Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

29. Love You To The Bone

"Gue mau ngomong sesuatu."

"Apaan?"

"Love you to the bone."

"Uhuk!"

"Lagunya enak," lanjut Jenan masih dengen ekspresi lempeng bin kalem. Berbanding terbalik dengan wajah merah padam Bintang yang baru saja tersedak es krim.

"Weh. Santai, Dek," kekeh Angkasa melihat si bungsu.

Gadis yang masih terbatuk-batuk itu menatap nyalang ke arah Jenan dan Angkasa. Dalam hatinya sudah ngedumel habis-habisan. Perasaan judul lagunya hanya 'to the bone' saja, kenapa malah ada tambahan love you- nya di depan.

Mana, Jenan bicara sambil melihat kearahnya. Tak salahkan bila Bintang kaget?

Ibu jari Jenan tergerak memebersihkan sudut bibir Bintang yang jelepotan kena es krim. "Kenapa?" tanyanya heran membalas tatapan aneh Bintang.

"Dia cuma ngomong. Tapi gak ada maksud," jelas Angkasa sok tau dari sebrang meja.

Jelas-jelas ia melihat ada sesuatu dari sorot Jenan saat mengucapkan kalimat yang membuat adiknya sampai tersedak.

Lelaki kucel itu mendengus mengejek sebelum melempar wajah Jenan dengan tisu bekas. "Matanya tolong dijaga," ingat Angkasa.

Pandangan Jenan tak lepas dari Bintang yang mengacir ke dapur untuk mengambil minum. Namun, baru saja sampai meja makan lagi, tiba-tiba saja Bintang teriak.

"Astaga, gue lupa ada konser online! Aaa... Jaemin, saranghae!" pekik Bintang yang gegas memboyong es krim dan sekotak donat untuk di bawa ke kamar.

Baik Angkasa maupun Jenan sama-sama menghela napas melihat kelakuan satu-satunya gadis di rumah itu.

Kekehan ringan Angkasa memenuhi pendengaran Jenan. "Yang begitu sekarang selera lo?"

"Apa?"

"Jangan pura-pura bego. Lo pikir gue buta."

Jenan memutus kontak mata, menutupi gugup yang mendadak menyerang. Fokus lelaki itu balik terarah pada punggung sempit tunangannya yang yang sudah lenyap di ujung tangga.

Ia pun masih bertanya-tanya dalam hati, apa istilah yang tepat atas semua rasa yang kini menguasai perasaannya.

Hatinya menghangat setiap kali mendengar suara Bintang, menyukai setiap kali gadis itu tersenyum, cemberut, mengomel padanya, bertingkah aneh, sampai pose saat mengupil pun di mata Jenan terlihat begitu lucu. Merasa kurang jika sehari saja tak melihatnya, seolah ada sesuatu yang wajib Jenan lakukan jika tak mau seharian isi pikirannya penuh dengan bayangan Bintang. Ia akan sangat senang ketika si bungsu keluarga Andara itu merepotkannya, walau hanya untuk hal yang sederhana.  Membuat Jenan merasa dibutuhkan. Lalu ia akan marah bila melihat makhluk berjakun lain yang berani mendekati Bintang-nya. Ingin Jenan meninju setiap lelaki yang lancang membuat gadisnya tertawa. Ia tak suka jika bukan dirinya yang menjadi alasan di balik Bintang melengkungkan senyum bahagia. Dan sekarang, ia merasa sangat hampa karena Bintang seperti menjauhinya.

"Heh!" kejut Angkasa. "Ingat, Jen. Bukan berarti karena kita sahabatan, gue bisa semudah itu lepasin dia ke lo."

Hanya gumaman singkat yang mampu Jenan berikan.

Ia sudah menduga jika jalan ceritanya tak akan semulus paha model. Angkasa tau luar dalam busuk dirinya. Tak mungkin lelaki yang sangat menyayangi adiknya itu rela menyerahkan Bintang begitu saja pada bajingan sepertinya.

Masih banyak hal yang harus ia perbaiki, sebelum lancang mengakui jika hatinya sudah terjatuh pada gadis bermata cokelat cerah itu.

"Sebaiknya selesaikan dulu masa lalu lo."

🪥🪥🪥

"Kita ngapain di sini? Lo bilang cuma bantuin bawa belanjaan. Tapi kenapa malah ngajak nonton?!"

"Berisik."

"Ya jelas gue berisiklah. Kan—" Bintang mengulum bibirnya ketika lirikan tajam Jenan mendarat padanya.

Harusnya Bintang yang marah karena Jenan berbohong. Tadi Tariksa meminta tolong pada Jenan untuk pergi membelikan list bahan dapur yang sudah habis dengan Bintang yang terpaksa disuruh ikut bantu. Tapi, bukannya masuk ke supermarket yang ada di mall, lelaki itu tau-tau menariknya ke bioskop.

"Bahkan lo gak bilang ke gue kalau mau beli premiere?" protes Bintang lagi.

Namun, Jenan mana peduli. Ia tetap menarik pergelangan tangan gadis dalam genggamannya.

Selama sejam lebih di dalam bioskop, tadinya Bintang berniat menikmati jalan cerita kalau saja cengkraman dan nada kaget beserta umpatan dari lelaki di sampingnya itu tak mengganggu. Berulang kali Jenan terkejut saat film horor itu menampilkan jump scare. Baru itu juga Bintang tau kalau ternyata Jenan takut film horor, tapi entah apa motivasi lelaki itu malah mengajaknya nonton genre tersebut.

Mau modus? Tidak bisa, karena entah berapa kali kepala Jenan kena tampolan sadis Bintang yang merasa terganggu, berujung membuat gadis itu bad mood.

"Lo kalau takut film hantu harusnya gak usah nonton! Nyebelin!"

Lelaki yang dimarahi itu melirik sekilas sembari melanjutkan langkah. "Perasaan jadi cowok salah mulu gue," batin Jenan.

Angkasa bilang, adiknya ingin nonton The Conjuring 3. Tapi karena Angkasa sibuk makanya belum sempat menemani. Tapi kenapa saat Jenan mengajak malah berakhir kena semprot. Padahal ia berharapnya Bintang akan bersorak riang karena sudah diajak nonton.

Jenan mengaduh lirih merasakan cubitan di lengannya.

"Gak usah gandeng-gandeng, kita bukan truk gandeng!" seru Bintang mencoba melepaskan. Namun, justru membuat Jenan semakin mengeratkan pegangan.

"Iihh, Bang—"

"Diam. Sekali-kali nurut."

Bintang mengalah ketika Jenan menautkan jari mereka. Menyalurkan rasa hangat pada genggaman mungil Bintang.

Akibatnya kegiatan mengambil list belanjaan Tariksa pun jadi terasa lebih lama, sebab Jenan sama sekali tak mau melepaskan jalinan tangan mereka. Seolah Bintang akan menghilang dari bumi kalau sampai lelaki itu melepasnya.

"Bang," panggil Bintang jengah. Malu karena dilihatin banyak orang sekaligus sebal melihat Jenan diperhatikan ciwi-ciwi di sekitar sana. "Lepas, deh."

"Gak."

"Susah ambil barangnya."

"Gak."

Lagi, Bintang hanya menghela napas malas. Memang yang mendorong troli sampai mengambil barang-barang pun adalah Jenan menggunakan sebelah tangan bebasnya.

"Lo kenapa, sih?! Aneh!"

Jenan tak menjawab dan terus melanjutkan kegiatannya.

Butuh waktu satu jam dua puluh tujuh menit lima belas detik sampai akhirnya seluruh belanjaan itu masuk ke dalam bagasi mobil.

Di dalam kendaraan Jenan, Bintang memilih diam. Kesal dengan sikap Jenan yang seenaknya karena sangat berpengaruh pada suasana hati Bintang. Senang tapi harus tersiksa saat teringat kenyataan. Fakta kalau sebentar lagi pertunangannya dengan Jenan akan segera berakhir.

"Tumben mandiri pakai seat belt. Mau ke mana lagi?" tanya Jenan setelahnya.

"Pulang."

Kepala tampan lelaki di jok kemudi itu menoleh cepat. "Cepat amat. Satnight loh ini kalau lo lupa."

"Ya terus?"

"Gak mau malam mingguan sama gue?" Sorot Jenan yang semula dingin itu terlihat penuh harap ketika menatap gadis di sebelahnya.

Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Bintang, tapi tak punya cukup nyali untuk mengatakan langsung.

"Ngapain malam mingguan sama lo. Gak penting."

Jenan tersenyum kecut. "Anggap aja salam perpisahan. Minggu depankan kita udahan."

Lirih, tapi Bintang masih bisa mendengarnya jelas. Namun, ia tak berniat mengatakan apapun. Memang sudah seharusnya kontrak mereka selesai. Jenan telah bertemu dengan Karina dan yang Bintang tau, mereka memiliki anak. Wanita yang menjadi penghuni hati Jenan bertahun-tahun itu akan segera cerai dengan suaminya yang sekarang. Tentu bagi Bintang tak akan ada harapan lagi untuk memenangkan perasaan Jenan, sebab dari awalpun ia sudah kalah. Jauh kalah.

Kebanyakan melamun, Bintang tak sadar jika mobil Jenan sudah berbelok memasuki kawasan apatertemen lelaki itu.

"Kok ke—"

"Ke sini bentar. Jalan ke arah rumah lo lagi macet parah," jawab Jenan.

Ia tau kabar itu dari Angkasa yang sejak sejam lalu terjebak macat di arah sana karena ada pohon tumbang.

Bintang tak banyak protes dan lagi-lagi hanya mengikut pasrah ketika ditarik Jenan.

"Anggap aja rumah sendiri," celetuk Jenan sebelum menghilang masuk ke kamar.

Bintang yang tertinggal di ruang tv pun segera melempar bokong sintalnya di atas sofa dan meraih remote.

"Netflix?"

"And chill," sambung Bintang dalam hati.

Dulu ia sangat senang menghoda Jenan dengan kalimat penuh makna 'iya-iya' ala orang Amerika itu. Berakhir hampir saja mereka bercocok tanam kalau saja Angkasa tak menelpon Jenan.

"Gak. Mau nonton Disney HotStar aja," ketus Bintang yang mengundang tawa kecil Jenan.

Tanpa rasa canggung lelaki itu menyandarkan kepalanya di bahu Bintang dengan tangan yang menggenggam erat sebelah tangan gadis tersebut lalu mengecupnya lumayan lama.

"Bang—"

"Sebentar aja."

"Ck! Lo kenapa sih?!"

Kepala Jenan menoleh, menatap lekat Bintang yang terheran sendiri.

"Sisa berapa hari lagi?"

Kelopak mata Bintang berkedip cepat menghalau rasa panas yang tiba-tiba saja menguasai. Gadis itu melempar pandang ke arah tv demi menghindari tatapan Jenan.

"Semingguan paling. Entah gak gue hitung," bohongnya.

Jenan tersenyum hambar. "Cepat ya. Rasanya kayak baru kemarin kita tunangan."

Bintang hanya diam.

"Bintang," panggil Jenan lembut. "Lihat gue."

"Ck! Apa?!"

"Lo beneran mau kita udahan?"

Bintang tertawa sarkas menutupi sedihnya. "Menurut lo?!"

"Bukannya lo naksir gue?"

Wajah gadis itu berubah dingin, berbanding tebalik dengan hatinya. "Keep dreaming Jenan Alpinia Galanga!"

Lagi, Jenan tersenyum kecut. "Jadi cuma gue yang ge-er, ya?"

"Iya kali. Lo lupa udah punya Mbak Karina dan anak kalian? Dan kita sama sekali gak ada harapan, lo harus tanggung jawab sama mantan lo itu!"

"Bin—"

"Please jangan jadi cowok brengsek."

Jenan menghela napas panjang. Sekarang ia tau kenapa gadis dihadapannya itu terlihat mati-matian menyembunyikan perasaan.

"Fine. Segera gue bakal bilang ke orang tua kita kalau gak bisa lanjut lagi."

🪥🪥🪥

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro