
Bab 4
Flashback
"Ibu, kita mau kemana?" tanyaku ketika kami berjalan bersama-sama menyusuri bahu jalan.
Ibu terdiam selama beberapa saat sebelum menjawab, saat menatap wajahnya aku dapat melihat kegelisahan yang berusaha disembunyikannya.
"Ibu?" tanyaku lagi berusaha menarik perhatiannya.
"Oh-ah, ada apa, Ally?" tanya ibuku tersendat, dia menatapku lembut dan membelai kepalaku.
"Kita mau pergi kemana, Ibu?"
"Ah... Kita akan ke rumah teman ibu, Ally," jawabnya. "Dia teman Ibu sedari SMA dulu."
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku mengerti sambil bergumam 'oh' panjang. "Apa tempatnya masih jauh?"
"Tidak, kita sudah sampai."
Kami menghentikan langkah kami di depan pintu yang disebelahnya terpasang lampu gantung kuno. Ibu menekan bel dan tidak lama seorang anak kecil yang berada dua tahun diatasku membukakan pintu.
"Halo, ingin bertemu siapa?" tanyanya sopan dengan nada riang.
"Aku ingin bertemu dengan Lucy, apa dia ada?" tanya ibuku.
"Ada. Tunggu sebentar ya."
Setelah berucap seperti itu dia segera berbalik dan memasuki lebih dalam rumahnya. Sembari menunggu, ibuku membawaku memasuki rumah itu lalu duduk disalah satu sofa. Tangannya menggenggam erat salah satu tanganku seakan tidak ingin melepasku.
Aku menatap sekelilingku dengan pandangan penasaran. Memperhatikan bagian depan ruangan itu -yang diatempati- yang cukup luas dengan sedikit perabotan. Terdapat satu lukisan besar yang menggambarkan sebuah taman.
Beberapa menit kemudian anak perempuan itu kembali dengan membawa sesosok perempuan berambut coklat dengan terusan putih yang dipadu bolero hitam rajutan.
"Selamat data-" ucapnya terputus ketika menatap ibuku lekat. "Mel?"
"Hai, Luc. Lama tidak bertemu," ucap ibuku dengan senyum tersungging di bibirnya. "Apa kabar?"
Dia tidak mempedulikan pertanyaan ibuku dan malah berjalan mendekati ibuku lalu menyentuh pundaknya, menatap ibuku lekat seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Keningnya berkerut. "Apa ini benar-benar kau?"
Ibuku terkekeh pelan. "Ini aku, Luc. Aku tidak bohong."
Teman Ibu kembali memperhatikan wajahnya dengan lekat kemudian memeluk ibuku erat selama beberapa saat.
"Astaga, Mel! Aku sangat merindukanmu," ucapnya cukup keras setelah melepaskan pelukannya. "Kemana saja kau selama ini? Kau tidak memberiku kabar sedikitpun."
Ibuku terkekeh pelan mendengar serentetan kata-kata yang dibuat temannya itu. "Maaf, aku tidak sempat. Beberapa tahun ini aku sangat sibuk mengurus anak."
"Anak?"
Ibuku mengangguk, dia menarikku lembut dari belakang tubuhnya dan menunjukkanku dihadapan teman ibuku.
"Ini Ally."
Teman ibuku menoleh menatapku, memperhatikan diriku yang secara perlahan kembali bersembunyi dibalik tubuh ibu. Entah kenapa aku selalu merasa risih jika diperhatikan seperti itu.
"Hai, Ally. Salam kenal..." ucap teman ibu sambil tersenyum kecil.
Dengan ragu-ragu aku membalas senyum itu.
"Anak yang manis, mirip denganmu dulu ya?"
Ibuku hanya tersenyum sebagai tanggapan.
Teman ibu kembali mengalihkan pandangannya kepada ibuku lalu mengajak kami semua duduk di sofa yang tersedia.
"Ada perlu apa kau ke sini?"
Aku merasakan genggaman tangan ibu mengerat sebelum menjawab, "Aku kesini untuk menitipkan Ally sementara disini, bolehkah?"
"Kau mau pergi lagi?"
Ibuku mengangguk, "Ada urusan yang sangat penting yang tidak bisa kulewatkan."
"Di mana tempatnya?"
"Aku tidak bisa memberitahumu, maaf."
Teman ibuku terdiam, alisnya kembali berkerut ketika memandang ibuku lekat. Beberapa saat kemudian dia menghela napas pelan, tangannya terulur untuk menyentuh salah satu tangan ibu dan meremasnya pelan.
"Kau tahu, Mel?" ucapnya perlahan. "Aku sudah menganggapmu sebagai adik kandungku yang harus selalu kulindungi. Kalau kau ada masalah katakan saja padaku, jangan sungkan."
Ibuku kembali menganggukkan kepalanya, sebuah senyum sendu tersungging di bibirnya. "Terima kasih, Luc."
Teman ibuku kembali menghela napas lalu membalas senyum ibuku. "Baiklah, kau bisa menitipkan Ally disini." ujarnya. "Kapan kau kembali?"
"Aku juga tidak tahu," ucap ibuku lugas.
Teman ibuku mendesah keras, raut wajahnya menunjukkan kalau dia mulai kesal dengan sifat ibuku yang sangat tertutup. "Baiklah, yang penting pastikan dirimu kembali kesini dengan kondisi yang baik-baik saja."
"Ya akan kuusahakan."
Ibu dan teman ibu bangkit dari tempat duduk lalu berjalan mendekati pintu, aku yang masih digandeng mengekor dibelakang mereka. Aku menatap ibuku yang perlahan merendahkan dirinya sehingga sejajar dengan pandangan mataku.
Dia balas menatapku lembut, kedua tangannya menggenggam kedua tanganku erat. "Allison, ibu pergi dulu ya. Jadilah anak baik selama ibu pergi."
"Ibu mau kemana?"
"Ibu mau pergi cukup jauh untuk mengunjungi teman ibu yang lain, sebentar saja."
Aku mengerutkan keningku dan merapatkan mulutku, perasaanku terasa sangat tidak nyaman seakan apa yang dikatakan ibuku tidak akan berakhir dengan baik.
Ibu tiba-tiba menarikku kedalam pelukannya lalu mengecup keningku pelan. "Jangan lupa apa yang dikatakan ibu tadi ya. Sampai jumpa, Ally."
Ibuku memberiku senyum lembutnya sebelum kembali berdiri lalu mulai melangkah menjauh, dia tidak sekalipun menoleh ke belakang. Saat itu aku hanya dapat melihat rambut panjang ibuku bergoyang pelan akibat angin dan kedua tangannya mengepal.
Saat itu juga adalah terakhir kalinya aku melihat ibuku. Dia tidak pernah kembali.
£>£>£>
Gelap, itulah yang kudapati setelah membuka mataku.
Mataku butuh beberapa lama untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang terasa gelap tanpa adanya cahaya sedikitpun. Aku menoleh ke sekelilingku dan tidak menemukan apapun kecuali tiga sisi dinding dan sebuah siluet pagar tepat dihadapanku.
Aku berusaha untuk menggerakkan tanganku, tapi tidak bisa. Sesuatu menjalinnya dengan erat menggunakan tali. Kedua kakiku juga mengalami hal yang sama, mulutku ditutupi sesuatu yang tampaknya sebuah kain yang dipilin dan diikat kuat.
Aku mengerjapkan mataku berulangkali untuk memfokuskan pandangan dan mulai menyadari kalau aku berada disebuah sel.
Saat kembali mengerjapkan mata sesosok laki-laki tiba-tiba sudah berada di depan pintu sel dan menatapku dengan datar.
Aku hanya bisa membalas tatapannya ketika dirinya mulai membuka pintu sel dan mendekat kearahku, membuka jalinan di mulutku serta di kakiku.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku ketika dia mengait salah satu lenganku dan membawaku berjalan, kakiku terasa sangat kaku.
Sudah berapa lama aku ada disini?
Dia tidak menjawab.
Aku hanya bisa terdiam dan mengikutinya menaiki tangga menuju sebuah pintu yang mengarah ke lorong lain yang tidak kuketahui.
"Kau ingin membawaku kemana?" Tanyaku lagi memecah keheningan.
Dia tidak menjawab.
Kedua kaki kami masing-masing melangkah semakin dekat kearah pintu lain yang penuh dengan ukiran berpelitur sempurna. Dengan mudah dia membuka pintu yang tampak berat tersebut dan memperlihatkan ruangan yang tampak megah dengan kilau keemasan pudar.
"Ini ruangan apa?" Tanyaku penasaran, ruangan ini tampak sangat berbeda dengan ruangan sebelumnya yang terkesan muram.
Dia tetap tidak menjawab pertanyaanku.
Aku menoleh kearahnya, memandang laki-laki itu yang terus berjalan seakan aku tidak pernah berbicara apapun padanya.
"Apa kau bisu?"
Pertanyaanku kali ini akhirnya membuahkan hasil, dia menoleh kearahku dengan alis bertaut. Aku menatap wajahnya dengan pandangan tertarik, entah kenapa wajahnya mengingatkanku akan seseorang yang kukenal.
"Aku tidak bisu." Suaranya terdengar bagaikan alunan musik.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
Dia terdiam. "Ini aula."
Aku mendesah keras ketika mendengar jawaban singkatnya. "Bukan itu maksudku."
"Lalu apa?" Tanyanya, wajahnya terlihat sangat bingung.
"Kenapa sebelum-sebelumnya kau tidak menjawab pertanyaanku?"
Dia kembali terdiam, tampak berpikir cepat. "Karena menurutku itu tidak perlu."
"Tapi-"
Dia memotong ucapanku. "Kita sudah sampai."
Aku kembali memandang ke depan dan menemukan sebuah pintu lain yang terlihat sama persis dengan pintu sebelumnya sudah berada di hadapanku.
"Ini ruangan apa?"
Dia kembali tidak menjawab, salah satu tangannya saat ini sudah mulai sibuk mendorong pintu itu yang sepertinya lebih berat dari pintu sebelumnya, terlihat dari keningnya yang berkerut dan jeda waktu yang lebih lama.
Aku menatap ruangan baru yang sekarang tersaji dihadapanku. Ruangannya lebih kecil daripada ruang sebelumnya tapi memiliki kesan megah yang sama, terdapat masing-masing dua pilar di kanan dan kiri ruangan itu, mengarah ke sebuah panggung dengan dua bangku yang tampak seperti singgasana. Salah satunya sudah diisi oleh seseorang yang kini menatapku dengan tatapan berkuasa.
"Aku sudah membawanya kesini, Nona," ucap laki-laki yang membawaku itu sambil membungkukkan badan kearahnya.
"Kau boleh pergi, Hans."
Dia kembali membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan ini tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku menatap seseorang yang ada di singgasana itu dengan pandangan lekat, perempuan itu memiliki kulit seputih kapas dan seraut wajah yang mungil dan sedikit tirus, bibirnya membentuk sebuah garis lurus saat matanya yang berwarna ungu aneh balas menatapku.
Dia tersenyum kecil begitu berdiri tepat di hadapanku. "Selamat datang di manorku, Allison Cartwraight. Aku Whitney McClain, salam kenal."
"Siapa kau?" Tanyaku cepat. Aku merasakan perasaan yang tidak enak saat dia berada di dekatku.
"Aku Whitney, pemilik manor ini."
"Untuk apa kau membawaku ke sini?" Tanyaku lagi, tubuhku mulai bergetar ketika menghirup aroma manis yang memuakkan dari dirinya.
Dia menelengkan kepalanya sedikit. "Berkenalan denganmu, tentu saja."
"Aku tidak mengerti," ucapku perlahan, masih menatap wajahnya yang entah kenapa semakin dekat kearahku.
Aku berjengit kaget ketika merasakan sebuah napas sedingin es tiba-tiba saja sudah mengusap perpotongan leherku.
"Kau sangat bau... tidak salah lagi," gumamnya membuatku bingung. Apa maksudnya?
"Aku tidak menyangka kalau kau adalah pewarisnya, seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa."
Perempuan itu menyentuh pipiku yang sekali lagi membuatku berjengit tidak nyaman, jarinya sangat dingin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku ketika dapat merasakan napas dinginnya kembali mengusap leherku.
"Hm, ini tidak seru," ucapnya tiba-tiba lalu menatapku. "Apa kau tahu siapa sebenarnya diriku?"
Aku menggeleng, dalam hati aku bersyukur karena dia membiarkan diriku berjalan menjauh darinya.
Dia terdiam selama beberapa saat, tampak berpikir serius.
"Baiklah, rasanya tidak adil kalau menyelesaikan perang ini dengan mudah," gumamnya nyaris tidak terdengar.
Aku merapatkan mulutku, perasaanku menjadi sangat tidak nyaman saat ini. Mataku masih memandang dirinya yang terdiam di tempat, tanganku mulai bergerak-gerak berusaha melepaskan jalinan tali ditanganku yang mulai terasa sangat mengganggu.
"Maafkan aku,"
Dalam satu detakan jantung wajahnya sudah kembali berada di perpotongan leherku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa saat sesuatu yang tajam menggores leherku cepat. Aku menjerit dan semuanya berubah menjadi gelap.
~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Kali ini update-nya bener2 lama, maaf ya.
Terima kasih atas votenya di chap-chap sebelumnya dan sampai ketemu lagi ;)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro