Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

19. Tamu Bintang (2)

"Lucky I'm in love with my best friend."

"Lucky to have been where I have been."

"Lucky to be coming home a—"

"Mark...," rengek Bintang seraya menyenderkan kepala pada punggung lelaki yang sejak tadi menghiburnya.

"Yes, babe? You need something?"

Bintang mengangguk lemah. "Hug me, please," manjanya merentangkan tangan. "Dingin."

Sebenarnya tadi mereka sudah peluk-pelukan bak teletubbies, sampai ujungnya Bintang ngidam pengin dengar suara merdu si penyanyi ibukota dan melerai pelukan. Tapi baru sebentar dilepas, ia malah minta dipeluk lagi.

Bintang memang semanja itu kalau lagi kedatangan tamu langganan.

Maraka terkekeh senang. "Gak mau masuk aja? Udah gelap juga," tawarnya yang dibalas gelengan lemah oleh Bintang.

Namun, belum lagi Maraka membawa gadisnya dalam dekap hangat, pintu balkon kamar terbuka menampilkan sosok tegap berwajah dingin di sana.

Maraka mengenalnya sebagai saingan nomor satu yang wajib diwaspadai a.k.a Jenan Alpinia Galanga atau si lengkuas.

"Balik dari jam berapa? Kenapa gak bilang?"

"Tadi siang, sama gue," jawab Maraka mewakilkan Bintang yang terlihat tak minat menjawab.

Sebelah alis Jenan terangkat mengejek. "Bolos? Terus malah berduaan di sini?"

"Dosennya juga gak masuk."

"Yakin gak masuk?"

"Lo kenapa malah nuduh dia begitu."

"Gue gak bicara sama lo."

Sorot tajam Jenan menatap lurus pada Maraka yang juga membalas hal yang sama, sampai Bintang mendengus sebal  memerhatikan keduanya.

Gadis itu menampol pelan pipi Maraka dan melempar sendal rumah ke arah Jenan. "Kenapa, sih?! Berisik banget! Laper tau!"

Bintang segera bangkit dan merampas kunci mobil Maraka di atas meja, sebelum kabur meninggalkan dua lelaki yang berteriak heboh di belakangnya. Tidak, tapi tiga lelaki karena Angkasa ikutan panik setelah mendengar keributan Maraka dan Jenan dari luar rumah.

"Mau jajan bentar. Jangan ganggu!" seru Bintang terakhir kali sebelum tancap gas.

Terlalu random. Melihat Jenan, entah mengapa membuat Bintang teringat nasi goreng.

Mobil curian itu menepi di pedagang nasi goreng langganan dekat simpang komplek. Bibir tebal Bintang bersenandung riang menghampiri sang penjual yang juga sudah mengenalnya.

"Nasgor, Neng?" tawar Bang Madun, namanya.

Mata Bintang reflek berotasi malas. "Enggak, Bang. Mau pizzanya satu yang biasa, ya."

Bang Madun tertawa lepas. "Bisa aja, Neng. Udah lama gak ke mari, lagi diet ya? Tumben sendirian juga, biasa sama mas-mas yang ganteng itu."

Asli, mood Bintang langsung terjun bebas kala diingatkan pada sosok Chandra. Kenapa orang-orang disekelilingnya seolah tak mendukung untuk membiarkannya bahagia, barang sebentar saja.

Tadi di rumah, Jenan mengganggu waktunya bersama Maraka. Sekarang, saat Bintang senang karena mau makan nasi goreng justru harus teringat Chandra yang dulu sering mengajaknya ngapel ke sini kalau sedang bulan tua.

Embusan napas kasar keluar dari mulut Bintang. "Orangnya udah mati, Bang."

"innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kapan, Neng? Perasaan—"

Bintang tak berniat meladeni lagi dan segera memilih bangku. Namun belum juga ia menetralkan emosi, detik berikutnya suara heboh bang Madun di ujung sana kembali menumpuk kekesalannya.

"Oh, lagi berantem. Pantesan Neng Bintang cemberut gitu. Sampai dibilang udah mati."

Tak perlu berbalik untuk melihat pun, Bintang sudah hapal pemilik suara ceria yang tadi terkekeh bersama Bang Madun. Lelaki yang kini dengan santai duduk di hadapannya.

"Manyun mulu astaga. Kode minta kiss apa gimana?" goda Chandra senang.

Memang keberuntungan anak baik.
Habis dapat jatah kecil-kecilan, sekarang ia ketiban rejeki nomplok dengan bertemu mantan terindah.

Bintang menghela napas panjang. Tak sudi mengeluarkan suara, ia langsung pindah ke meja lain sembari menunggu makanannya.

"Bawa pulang gak ya? Ck! Tapi malas ada Jenan," batin Bintang berpikir.

Padahal jarang-jarang bisa bertemu Maraka, tapi kenapa lagi-lagi tunangan setahunnya itu harus mengganggu.

Lamunan Bintang terpecah ketika merasakan sesuatu menyelimuti bahunya.

"Udah tau keluar malam, bukannya pakai jaket," omel Chandra.

Lelaki itu baru saja melampirkan jaket kulitnya begitu melihat Bintang memeluk diri sendiri demi menghangatkan tubuh.

"Jangan dilepas kalau gak mau gue peluk," lanjut Chandra cepat yang berhasil menghentikan pergerakan Bintang.

Gadis itu hanya berdecak kesal dan membuang pandangan ke arah lain. Ia sedang marah dengan diri sendiri, karena masih juga terpesona ketika melihat lelaki di depannya itu jidatan alias mode hair up alias lagi model rambut yang selalu membuat jantung Bintang dangdutan.

"Kuliah kamu gimana? Dengar-dengar nilai ujian kemarin dapat B."

"Dengar dari Zora maksudnya?" sarkas Bintang. "Gak usah repot peduliin gue lagi. Kita itu udah se.le.sai!"

Chandra tersenyum kecut, tertampar kenyataan. "Jadi kita beneran selesai, By?"

"Stop call me with By!"

"Bi for Bintang," jelas Chandra yang membuat gadis di hadapannya mati kutu.

Lagi-lagi Bintang berdecak sebal. Mau makan saja harus banyak cobaan.

"Bi...."

"Ck! Apa?!"

"Galaknya," gumam Chandra. "Perut kamu gimana? Masih keram? Obat yang aku kasih tadi siang diminum gak?"

Kepala Bintang menoleh cepat menyorot Chandra. "Jadi itu dari lo? Banyak banget beli dua!"

Wajah santai Chandra berganti bingung. Seingatnya ia hanya membelikan satu untuk Bintang yang dititipkan ke teman sekelas gadis itu.

Detik terus berlalu, meja di sudut warung nasgor itu pun hanya diselimuti keheningan. Bintang enggan menatap Chandra, sementara lelaki itu tak tertarik menatap arah lain selain gadisnya.

"Bi," panggil Chandra lembut.

"Ck! Apa lagi?!"

"Aku masih sayang sama kamu."

Bintang tertawa sarkas. "Masih sayang? Mabuk lo? Ngaku sayang tapi lanjut terus sama Zora!"

Bintang berusaha menjauhi Chandra, tapi bukan berarti ia tidak kepo.

Layaknya perempuan yang putus di waktu lagi sayang-sayangnya, kadang otak gesrek Bintang masih kepikirkan Chandra dan berujung men-stalker ig lelaki itu. Bahkan terakhir kali coba masuk ke akun instagram Chandra, password lelaki itu belum berganti. Masih memakai nama lengkap yang dicampur tanggal lahir Bintang.

Namun, yah... ujung-ujungnya ia nangis sendiri sewaktu membaca deretan direct message mantannya yang tebar gombalan manis sana-sini.

"Gue tau, lo mampir ke sini juga pasti habis dari rumah Zora. Ngaku deh!"

Koas tahun pertama itu terdiam cukup lama merutuki kebodohannya.

"Iya maaf."

"Gak perlu minta maaf. Itu hak lo, kan kita juga bukan siapa-siapa lagi," ketus Bintang senewen. Menutupi sesak dadanya setiap kali mempertegas hubungan mereka.

"Maaf," lirih Chandra merasa bersalah melihat mata berkaca Bintang yang menahan tangis.

"Stop minta maaf! Iiih! Lo bego, ya?!"

"Iya bego karena udah buat kamu pergi." Chandra tersenyum pahit memaki diri dalam hati. "Kamu tau g—"

"Enggak! Gak tau! Bodo amat anjink, tahi cicak!"

Mau tak mau gelak tawa Chandra terhambur keluar mendengar celotehan cepat itu.

Padahal suasana mereka tengah mellow, tapi ada saja tingkah Bintang yang menghancurkan atmosfer sedih Chandra.

"Aku belakangan sering ke mari, lho."

"Perasaan belum tanggal tua. Kenapa? Mendadak kismin lo akibat jajanin banyak cewek?!"

"Bukan. Tapi mau nostalgia masa kita dulu."

Dari sekian banyak perempuan yang Chandra ajak jalan, cuma Bintang satu-satunya yang tak pernah protes di bawa makan ke mana saja. Meski cuma dijajanin cilok gocengan di depan kampus saja pun gadis itu sudah kegirangan.

Noted! Cuma berlaku jika Chandra yang membelikan.

Itu juga salah satu keistimewaan Bintang di mata Chandra, sisi yang membuat lelaki itu merasa kosong setelah mereka putus.

Biasa ada Bintang yang bisa diajak berburu makanan pinggir jalan, menemaninya ke mana saja, memanjakannya, mengomelinya. Walaupun sekarang ada beberapa yang melakukan itu bersama Chandra, tapi semua terasa berbeda. Hampa.

"Gak modal emang lo. Tiba miskin datangnya ke gue. Coba waktu kaya, malah jalan sama cewek lain," dumel Bintang mengeluarkan semua uneg-uneg.

Gak mau ditahan karena takut jadi jerawat, katanya.

"Memang aku jalan sama siapa?"

"Mana gue tau! Cuma Tuhan, lo, dan para gebetan lo lah yang tau!"

Chandra mengusap tenguknya yang tak gatal. "Iya deh iya."

"Dasar buaya!"

"Kayak kamu enggak aja."

"Dih, kalau gue sih masih sadar dulu punya lo."

"Terus kalau sekarang?"

"Ya bebaslah. Gak ada yang posesif lagi!"

Chandra menghirup napas dalam menatap lurus ke arah Bintang. "Kita emang udah putus. Tapi aku harap kamu juga jangan sembarangan jalan sama cowok. Gak kasian sama aku?"

Alis rapi Bintang berkerut tak mengerti.

Jauh dari kesadaran Bintang. Di belakang sana entah sudah berapa mulut yang Chandra hajar karena berani menjelek-jelekan mantannya.

Lelaki berkulit tan itu tersenyum manis. "Love you too, by."

🪥🪥🪥

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro