Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

10. Kenapa?

"Hah?!"

Hanya tiga huruf itu yang mampu Bintang lontarkan sebagai tanggapan. Bola matanya melotot kaget menyorot ekspresi kalem Jenan di sampingnya.

Lelaki itu menoleh malas kemudian memperingatkan,"jangan pingsan dulu. Gue belum—"

"Stop! Gue gak kuat buat dengar lanjutannya." Langkah Bintang sempoyongan ke belakang hingga terduduk di kursi dekat pinggir kolam.

Mungkin dia gila, jika masih bisa merasa baik-baik saja saat Jenan menegaskan ingin bertunangan dengannya. Membayangkan mereka terikat dalam suatu hubungan seperti itu tak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran Bintang, sebab Jenan terlalu sulit terjangkau. Segala sifat lelaki itu adalah keterbalikan dari dirinya.

Entah nanti Jenan atau Bintanglah yang akan sakit jiwa kalau sempat mereka berdua jadi tunangan sungguhan. Belum lagi jika ini terus berlanjut ke jenjang pernikahan.

Sudahlah, Bintang ingin meminum liquid akrilik saja rasanya.

"Bang, jangan ngelawak, deh. Lo bukan Sule!"

Bokong Jenan ikut mendaratkan pada sisi Bintang. Lelaki itu menatap dalam gadis yang tengah memijat pelipisnya. Terlihat betapa tertekannya Bintang saat ini.

"Gue serius."

"Bukannya lo punya pacar? Terus kalian gimana? Gue gak mau ya ada acara labrak melabrak karena dia gak ter—"

"Itu gue yang urus. Intinya kita tunangan."

Mulut Bintang menganga tak percaya. "Jangan bilang sebenarnya selama ini lo naksir berat sama gue, terus tiba dapat kesempatan tunangan gini lo langsung gocek point buat milikin gue selamanya. Ngaku! Hayo ngaku!"

Sekarang Jenan yang dibuat sakit kepala mendengar celotehan cepat dari Bintang, seolah tak mengenal tanda jeda saat berbicara.

Gadis itu spontan berdiri, telunjuk kurang ajarnya hanya berjarak beberapa senti dari ujung hidung mancung Jenan.

Tangan Jenan menarik Bintang untuk kembali duduk.

"Iiisshh! Jangan pegang-pegang, haram!"

"Yaudah kita halalin."

"Sembarangan!" pekik Bintang syok.

Mata Jenan sampai tutup ketika telinganya terasa pengang akibat suara melengking Bintang.

Makhluk berjakun itu menatap serius, mengode agar mahasiswi FKG itu diam sebentar. Banyak hal yang ingin ia jelaskan tapi terus-terusan gagal karena ceriwisan anak bungsu keluarga Andara yang tak ada habisnya.

"Bagus. Diam dan dengar ini baik-baik," ucap Jenan. "Kita gak tunangan sungguhan. Ini cuma sementara."

Bilah mulut yang tadi tertutup rapat itu kembali terbuka. Apalagi ini?

"Hanya setahun. Setelahnya bubar, paham?"

"Enggak," jawab Bintang nelangsa.

Sudahlah perutnya lapar, kini ini kepalanya justru harus berpikir keras mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir seksi Jenan.

Helaan napas panjang Jenan lakukan demi mengontrol emosi yang mulai tersulut. Padahal ia sudah menyiapkan diri untuk membahas ini pada Bintang, tapi tetap saja menguras tenaga dan kesabaran ekstra.

"Jujur aja, lo naksir gue kan?"

"Lo pengin banget gue taksir?"

Kepala Bintang langsung menggeleng cepat. "Amit-amit jabang baby, najis prikiw."

Jenan memang tak berbicara, tapi sorot mata lelaki itu berubah tajam saat menoleh pada Bintang yang tadi keceplosan.

"Mak—maksudnya A—bang udah gue anggap kayak saudara. Masa iya  tunangan sama abang sendiri," ralat Bintang cepat.

Nyalinya balik menciut begitu melihat ekspresi kesal sahabat Angkasa itu.

Lama lelaki itu terdiam. Menimbang haruskah menjelaskan alasan ia menerima pertunangan mereka yang salah satunya adalah rasa bersalah Jenan pada Bintang. Jenan itu punya kebiasaan tidur sambil berjalan, ia benar-benar tak sadar ketika melepas hampir seluruh pakaiannya seperti kebiasaan sebelum tidur dan malah menindih tubuh kecil Bintang sepanjang malam. Memang tak keseluruhan, sebab hanya kepala sampai setengah dada Jenan saja. Tapi tetap bobot badannya itu berat. Untung saja ketika pagi, Bintang tak berubah kaku dan dingin alias meninggoy karena kehabisan napas.

Terlebih lagi Jenan teringat ucapan mendiang Mamanya dulu. Beliau sangat menyukai sosok Bintang dan berharap bisa menjadikan anak gadis kesayangan Andara sebagai bagian dari keluarganya. Untuk yang satu itu Jenan tak berniat merealisasikan secara permanen, tapi mungkin bisa sementara. Setidaknya itu yang dapat Jenan lakukan demi memenuhi keinginan sang ibu yang bahkan belum sempat dibahagiakannya sama sekali.

Setahun adalah waktu yang singkat. Ia sudah menimbang baik buruk atas keputusan yang akan diambil. Sisi positifnya, Jenan mendapat banyak keuntungan dengan menerima ide gila ini.

Setidaknya selama 365 hari kedepan, ia bebas dari tawaran aneh Jaka—papanya yang sering menawari dirinya dengan anak rekan kerja yang naksir Jenan. Dan juga untuk menolak pertunangan ini secara langsung, Jenan merasa tak mampu. Ia paham perasaan kecewa Andara yang menginginkan sebuah tanggungjawab, lelaki yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri. Lidah Jenan terlalu kelu untuk mengatakan tidak terhadap kemauan Andara. Makanya ia memilih cara halus untuk membatalkan hubungan terpaksa ini.

"Ini cuma status. Gue gak akan ngelarang lo mau dekat sama siapa pun, begitu juga sebaliknya."

"Jadi gue masih boleh—"

"Boleh."

Tangan Bintang terkepal kesal. Belum juga selesai bicara, Jenan lebih dulu memotong.

"Setelah setahun kita pisah, alasannya lebih kuat. Bilang aja udah coba jalani, tapi memang gak cocok."

Bintang mendengarkan dengan seksama. Kepalanya mengangguk menerima alasan tersebut.

"Tapi kenapa harus setahun? Gak bisa sebulan aja? Atau seminggu? Atau sehari? Kalau bisa sejam."

Boleh Jenan melempar gadis berisik itu ke kolam?

Ia jadi heran sendiri bagaimana Tariksa yang lembut nan kalem memiliki anak perempuan bermulut petasan seperti Bintang. Mendadak Jenan jadi percaya kalau olokan Angkasa yang mengatakan Bintang adalah anak pungut itu benar adanya.

Selain wajah Bintang yang tak ada kemiripan dengan Andara maupun Tariksa, sifatnya pun jauh berbeda dari kedua orang tuanya.

"Kalau gak ingat lo adik Bang Kasa, udah gue tendang ke kolam," gumam Jenan sebelum beranjak dari posisi duduk.

Bintang pun melakukan hal yang sama. Ia masih butuh penjelasan, sementara Jenan sudah ingin angkat kaki. Takut-takut ia menarik belakang kemeja Jenan untuk menghentikan langkah besar lelaki jangkung itu.

Sentuhan Bintang segera terlepas ketika Jenan berbalik dengan tatapan tak bersahabat. "Gu—gue masih butuh penjelasan!"

"Apalagi?"

"Kenapa setahun?! Kenapa setuju?! Lo gak beneran naksir sama gue kan?"

Jenan mengusap kasar wajah tampan letihnya. Sebegitu yakinkah Bintang mampu memerangkap hatinya? Perut Jenan jadi tergelitik ingin tertawa.

Bahkan Kyla yang sudah dipacari bertahun-tahun saja tak sepenuhnya menaklukan perasaan lelaki itu. Sebab Kyla hanyalah pengalihan dari rasa kosongnya agar tak terlalu larut dalam ingatan terdahulu.

Ada sebuah nama yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di sudut dalam hati Jenan. Bahkan lelaki itu sendiri tak mampu mengusir pergi nama dari masa lalunya.

"Setahun waktu yang ideal. Cukup buat pendekatan sebuah hubungan dan layak jadi alasan kita pisah. Puas?"

"Terus alasan lo terima apa? Benefit di gue apa? Harus simbiosis mutualisme, dong."

"Rahasia. Tapi fasilitas hidup mewah lo, dijamin balik."

"Ta—tapi. Gimana kalau belum sampai setahun kita dinikahin?"

Dengan wajah tanpa ekspresi Jenan kembali membalikkan tubuh tegapnya dan berkata, "tinggal nikah, terus cerai. Gampangkan?"

🪥🪥🪥

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro