Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

20. Tidur

Mau baca cerita menarik yang lain? Jangan lupa mampir ke fizzo--> kumbangmerah

🩹🩹🩹

"Gak usah pulang sekalian! Udah bawa lari mobil anak orang!" semprot Angkasa meluapkan kekhawatirannya.

Buru-buru Bintang menghampiri Maraka yang juga menunggunya bersama Angakasa dan Jenan di luar rumah. Bedanya jika ia dan saudara laki-laki Bintang itu menunggu sampai keluar gerbang, sedangkan Jenan duduk santai di ayunan taman depan rumah sambil nge-push rank mobile legend.

"Maraka sorry. Ramai banget tadi."

Lelaki blasteran itu tersenyum manis. "Never mind, babe yang penting kamu happy."

"Ck, gatel kuping gue!"

Seruan tiba-tiba Jenan kontan saja mengalihkan perhatian tiga orang yang tak jauh darinya itu.

Merasa diperhatikan, kepala Jenan mendongak linglung lalu berkata, "oh... sorry-sorry. Ada nyamuk tadi."

Bintang mencibir sebal. "Oiya Markie. Ini." Sebuah bungkusan berplastik bening terulur pada Maraka.

"Lho?"

"Tadi udah makan di sana. Ini sekalian beli buat lo, cobain deh. Enak banget," bohong Bintang.

Bukan menipu soal rasa nasi goreng Bang Madun, tetapi bohong perihal ia sudah makan.

Faktanya lapar Bintang menguap begitu bertemu Chandra dan meminta porsinya dibungkus saja untuk dibawa pulang.

Terlalu lama berhadapan dengan lelaki yang masih membekas di hatinya tersebut, entah kenapa membuat Bintang ingin menangis detik itu juga. Marah pada Chandra yang telah tega mengkhianati kesetiaannya. Marah karena ternyata lelaki itu masih tetap berkuasa dihatinya, bahkan setelah beberapa bulan perpisahan mereka.

Maraka menerima dengan senang hati. "Thanks, by. Tapi aku makannya di apart aja gak apa-apa ya? Udah malem, kamu kan harus istirahat."

Bintang mengangguk singkat diiringi senyum tipis. "Sorry, jadi kelamaan pulang."

"Santuy, babe." Tangan Maraka terulur mengusak gemas kepala Bintang yang setelahnya menghambur memeluk.

Bagai dunia milik berdua. Baik Maraka maupun Bintang seolah lupa masih ada Angkasa—si jomlo karatan yang sejak tadi memerhatikan mereka di sana.

Tangan lelaki itu melambai-lambai mencoba menyadarkan dua muda-mudi tersebut. "Bagus! Lupakan aja kalau ada gue di sini, guys. Lupakan!"

"Ye... makanya pergi sana."

"Harusnya yang pergi itu dia." Satu tarikan tegas berhasil melepas Bintang dari dekapan Maraka. "Sembarangan peluk-peluk tunangan orang!"

"Bang Jenan!"

Bintang mencoba melepaskan diri. Tapi lelaki berwajah dingin itu justru beralih memeluk erat tubuh mungil Bintang dari belakang.

Dengusan kecil Maraka lolos sebagai tanggapan. Mata tajamnya menusuk dalam pada Jenan yang tersenyum simpul.

"Pulang sana," usir Jenan sadis.

Tadinya Maraka hendak membalas, kalau saja Angkasa tak lebih dulu bersuara sembari menampol kepala Jenan karena lancang peluk-peluk adik kesayangannya.

"Lo juga, Ka. Cabut sana. Awas kalau berani peluk adek gue lagi!"

🪥🪥🪥

"Tidur. Malah menggalau!"

Perhatian Bintang yang semula fokus memandangi langit dari balkon pun beralih ke arah samping, tempat balkon kamar Angkasa yang kini dihuni oleh Jenan.

Lelaki berahang tegas itu balik menyorot tanpa ekspresi. Datar dan terkesan dingin.

"Tidur."

Gadis muda itu mempererat lilitan bed cover. "Ngatur banget. Lupa sama janji sebelum tunangan?"

Yaitu gak akan mencampuri urusan masing-masing. Tapi Jenan justru melanggar beberapa kali dalam seharian ini.

"Gue ngatur juga ada evidence base-nya. Lo aja yang gak baca kontrak." Dari langit malam, Jenan balik menoleh melihat tunangannya. "Nomor tiga, bagian aturan jam malam. Pihak pertama, yaitu gue. Berhak mengatur jam istirahat pihak ke dua, yaitu lo, jika sudah memasuki masanya. Contoh seperti sekarang, waktu bocah kayak lo untuk tidur."

Rahang bawah Bintang jatuh terplongo.

Ia memang sudah membaca kontrak sialan itu, tapi lupa apa saja isinya karena malas mengingat. Di dalam sana hanya penuh dengan aturan yang memberatkan Bintang sepihak.

Kalau melanggar, auto kena denda seratus ribu per peraturan yang dibayarkan kepada Angkasa.

Abanya itu memang pintar mencari kesempatan dalam kesimpitan!

"Ck! Gak ngantuk," decak Bintang.

Tadi siang sehabis Maraka mengantar ke rumah, sampai sore Bintang molor dalam peluk hangat teman kecilnya itu. Berimbas sekarang ia jadi kancilan, tak mengantuk sama sekali walau sudah hampir tengah malam.

"Tidur. Besok kuliah."

"Gak ada kelas pagi. Masuk siang, cuma buat lab."

"Jawab aja terus."

"Ya kan gue punya mulut," balas Bintang lagi.

Gadis mengulum bibir dalam, tersadar baru saja melakukan hal gila karena berani melawani omongan Jenan terus-terusan.

Lelaki tanpa ekspresi itu menghadapkan kepalanya ke samping, memerhatikan Bintang lurus-lurus. Hal yang membuat nyali gadis itu terjun bebas dan tak berani menatap balik.

"Udah belajar buat lab besok?" tanya Jenan kalem.

Namun, memberi efek jedar-jedor pada jantung Bintang yang mendadak berdisko.

Gadis itu tergagap, "be—belajar?" Kepala Bintang menggeleng jujur.

Nanti kalau jawab sudah, pasti Jenan malah melempar pertanyaan untuk mengetes kemampuannya.

Sebelah sudut bibir Jenan terangkat mengejek. "Bagus. Kalau tetap gak mau tidur, siap-siap aja besok gue responsi. Dan sampai gak bisa jawab...," gantung lelaki itu. "Satu grup lo bakal dikeluarin dari ruang lab."

"Iiiih!! Kok gitu?!"

"Gak usah banyak protes. Makanya tidur."

"Gak bisa tidur!" seru Bintang lagi, tapi kali ini terdengar lebih manja.

Bibir kemerahan gadis itu mencebik sebal menatap Jenan yang justru terkekeh kecil.

"Terus lo mau apa? Minta gue tidurin lo sampai ketiduran?"

"Iiihh, Bang Jenan! Aduin ke Bang Kasa ya!"

Punggung kokoh lelaki itu berbalik sekilas menatap arah belakang untuk memeriksa sesuatu.

"Jangan berisik. Abang lo udah molor," ucapnya begitu menemukan Angkasa telah tak sadarkan diri di kasur dengan mulut setengah menganga.

Seminggu terakhir ini Angkasa sibuk mengurus banyak hal, mulai dari mengejar mengerjakan kasus pasien, sampai direpotkan mengawasi persiapan acara BKGN atau bulan kesehatan gigi nasional yang sebentar lagi akan diadakan fakultas mereka. Jenan juga sama sibuknya, tapi lebih parah lagi tugas Angkasa yang dipercaya sebagai ketua panitia.

Lagi-lagi Bintang hanya bisa manyun sembari berdecak. Pantas saja tunangan menyebalkannya itu berani berkata yang tidak-tidak.

"Cepat banget dia tidurnya," gumam Bintang.

Ia sempat berharap Angkasa mengomeli Jenan lagi seperti di teras tadi. Hatinya puas melihat abangnya itu menendang Jenan.

"Makanya buruan tidur juga sana."

Bintang tak menjawab apapun selain berkedip-kedip manja.

Ia ingin di puk-puk in sebagai pengantar tidur. Tapi Angkasa sudah lebih dulu menjelajah pulau kapuk. Mau minta Jenan yang melakukannya, tapi— sama saja artinya dia minta diserang.

"Apa lihat-lihat?" galak Bintang yang menggundang kerutan heran pada dahi mulus Jenan.

Lelaki itu menggeleng-geleng, paham akan isi kepala Bintang yang memang suka korslet. Padahal jelas-jelas gadis itu yang melihatnya sejak tadi.

"Bintang."

"Hmm?" gumam si empunya nama. Takut-takut melirik Jenan.

"Tidur. Atau— gue tidurin beneran?"

Hanya butuh tiga detik sampai suara bantingan pintu balkon dari kamar Bintang terdengar, diiringi bunyi kuncian tergesa.

"JENAN MESUM! BESOK GUE ADUIN BANG KASA!"

🪥🪥🪥

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Ancaman Jenan memang suka ngadi-ngadi ck...ck...ck...

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro