milik Chandra dan Jenan.

Ini cari mati namanya. Untung saja Bintang tak mendeteksi keberadaan Jenan maupun Angkasa di sana. Kalau ketahuan, bisa habis Chandra dirajam oleh abang posesifnya. Belum lagi jika kelakuan nakal Bintang terdengar ke Papi, yang ada ia dinikahkan sungguhan karena berani kisseu-kisseu. Mana masih di area kampus pula!

"Memang udah sore, Yang. Siapa bilang masih pagi?" kekeh Chandra mencubit gemas pipi pacarnya yang panik sendiri begitu sadar kampus sudah sepi.

Lelaki itu terus mengawasi Bintang yang gelisah. Tapi Chandra tak peduli, ia merasa aman sebab mobilnya terlapisi kaca film yang tidak bisa terlihat dari luar dan bagian depan tertutup penuh oleh pelindung sinar matahari dari dalam. Intinya, tak akan ada yang melihat mereka kecuali sengaja mengintip dari dekat.

Tarikan lembut pada tengkuk belakang kembali terasa. Namun, Bintang dengan sigap menutup mulut Chandra sebelum kembali melumatnya. Kerutan pada alis rapi lelaki itu sedikit membuat Bintang tak enak hati. Tapi ia harus menghentikannya sekarang jika tak ingin dimakan penuh oleh sang pacar.

"Kenapa lagi, Yang?"

"Ki-kita gak pulang?"

Embusan napas kasar dari Chandra menerpa permukaan wajah Bintang. "Aku antar kamu sekarang pun masih macet, sayangnya Chandra," ucapnya sabar. Walau dalam hati sudah agak kesal. "Kecuali mampir bentar ke apart aku sambil nunggu jalanan lengang."

Oh, tidak. Itu lebih parah. Bintang akui dirinya nakal, tapi ia pun tau batasan.

Gadis itu tersenyum kikuk. "Aku lapar. Gimana kalau kita nunggunya di kafe depan kampus aja?"

"Bosan."

"Kenapa bosan? Perasaan kita baru sekali makan di sana."

"Itukan makan sama kamu. Tapi sering sama yang lain," batin Chandra malas.

"Gak tau bosan aja."

Kedipan mata Bintang bergerak cepat menyadari perubahan mood seniornya. "Yaudah kita balik aja. Biar aku yang nyetir kalau kamu malas macet-macetan."

"Kamu kenapa?!"

Pergerakan Bintang yang berniat bertukar posisi pun terhenti. Sorot penuh tanda tanya itu terlempar ke arah Chandra yang balik menatap kesal. Tak ada lagi kilat bergairah seperti beberapa menit lalu.

"Belakangan kamu jadi aneh. Selalu nolak kalau aku pegang, terkesan menghindar."

"Kamu tau batasanmu kan, Chan?"

"Iya tau! Kita udah jalan dua tahun dan selalu nolak setiap diajak ke apart? Kamu masih gak percaya sama aku?"

Di saat perempuan lain begitu mudah bertekuk lutut padanya. Lain hal dengan Bintang. Walau tak menolak ketika diajak bercumbu dan mengizinkan tangannya bergeriliya di dalam baju. Tapi tetap saja mengusik ego Chandra. Ada hal lebih yang ingin ia dapatkan dari Bintang, bukan perempuan lain yang selama ini dijadikannya pelampiasan.

"Lupain. Pakai seat belt-mu."

Sepanjang jalan, keduanya memilih bungkam. Kurang lebih Bintang sampai rumah lima belas menit lebih cepat dari perkiraan karena Chandra sempat ke apart untuk menukar mobil dengan Honda CBR150R-nya demi menghindari kemacetan, lalu pamit begitu saja setelah mengantarnya selamat sampai rumah.

Kegalauan Bintang tak berhenti di sana. Ketika di dapur hendak mengambil sebotol air dingin, ia menemukan notes di pintu kulkas. Pemberitahuan jika orang tuanya harus keluar kota setelah mendapat kabar eyang kakungnya kritis.

"Pasti lo gak baca grup? Mami Papi juga udah kabari lewat sana."

Suara bariton Angkasa menggema dari belakang Bintang. Sejak siang tadi Bintang memang belum ada memeriksa ponselnya.

Bintang bergumam lesu membenarkan ucapan abangnya sembari bersandar pada sisi kulkas. Ia masih kepikiran perihal kemarahan Chandra karena tertolak diajak bercinta. Jujur saja Bintang belum siap, meski sebenarnya ia juga sudah basah tak karuan akibat ciuman mereka tadi.

Satu senggolan di sikunya balik menyadarkan Bintang. "Lo kenapa deh? Galau bener."

"Ha? Gak apa-apa, capek aja. Senin udah mulai lab blok 19," bohong Bintang lancar.

"Minta bantu Jenan aja nanti. GTP* emang susah, zaman gue kuliah juga capek banget ngerjainnya. Harus pas waktu tanam gigi."

Gadis itu mendesis. "Malas. Banyak ngomel," cibir Bintang sebal.

Terakhir ketika blok 18 saat praktikum prostodonsia tentang Gigi Tiruan Lepasan saja, Jenan habis-habisan memarahinya karena salah meradir model gigi.**

Memang lelaki galak itu membantu, tapi Bintang harus kebal telinga dan bisik iri mahasiswa lain yang juga mupeng pengin dibantu Jenan.

Angkasa tertawa mengacak rambut adeknya. "Gak salah Jenan. Dia apa-apa cerita ke gue, emang lo-nya yang bego. Masa bedain caninus*** sama premolar**** aja ke balik."

"Ya namanya lupa! Bentuknya juga mirip."

"Beda banget, gila! Otak lo di mana, Dek. Lo kebanyakan pacaran gak jelas. Sama siapa tuh... Seto? Apa Bima ya?"

Kening Bintang berkerut tak kalah heran. Ia kenal nama-nama itu tapi jelas bukan deretan gebetan apalagi mantan pacarnya.

"Siapa anjir! Ngarang lo!"

"Lupalah gue. Tapi koas yang lagi di IPM***** itukan?"

"Namanya Chandra, bego!"

"Ha... iya. Chandra bego," beo Angkasa polos yang memancing kegeraman Bintang. Tapi ia tak peduli dan malah melanjutkan, "mukanya fakboi gitu malah lo pacarin!"

"Yang jomlo gak usah banyak komen."

Angkasa mendengus geli. "Ya itulah intinya. Yang banyak tahi lalat di mukanya kan, jorok banget asli."

Mau tak mau, cubitan maut Bintang mendarat pada lemak pinggul Angkasa. Enak saja mengatai pacarnya jorok, justru banyaknya tahi lalat di wajah Chandra semakin menambah aura seksi lelaki berkulit tan itu. Terlebih pada bagian leher yang tak pernah Bintang lupakan untuk meninggalkan bercak kemerahan di sana.

Belum puas menganiaya Angkasa, seruan Jenan mengaburkan segalanya. Lelaki berkaos oblong itu menerobos tanpa permisi melewati Bintang menuju kulkas. Namun, ia batal marah ketika mencium candu semerbak wangi maskulin dari tubuh Jenan.

"Baru pulang?"

"Ya lihatnya gimana?" sewot Bintang.

Jenan mengangguk singkat. "Gak heran sih, mobil cowok lo lama banget gerak dari parkiran, padahl mesinnya hidup terus," dengusnya geli.

Tenggorokan Bintang mendadak mengering, sementara Angkasa sudah kepo bertanya lebih lanjut. Tapi sebelum kedua lelaki dewasa itu menapaki tangga untuk ke lantai dua, Angkasa berteriak nyaring menyuruh adiknya membuka personal chat darinya yang sudah dikirimi sejak tadi sore.

Dengan rasa penasaran ia memeriksa, tepat ketika gema tawa milik kumpulan lelaki diatas sana terdengar hingga ke lantai bawah. Berhubung orang tua mereka tak ada di rumah dan besok adalah hari Sabtu alias liburnya anak kuliahan, Angkasa dkk membuat farewell party untuk Mas Bulan sebelum lanjut study ke Jepang dua hari lagi. Pantas saja lagi-lagi ia melihat wajah tampan Jenan bersliweran di rumahnya.

Tapi bukan di sana letak bagian suramnya, melainkan Bintang dipaksa angkat kaki dari rumah demi kebaikannya sendiri. Sebab sekarang hanya dialah perempuan satu-satunya diantara para pejantan tangguh yang lagi hura-hura.

Bintang mendengus seraya merampas kunci mobil yang sengaja Angkasa tingalkan di dekat meja makan. Setelah mandi dan membawa baju ganti, ia segera keluar rumah.

"Lah, gue baru sadar ini mobil pada bejejer di sini," gumamnya heran seblum bergersk memasuki mobil Jenan yang hari ini dibawanya kabur.

Pilihan Bintang sudah bulat. Ia berniat menyambangi kediaman Zora untuk dijadikan tempat menginap dadakan. Meskipun gadis itu menyebalkan, tapi Zora-lah yang paling akrab dengan Bintang di gengnya. Dan juga rumah Zora yang paling dekat dari jangkauannya, sebab masih satu kawasan komplek.

Kakinya baru saja menapaki paving blok halaman depan rumah Zora dan  melihat sepeda motor yang terparkir dekat posisinya berdiri.

"Punya Chandra bukan sih?" ragu Bintang memutari kendaraan sport tersebut.

Mau berburuk sangka, tapi ia mencoba berpikir jernih karena bukan hanya Chandra yang memiliki motor serupa. Lagian Bintang juga tak mengingat pasti plat kendaraannya.

Bintang tersenyum manis menyapa pembantu yang sudah mengenalnya.
"Sepi rumah, ya, Bik."

"Biasalah, Non. Tuan rumah pada sibuk kerja. Tapi neng Zora ada di atas. Sama pacarnya tadi datang."

Tak ada lagi lengkung manis pada bibir gadis itu. Perasaan gelisah campur takut bergerumul dalam benaknya ketika mendengar suara-suara laknat dari dalam kamar Zora yang belum tertutup sempurna.

Sedikit dorongan membuka sepetak kayu jati itu. Pandangannya tertuju pada beberapa pakaian yang tercecer dilantai. Napas Bintang tercekat menemui kemeja milik seseorang yang tadi mengantarnya pulang. Gadis itu menutup mulut demi meredam isakan ketika matanya menangkap sepasang muda-mudi yang tengah bergelut dalam kondisi polos tanpa sehelai benang pun.

Jika itu lelaki lain yang bersama Zora, Bintang tak akan merasa sesakit ini.

Tapi itu adalah... Chandra, kekasihnya sendiri bersama Zora, temannya.

🪥🪥🪥

NOTED :

*GTP: Gigi Tiruan Penuh

**Meradir model gigi: Gigi pada modelnya nanti dikikis hingga habis yang nantinya bakalan jadi lahan kerja buat lab.

***Caninus: Gigi taring.

****Premolar: Letaknya setelah gigi taring.

*****IPM: Ilmu Penyakit Mulut

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro