Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

21. Almost Kiss

"Ya tau sendiri mobil gue dibajak Kasa jelek," adu Bintang lewat sambungan telepon.

Langkah kaki teraturnya membawa gadis itu ke arah lobby fakultas.

Benda pipih itu terapit di antara bahu dan telinga selagi Bintang membenarkan letak tas selempang di sisi berlawanan, sebab sebelah tangan gadis itu sudah penuh membawa toollbox.

Sebenarnya tadi banyak buaya yang hendak bermodus ria lewat menawari bantuan. Hanya saja Bintang lagi malas tebar pesona dan kabur dengan alasan supirnya sudah melepon, padahal itu panggilan dari Maraka.

Di sembrang sana Maraka mendesah kecewa karena tak bisa menjemputnya seperti kemarin-kemarin.

"Chill, Babe. Masih ada next t—"

TUT!

Kalimat buaya betina Bintang terpaksa terputus setelah alat komunikasi itu dirampas mendadak. Ia berbalik, pupil mata gadis itu membesar kala mendapati seseorang di belakangnya. Sosok tanpa ekspresi dengan sorot tajam yang begitu santai memasukan ponselnya ke dalam saku snelli.

"Chill, Babe?" Satu sentilan pada dahi mulus Bintang pun menyadarkannya dari keterkejutan.

"Kebiasan. Kalau siap lab langsung kabur," cetus Jenan.

Baru sebentar lengah, tau-tau gadis yang menjadi tunangannya tersebut sudah mengacir keluar.

Jenan melirik sekitar. Banyak mahasiswa yang tengah memerhatikan dirinya dan Bintang dengan tatapan haus informasi alias kepo. Wajar saja, mereka tak pernah terlibat percakapan apa pun selain di lab dan kelas, itupun karena Jenan memarahi Bintang.

Namun, Jenan tak peduli, itu yang di mau. Satu fakultas harus tau jika ia dan Bintang punya sesuatu, agar tidak ada lagi makhluk berjakun—terutama Chandra—berani mendekati gadis bernama Sectiona Bintang Caesara.

Kelopak mata Bintang berdekip beberapa kali sebelum melotot galak. "Lo ngapain?!" tanyanya dengan nada berbisik. "Hp gue!"

"Sayang, kan aku udah bilang tunggu sebentar. Kenapa malah jalan duluan?"

Biji mata Bintang di dalam sana seperti hendak keluar menatap Jenan.

Tolong, rasanya ia ingin berubah menjadi transparan saat lelaki dihadapannya begitu mudah menyebutnya sayang di keramaian! Di depan orang banyak!

"Wah... mabok nih orang," gumam Bintang kebat-kebit.

Pandangannya bergerak panik sampai membeku pada seseorang yang tak jauh di depan sana. Chandra— lelaki itu dengan serius mengamati Bintang dan Jenan. Niat hati ingin menghampiri sang mantan, tapi langkahnya kalah cepat dengan residen prostodonsia tersebut.

Apa tadi? Sayang?

Langkah Chandra sampai berhenti dadakan ketika mendengar enam huruf itu keluar dari mulut Jenan.

"Iya, sayang. Kamu laparkan? Ayo kita pulang."

Tas tenteng dan kotak plastik dengan berat lumayan dalam genggaman Bintang pun berpindah ke Jenan. Belum sampai di sana, lelaki itu mempertegas asumsi 'iya-iya' para netijen kampus dengan menggandeng tangan bebas Bintang dan membawanya ke parkiran. Melewati Chandra dengan senyum tipis penuh kemenangan.

Dalam keadaan syok berat, tentu saja gadis dalam kuasa Jenan itu hanya menurut. Tak ingin lama-lama menjadi bahan tontonan gratis.

Setelah pintu mobil tertutup, Bintang sudah bersiap melontarkan bom ocehan. Namun, belum apa-apa, sorot tajam dari mata elang Jenan lebih dulu membungkamnya.

"Diam. Kalau gak mau gue cium."

Bintang mendelik kesal.

Tapi begitu pun ia tak punya nyali untuk bersuara. Mentalnya belum siap menerima imbas dari ancaman Jenan dan hanya memerhatikan gerakan lelaki itu yang melepas snelli, lalu menggantungnya pada cantolan di jok belakang kursi Bintang yang lagi-lagi membuat gadis itu melotot.

Melihat wajah ekspresif tunangannya yang terus terkaget-kaget, mau tak mau kekehan kecil Jenan lolos. Memancing keluar jiwa usilnya untuk mengerjai. Dengan sengaja Jenan semakin mendekatkan wajah mereka, hidung mancung lelaki itu berhenti tepat di samping pipi mulus Bintang yang kentara sekali menegang gugup. Pada jarak sedekat itu, Jenan sempat terdiam kala indera penciumannya dipenuhi  aroma vanila yang berasal dari tubuh Bintang.

Belum sempat kalimat diujung lidah lelaki itu terlontar. Suara mengaduh keluar dari bibir seksi lelaki itu.

Jenan memegang jidatnya yang barusan kena jitak.

"Jangan dipikir karena gue udah biasa kissing, terus lo bisa cium-cium juga!"

"Siapa yang mau cium lo?!" kilah Jenan, masih mengelus batok kepalanya yang berdenyut.

"Ya lo lah!"

Dada bidang Jenan terdorong cukup kuat sampai yang punya kembali ke posisi sewajarnya.

Niat usil, jidatnya malah kena getok.

Meskipun jantungnya sedang dangdut koplo karena takut campur salting,  Bintang tetap memlototi Jenan.

"Apa?"

"Apa?!" ulang Bintang dramatis. "Itu tadi ngapain pakai sayang-sayang? Sayang kepala lo peyang?!"

Jenan mendecih lirih. "Memangnya kenapa?"

Rahang bawah Bintang terjatuh begitu saja, ia menganga tanpa kata setelah mendengar jawaban santai Jenan.

"Kenapa kata lo?" lirih Bintang syok. Ia ingin memaki Jenan, tapi semua itu seolah tertahan begitu lelaki di sampingnya menoleh.

Jenan menyeringai. "Gak ada salahnya gue panggil sayang ke tunangan sendirikan?"

TAK!

"ARGH! Bintang!" pekik Jenan mengusap keningnya yang lagi-lagi kena jitak.

"Sakit otak lo ya?" heran Bintang memundurkan diri lebih merapat pada pintu. "Abang salah makan?"

Jenan hanya merotasikan malas kedua bola matanya sebelum memasang sabuk pengaman dan bergegas melajukan mobil keluar fakultas.

"Pakai seat belt-nya," cuek Jenan.

Kepala Bintang menggeleng cepat meraih sabuk pengaman, tak mau bila sampai Jenan sok romantis memakaikannya lagi.

"Gak—gak mungkin," monolog gadis itu. "Gak mungkin. Eh tapi bisa jadi sih."

Dari tempatnya, sesekali Jenan hanya melirik penuh tanda tanya. Kuping tajamnya terus terfokus menangkap setiap kalimat lirih yang kekuar dari arah Bintang.

"Gak mungkin, tapi bisa aja. Kan gue cantik."

"Lo ngomong apa?"

"Jangan bilang—"

Alis Jenan berkerut heran. Masih dengan lirikan, lelaki itu meraih botol mineral di sampingnya dan meminum airnya.

Telunjuk Bintang menoel pelan pipi gembung Jenan. "Janga bilang—"

"JANGAN BILANG LO NAKSIR SAMA GUE?!"

"Uhuk!"

Sisa air dalam mulut lelaki itu muncrat tak beraturan akibat Jenan yang kaget dengan suara toa Bintang di akhir kalimat. Untung saja bukan wajah Bintang yang menjadi sasarannya.

Lirikan tajam lelaki itu langsung mendarat mulus pada Bintang yang ikut kaget menutup mulutnya. Tak sangka jika Jenan akan sekaget itu. Takut-takut Bintang melempar tisu beserta kotaknya pada Jenan yang semakin melotot.

"Lo—"

"Jorok banget, sih. Bersihin," cicit Bintang lagi.

Ia meringkuk menjauh. Takut membuat lelaki di sampingnya kelepasan mencekik karena barusan habis dikerjain. Dalam hati, Bintang tertawa puas.

"Pembalasan," batin Bintang.

Jenan menghela napas panjang, sabar-sabar menghadapi pola tingkah adik sahabatnya itu.

"Lo jangan baper. Gue punya alasan sendiri kenapa manggil lo sayang tadi," ucap Jenan setelah menguasai rasa kesalnya.

"Kenapa? Karena lo udah kecantol.pesona gue kan?"

Tawa sarkas itu lolos dari mulut Jenan. "Itu sih mimpi lo."

"Ya terus?"

"Risih."

"Risih karena cemburu?"

Pletak!

Bintang meringis mengusap jidatnya. Gantian kali ini Jenan yang melayangkan sebuah jitakan sadis.

"Gak usah mengharap," ketus lelaki itu.

Bintang berdecak sebal. "Ya terus apa? Lo ngomong tuh yang jelas, malah setengah-setengah kayak barang diskonan!"

"Bawel."

"Ck! Gue bawel karena punya mulut. Lagian lo pakai segala nyebut gue say—"

"Sekali lagi lo ngomong, gue cium."

"Dih, bodo amat. Paling cum—"

Mata Bintang mendelik kaget ketika kepala tegas lelaki itu benar-benar hampir mengikis jarak mereka. Iris cokelat terang Bintang bergerak gelisah menatap Jenan.

Jenan menyeringai menang. "Mumpung lampu merah. Lo beneran minta gue cium, hm?"

🪥🪥🪥

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro