Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

11. Cobaan!!


"Pagi Bunda. Pagi Ayah." Sapa Naya keluar dari kamar yang ada di dekat tangga dengan masing-masing lengan yang mengapit tongkat karena, kakinya yang belum sembuh total.

Yah..semenjak insiden kemarin, Naya di perbolehkan pulang. Jadi lah sekarang Naya berniat untuk sekolah pagi ini, padahal Dewi sudah melarang dengan keras. Akibat bujukan dari Hendra akhirnya Naya pun diperboleh kan sekolah.

"Yakin mau sekolah hari ini? Kalau besok ajah gimana?"

Hendra yang sedang membaca koran harian nya memutar bola matanya malas. Yaampun, ini Istri nya sedang bernegosiasi. Cincailah.

"Yakin BUNDA." jawab Naya dengan menekan kata 'Bunda'.

hufft..sudah hampir kesekian kalinya Bunda nya ini menanyakan hal yang sama.

Naya mengambil roti yang sudah di olesi selai coklat kesukaan nya, lalu Naya teringat dengan kakak nya. Kemana dia sekarang? Apa sudah kesekolah duluan?

"Ayah, kak Farid mana? Nggak sarapan?"

"Udah pergi duluan. Nanti kamu Ayah yang antar yah.." ucap Hendra yang kini beralih menatap anak nya.

"Kalau pulang?"

"Nanti biar Ayah yang jemput lagi. Kalau Ayah belum datang, tunggu aja minta temenin kakak kamu."

Naya hanya mengangguk patuh, lalu dia meminum air putih nya. Yah.. Naya tidak terlalu suka kalau minum susu pagi-pagi, rasanya eneg gimana gitu.

"Kita berangkat sekarang?" Tanya Hendra yang sudah siap untuk mengambil tas kerja nya.

Naya melihat jam yang melilit pergelangannya, "Iya Yah, aku gak mau telat."

**

"Ayah pergi dulu yah." Hendra mencium puncak kepala Naya sebelum beranjak dari tempat ia berdiri.

Hari ini Hendra mengantar Naya hinggah anaknya itu selamat sampai kekelas.

Naya hanya mengangguk di tempat duduk nya. Hendra pun sudah pergi dan Naya masih tersenyum melihat mimik wajah teman-teman yang nampak seperti orang bego.

"Kalian gak seneng yah.. gue balik lagi kesini?" Ucap Naya yang mengubah suara seperti nada kecewa.

Nabila mengerjap kan matanya beberapa kali dan mengucek matanya, "Nay, ini beneran lo? Gue kagak mimpikan?" Nabila mencubit lengan Tiara yang tepat di samping nya, ia hanya membuktikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

"ANJRITTT, SAKIT BEGO." Teriak Tiara yang tanpa memikir dua kali langsung memiting leher Nabila.

"Yaelah..pelan juga gue nyubit nya." Tiara mengabaikan ucapan Nabila dan memperkuat pitingannya. "SAKIT WOII. INI LEHER GUE KALAU PUTUS KAGAK ADA TUKAR TAMBAH NYA. EMANG NYA LO MAU TEMEN LO YANG CANTIK NYA NGALAHIN AMANDA MANOPO LEHER NYE BENGKOK." Nabila memukul-mukul lengan Tiara agar mau melepaskan aksi nya itu. Sumpah! Ini sakit beneran loh. Coba ajah tukar posisi.

Teman-teman yang melihat kejadian LIVE itu hanya tertawa melihat aksi dua sejoli yang tidak pernah akur.

"Bodo amat lah, mau leher lo bengkok kek. Penyok kek. I DON'T CARE. Lagian ngak ada juga yang mau tukar tambah leher lo itu" Cibir Tiara yang makin mengencangkan pitingannya dan sekali sentak langsung melepaskan lengannya dari leher Nabila. Tiara menepuk-nepuk tangan nya dan meniup nya seperti orang yang sudah berhasil melaksanakan aksinya.

"Eh, Nay. Gimana keadaan lo? Kok lo gak bilang kita-kita kalau mau sekolah?" Tanya Fayza yang baru saja datang dan mendengar keributan didalam kelasnya. Mereka lagi. Mereka lagi. Gak ada orang lain apa yang berantem selain mereka berdua. Batinnya.

"Hooh Nay, tega loh kagak bilang kita-kita." Ucap Nabila sambil mengusap-usap lehernya akibat ulah Tiara.

Naya menoleh kearah suara tersebut, "emang nya kalau gue bilang mau sekolah hari ini, lo pada mau buat sambutan trus buat kalung bunga yang ada di serial india itu. Lalu bawa rebana sambil nyanyi, 'ya Nabi salam alaika, ya Rosul salam alaika' gituh." Ucap Naya dengan tangan bersidekap.

Mendengar celotehan Naya, yang lain menelan ludah nya susah payah. Gilak...baru balik ajah Naya nyeloteh nya panjang! Dikasih obat apa tuh sama dokter nya. Ck.

"Lo gak lagi salah minum obat kan, Naya?" Ucap Arief yang tiba-tiba datang dan meletakkan punggung tangan nya ke jidat Naya dan meletakkan nya kembail ke jidat nya, untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, "gak panas." Gumam Arief.

Naya menepis kasar tangan Arief, "apaan lo megang-megang? Modus yah." Tuduh Naya sambil menunjuk-nunjuk ketua kelasnya itu.

Yang dituduh pun hanya cengengesan tidak jelas. Oke, lupakan sejenak tentang ketua kelas yang..argh..sudahlah lupakan.

Naya melihat satu-persatu teman-temannya itu. Kelas saat itu masih sepi, hanya beberapa orang saja yang ada di kelasnya.

"Kalian gak kangen gituh sama gue?" Tanya Naya memanyunkan mulut.

"Wahhh....Naya gue kangen bet ama lo." Nabila berlari kearah Naya dan segera memeluk temannya itu yang masih betah duduk.

Sedangkan, yang lain hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nabila yang LEBAY BIN ALAY.

Naya merasa sesak di peluk oleh Nabila. Ini Naya bisa mati mendadak loh kalau di giniin lama-lama, kan gak lucu kalau berita nya sampai masuk koran 'gara-gara kangen berat sama sang sahabat, sahabat nya ini memeluk sahabat nya hingga tewas'. Aihh..jangan sampai lah.

"Bil..lepasin napa?! Sesak nih." Naya terbatuk-batuk akibat pelukan itu.

"Hehehe..refleks Nay." Ucap Nabila yang menggaruk kepalanya yang memang gatal.

"Alhamdulillah deh lo udah baikan, tapi kaki lo..." Eka menunjuk kearah bawah dimana kaki Naya yang masih diperban.

Naya melirik kearah kakinya. "Hum..yah gini deh, kaki gue masih gini-gini aja." Ucap Naya lesu.

"Yah..gapapa lah, yang penting lo udah sekolah aja hari ini udah menanda kan lo baik-baik ajah. Semoga cepet sembuh deh." Ucap Bhisma menepuk bahu Naya dan berlalu begitu saja.

'Kapan tuh bocah dateng?' Batin Naya.

Naya mengabaikan teman nya yang sedang sarap itu dan beralih kedepan yang sudah ada Tiara dan disamping nya ada Nabila. Dan jangan lupakan Fayza yang sudah ada disamping Naya.

"Eh, Nay pipi lo kok tirus sih?" Tanya Nabila yang menusuk-nusukkan telunjuk nya ke pipi Naya

Naya menepis kasar tangan Nabila dan mendelik tajam kerahnya. Hening. Tidak ada percakapan yang menyelimuti mereka.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Dan
.
.
.
BRUK!!

Naya mengebrak meja dan itu berhasil membuat ketiga temannya itu kaget.

"Astaghfirullah.." ucap mereka bersamaan.

"Bhuahahahaha.." Tawa Naya pecah. Pecah se pecah-pecah nya, melihat tampang kaget teman-temannya itu. Sumpah! Ini pemandangan yang sangat langka. Kapan lagi Naya bisa melihat tampang bego mereka yang kaget. Andai saja waktu bisa berhenti sebentar saja, Naya tidak akan menyia-yiakan kejadian tadi, dia akan segera mengambil handphone-nya dan segera mengambil momen langka tadi.

Naya mengelap sudut mata nya yang berair. Ia diam sejenak menarik nafas dan membuangnya lagi, agar tawa nya segera reda. Sedangkan ketiga temannya itu, memasang tampang marah dan kesal karena merasa di bodohi oleh Naya.

"Lo..?" ucap mereka bersamaan yang sudah berdiri sambil menunjuk-nunjuk Naya.

"Eitss..selow bro. Santai. Relax oke. Narik nafas...buang..." ucap Naya dan di ikuti oleh ketiga temannya itu.

"Eh, kok kita ngikutin ucapan Naya sih!?" Bisik Nabila ke arah Tiara yang ada disampingnya.

Tiara menepuk jidat nya, dasar bego! Batinnya.

Naya menatap wajah marah bercampur kesal ketiga temannya itu, "sorry. Gue gak bermaksud kok." Ucap Naya merasa bersalah.

Mereka menatap Naya dengan tampang datar. "Jangan natap gue kek gitu dong. Sumpah! Gue gak bermaksud. Gue cuman--"

"Cuman apa!?" Ucap Tiara tegas dan diangguki oleh Nabila dan Fayza.

"Ng..itu..ngg..." Naya menggosok leher nya yang dilakukan saat sedang gugup.

"Ang..eng..ang..eng. cuman apa?Hah!!" Bentak Fayza.

Berani sekali nih anak bentak gue. Batin Naya.

Naya menundukkan kepala nya, tidak berani menatap wajah ketiga temannya yang sedang murka.

Mereka tersenyum simpul melihat reaksi Naya yang merasa bersalah. Kenak lo. Emangnya cuman lo doang yang bisa bego-bego-in kita. Batin mereka.

Hening!

Dengan ragu, Naya mengangkat wajah nya menghadap ketiga temannya yang tengah berdiri itu. Naya menatap wajah mereka yang tengah menahan tawa. Dan detik selanjutnya, tawa mereka akhirnya pecah!!

"Bhuahahahahaha..."

Naya menyipitkan mata nya dan menyilangkan tangan nya di depan dada. Sial!!. Umpatnya.

"Se..se..sekarang kita impas." Ucap Fayza yang setengah menahan tawanya.

Tawa mereka pun reda, dan mereka duduk di tempat semula.

Kini Naya menatap ketiga temannya itu dengan intens. "Gue butuh bantuan kalian!"

"Bantuan?"

Kringg kringg kringg

Baru saja Naya ingin berbicara tiba-tiba dengan kurang ajarnya bel yang berisik itu berbunyi. Mereka pun kembali ketempat duduk masing-masing karena sebentar lagi guru Biologi yang tidak pernah absen itu akan datang.

"Assalamualaikum.."

Panjang umur! Akhirnya guru tersebut datang.

"Kita lanjutin nanti." Bisik Naya kearah tiga temannya dan di beri jempol sebagai tanda 'oke'.

***

"Gilak tuh guru, ngasih tugas 40 soal dan dikumpulin besok. Pa to the rah. Parah." Celoteh Nabila yang langsung menyedot minumannya.

Sekarang mereka sudah berada di daerah yang menjual beraneka makanan dan minumam, dimana lagi kalau bukan Kantin.

"Yaelah, gue mah udah biasa." Ucap Fayza santai.

"Biasa apa?" Tanya Tiara langsung.

"Biasa lupain. Seperti gue yang harus bisa melupakan dia." Ucap Fayza dramatis.

Tiara memutar bola mata malas, "Baper lo."

"Oh, baper itu yang kalau kita lagi baper harus diisi makanan itu." Sambung Nabila sambil mengangguk-anggukkan kepala

"Itu laper Ibil, SAYANGKUHHH. CINTAHHKUHH." Ucap Tiara geram.

Untung saja ada meja sebagai pembatas mereka kalau tidak, mungkin Tiara sudah memiting kembali leher Nabila tanpa ampun.

Nabila hanya cengengesan, sedangkan Naya dan Fayza tetap fokus pada makanannya masing-masing, tidak mau ambil pusing mengurus duo sejoli itu.

"Oiya, Nay. Tadi lo mau ngomong apaan? Butuh bantuan apa?" Tanya Fayza yang mengubah topik pembicaraan dan menghentikan bacot-an Tiara dan Nabila.

"Iya Nay." Ucap dua sejoli itu bersamaan meng-iya-kan ucapan Fayza.

"Ciee..kompak." Goda Naya.

"Diam."

"Diam."

Ucap Mereka bersamaan lagi.

"Ciee..kompak lagi. Lagi paduan suara kalian. Hahaha.. Maaf kalau kalian mau menyumbangkan suara emas kalian lebih baik jangan disini, bisa mengganggu siswa-siswi yang sedang menikmati hidangan kantin. Lebih baik di kamar mandi atau tidak di kuburan yang tak berpenghuni." ledek Fayza disertai tawa dan Naya ikut mengiyakan ledekan Fayza.

Dua sejoli itu sama-sama memalingkan wajahnya dengan tangan yang menyilang di dada.

Naya melihat sekelilingnya dan mencondongkan kepalanya dan membuat perhatian duo sejoli itu terarah kepadanya. Dan otomatis mereka pun mengikuti Naya dengan memajukan kepala mereka.

Baru saja Naya ingin membuka suara tiba-tiba datang Arum dan Arief, mereka tanpa izin langsung mengambil posisi duduk disamping Tiara dan Nabila.

"Hai.." ucap Arum sambil cengengesan.

Naya dan yang lainnya mendelik tajam kearah mereka dan mengubah posisi mereka yang merapat, berubah menjadi seperti semula. "Ngapain kalian kesini? Kayak gak ada meja lain aja!" Nabila langsung memberikan tatapan tajam kearah mereka.
"Emang gak ada yang kosong kok. Makanya kita milih duduk disini. Emangnya gak boleh. Toh ini bukan meja nenek moyang loh." Arum menatap lurus kearah Nabila, seolah-olah Nabila mengibarkan bendera perang.

Mampus! Bakalan ada perang nih. Batin Naya.

Sebelum keduanya adu bacot, Naya segera membuka suara, "Udah deh, kalian boleh duduk disini." Ucap Naya ke Arum dan Arief. Naya menoleh kearah Nabila, "Udah deh Bil, biarin mereka duduk disini, lagi pula cuman disini yang masih kosong."

Akhirnya, Fayza dan Tiara bisa bernafas lega karena tidak ada adu bacot. Kalau tidak, mungkin yang akhirnya bakalan menang tetaplah Nabila. Karena kalau dia udah ngomel Ya Allah, bakalan ngalahin emak-emak yang lagi nawar harga cabe ke penjual sayur.

Fayza yang awalnya duduk di dekat dinding, berpindah tempat ke tempat Nabila. Agar tidak terjadi tindakan kriminal dadakan. Dan jadilah Arief duduk disamping Fayza dan Arum yang duduk disamping Tiara.

"Gue pesen makanan ama minuman dulu deh. Lo mau apa Rum, biar sekalian gue pesenin?" Tanya Arief.

"Tumben banget lo baik Ip." Cibir Arum ke Arief yang tiba-tiba menjadi baik itu.

Arief berdecak kesal, selalu saja seperti itu jika ia melakukan kebaikan. Memangnya salah yah?
"Cepetan deh, ntar gue berubah pikiran nih." Arief segera mengambil ancang-ancang untuk pergi.

"Eh, iya deh. Pesenin gue Nasi goreng ama teh es pahit yah." Perintah Arum dan membuat ketiga cewek yang khusuk dengan makanannya beralih ke Arum.

"Lah, kok pahit Rum?" Tanya Arief yang entah kenapa temannya itu memesan yang pahit-pahit.

Arum menoleh sejenak kearah Tiara dan tersenyum, "Karna, disamping gue ini udah manis. Kalau gue mesen yang manis lagi ntar gue diabetes. Kan kasihan." Arum mengedipkan mata kearah Tiara.

Naya, Arief, Fayza, dan Nabila lantas tertawa akibat gombalan receh ala Arum itu. Sedangkan yang di gombal pun memasang ekspresi ingin muntah dan bergidik ngeri mendengan kata per kata dari kalimat yang Arum lontarkan itu. Menjijikkan!

"Sumpah! Gue pengen muntah Rum. Jijay Bajay. Iyyuuhhh...wluekk..RECEH banget." Ucap Tiara sambil berpura-pura muntah. Sedangkan Arief segera melenggang pergi untuk memesan makanan nya.

"Hahahahaha...Arum. Arum. Kelamaan jomblo loh, makanya jadi kek gini." Cibir Fayza yang disertai dengan tawa.

"Bener Fay. Bener banget. Kelamaan jomblo lo Rum. Hahahaha.." Naya memegangi perutnya akibat dari tertawa.

Tiara menulikan pendengaran nya tidak minat ikut nimbrung. Arum memasang wajah melas bercampur kesal akibat hinaan demi hinaan yang dilontarkan dari bibir manis teman-temannya itu. "Terus. Terus. Silahkan hina ku sepuasnya kalian semua suci aku lama jomblo." Ucap Arum yang mengikuti lagu BAD-YOUNGLEX.

Tiara berdiri dari duduknya dan Naya yang melihat itu pun langsung bertanya, "Mau kemana lo, Tir?"

'Tir' panggilan untuk Tiara yang dibuat oleh Naya sendiri, dan diikuti oleh warga kelas yang lainnya.

Tiara menoleh kearah Naya, "Pindah tempat duduk dong Nay, males gue duduk disamping nih orang." Ucap Tiara menunjuk kearah Arum.

"Males ah, pindah-pindah. Lagian susah ini kalau mau pindah." Naya menunjuk kearah bawah dimana kakinya berada.

Tiara menhempuskan nafas kasar, "buat apa lo ada temen kalau gak bisa bantuin kesusahan lo. Biar gue bantu." Ucap Tiara yang segera membantu Naya berdiri dan memindahkannya ketempat duduknya. Naya hanya mengikuti saja, sebelum tanda-tanda perang muncul lagi.

Baru saja Arum ingin protes ucapan Tiara, tiba-tiba datang Arief yang tengah membawa nampan yang berisi pesanannya. Arief meletakkan pesanan Arum sambil berkata, "silahkan dinikmati hidangnya, semoga pulangnya entar mencret-mencret."

"Anjirr..lo doanya gitu amat Ip, doa-in kek entar kalau gue pulang sekolah dapet cewek. Nah, itu baru bener." Ucap Arum yang sudah siap ingin melahap makanannya. Arief juga melakukan hal yang sama.

Nabila menoleh kearah teman cowok nya yang sudah khusyuk dengan makanannya masing-masing. "Kalau udah di sumpal ama makanan, baru diem ntuh mulut. Kalau kagak..." ucap Nabila menggantungkan kalimatnya, ia tahu bahwa yang lainnya bisa menangkap ucapannya.

Arum dan Arief hanya cengengesan dan lanjut dengan makanannya lagi. Sedangkan Naya dan ketiga temannya sudah selesai makan dari 2 menit yang lalu.

"Oiya, gue mau lanjutin omongan gue yang tadi." Ucap Naya dan membuat ketiga temannya yang sedang fokus ke gadjetnya beralih menatap Naya.

Mereka pun menyimpan gadjet nya masing-masing kedalam saku dan melipat tangan diatas meja, pertanda sudah siap untuk mendengarkan penjelasan Naya.

"Jadi gini---"

Baru saja Naya ingin berbicara lagi. Ingat lagi. Arief dengan tidak sengaja bersendawa cukup keras dan membuat meja mereka menjadi pusat perhatian. Naya dan yang lainnya sangat malu, kecuali Arum. Mereka menutup wajah mereka dengan telapak tangan. Sumpah! Ini sangat memalukan.

Fayza yang ada disampingnya langsung membuka suara, "Aippp...lo apa-apa-an sih. Jorok tau gak." Ucap Fayza setengah berbisik namun, masih bisa didengar oleh Arum yang ada di seberangnya.

"Eh, kalau orang kenyang itu yah sendawa lah. Emang ada yang salah?!" Arum langsung pasang badan, ia tidak terima. "Masak cuman gara-gara sendawa dibilang jorok, kan itu sudah ketentuan alam. Dasar perempuan! Menyebalkan!" Tambahnya.

Naya menengahi, "udah-udah." Walaupun Naya juga merasakan malu, ia juga meng-iyakan ucapan Arum tadi. Itu sangat wajar. "Kayaknya dari tadi gue mau ngomong serius kok, gak bisa-bisa yah." Tambahnya yang merasa bingung sendiri.

Sekarang suasana kantin sudah kembali seperti semula, siswa-siswi yang ada disana sibuk kembali dengan kegiatannya masing-masing.

"Emang lo mau ngomong apaan sih Nay, dari tadi?" Tanya Nabila yang sedari tadi fokus dengan gadjet nya, ntah apa yang menarik yang ada disana. Sampai-sampai ia lupa dengan dunianya sendiri.

Naya menarik nafas nya dalam-dalam dan menghempuskannya perlahan. "Jadi gini---"

"Ck, ini udah yang ketiga kalinya lo ngomong kek gitu." Ucap Tiara yang mulai kesal.

"Makanya, kalau gue mau ngomong jangan dipotong dulu napa. Lo, ah." Naya juga kesal. Kenapa, kalau ia mau berbicara ada saja halangan dan rintangan.

Yang lain meng-iya-kan ucapan Naya, "hooh Nay, Tiara suka banget nyela omongan orang. Gak baik loh." Ucap Arum.

"Udah deh Nay, lanjut.." ucap Nabila dengan dagu yang bertumpu pada tangan.

Mereka pun merapatkan tubuh mereka kearah Naya. "Gue butuh bantuan kalian, gimana ca---"

Kring! Kring! Kring!

Bel berbunyi tiga kali pertanda masuk, dan membuat Naya uring-uringan.

Ya Allah, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada hambamu ini?

"Yah..udah masuk Nay." Ucap Arief yang setengah terkikik dan yang lain pun juga berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak. Kalau tidak..you know lahh.

"Ya Allah, salah apakah hamba kepada-Mu? Kenapa sangat susah sekali hamba ingin mengatakan sesuatu yang penting." Ucap Naya sambil menadahkan tangannya seperti orang berdo'a.

"Salah lo banyak, Nay." Ucap Arum setengah tertawa. Naya yang melihat itu pun langsung menyikut perut Arum.

"Adawww.." Arum berteriak kesakitan. "Anjirr..itu siku atau bambu runcing. Tajem amat neng." Ucapnya sambil mengusap perut dibagian yang sakit.

Nabila melihat jam yang melilit pergelangan tangannya, "udah yuk, masuk. Udah telat dua menit nih." Ucapnya seraya berdiri dan diikuti yang lainnya.

Tiara membantu Naya mengambil tongkatnya yang ada di samping dan membantunya berdiri.

Beruntung Naya memiliki sahabat yang mau membantu disaat senang dan disaat kita sedang terpuruk.

Naya melangkah dengan pelan meninggalkan area kantin dan diikuti teman-temannya yang membuntuti Naya dibelakang.

Mereka melewati lorong kelas 12 dan kelas 11 yang sudah mulai sepi, karena rata-rata sudah diisi oleh guru yang bertugas mengajar dijam tersebut.

***

"Kalian sudah mengerti?" Tanya Guru Matematika yang sedang menjalankan tugasnya dikelas 10A.

Tok!tok!tok!

Guru tersebut pun melihat jam yang ada didinding kelas dan menggeleng kan kepala. Murid yang ada disitu pun mengikuti arah pandang Guru tersebut.

"Masuk.." ujarnya seraya duduk di kursi kebesaran yang ada dikelas tersebut sambil menyilangkan tangannya didepan dada.

Srettt...

Bunyi pintu terbuka dan melihatkan beberapa murid yang terlambat masuk ke kelas.

"Ma-maaf, Bu. Kami telat." Ucap salah satu dari mereka.

"Kalian tahu!? Jam istirahat sudah berakhir lima menit yang lalu. Kenapa kalian baru masuk? Dari mana saja kalian?" Tanyanya yang melihat satu-persatu muka mereka.

"Kami dari kantin, Bu." Jawab salah satu dari mereka.

Guru tersebut memicingkan matanya, "Dari kantin!? Kalian tidak lihat sekarang jam berapa? Kenapa bisa terlambat?" Tanyanya lagi.

"Ada beberapa faktor, Bu. Yang pertama, jarak dari kantin kekelas kita itu cukup jauh, karena letak kelas kita itu ada diujung. Kedua, Ibu bisa lihat keadaan teman saya yang satu ini? kaki nya lagi sakit, Bu. Gak mungkin kan kita ajak lari!?"

"Ntap Rumm.." Teriak salah satu dari murid yang ada dibarisan paling belakang. Sedangkan yang diteriaki hanya memberikan jempol.

Guru tersebut hanya mangut-mangut, "yasudah, kalian Ibu maaf-kan kali ini. Jangan diulangi lagi! Silahkan duduk ditempat kalian masing-masing." Ujarnya yang menerima alasan Arum.

Mereka pun melangkah ketempat duduk masing-masing. "Keren, Rum." Bisik Arief yang ada dibelakangnya.

"Yasudah, kita lanjutkan lagi."

Dan mereka pun larut dalam materi pelajaran yang dijelaskan oleh Guru tersebut.

***

Naya membereskan beberapa buku dan memasukkannya kedalam tas. yah, jam pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu dan hanya menyisakan beberapa murid saja.

"Hoyy, Nay. Belum pulang?" Tanya Fayza yang sudah siap dengan tas yanga ada di punggungnya.

Naya menoleh sekilas, "eh, ini lagi beres-beres bentar. Lagian, gue belum di jemput sama bokap. Nah, lo kenapa belum pulang?" Tanya Naya balik.

"Sama, Nay. Belum dijemput sama abang gue. Lama amat tuh bocah." Ucapnya sambil melihat jam di handphone nya.

"Yuk, Fay, Nay. Kita nunggu di depan aja. Lagiankan bisa sambil nyuci mata." Ajak Nabila tiba-tiba sambil manaik-turunkan alisnya.

"Hooh. Lagian, kalau kita nunggu jemputan disini emangnya kita bisa tahu udah dijemput apa belom." Tambah Tiara yang juga sudah siap dengan tas nya.

"Siapa juga yang mau nunggu jemputan disini. Udah, ah. Kalau ngomong mulu, kapan kedepannya!?" Ucap Fayza setengah sewot.

Naya berdiri dari duduknya dan bersiap untuk keluar dari kelas.

"Eh, Nay. Lo mau kemana? Aelah..tungguin napa. Kaki sakit aja jalannya udah cepet, apalagi kalau udah sembuh. Hem..." cibir Fayza setengah berlari kearah Naya yang sudah berada di dekat pintu.

Naya berhenti berjalan dan melihat Fayza, "udah ah. Cepetan, ntar bokap gue udah didepan lagi."

"Kuy lah. Gue denger sih ada kakak kelas lagi latihan basket. oh my my, pasti keren banget deh. Yuk, Tir." Ucap Nabila bersemangat sambil menggandeng tangan Tiara yang ada di sebelahnya.

Tiara memutar bola mata malas, "kumat lagi deh, penyakit nih bocah."

Nabila hanya cengengesan, sedangkan Naya dan Fayza sudah duluan berjalan dan keluar dari kelas. "Eh, Naya, Fayza. TUNGGUIN. ELAH." Ucap Tiara setengah berteriak dan segera meninggalkan Nabila yang tengah bengong. Ntah, apa yang dipikirkannya.

Nabila mengejar ketertinggalannya dan mensejajarkan langkahnya. "Aelah..tungguin napa!? Capek nihh." Ucap Nabila sambil ter-engah-engah.

Naya, Tiara, dan Fayza pun menghentikan langkahnya.

Fayza menaikan sebelah alisnya, "hem..lo nya dari tadi bengong mulu. Mikirin apaan lo? Mesum yahh?" Tebak Fayza sambil menunjuk kearah Nabila yang tengah mengelap keringatnya.

Nabila pun menyipitkan matanya dan berkata, "eh, kalau ngomong jangan sembarangan yah, mbak. Emangnya elo, dasar OMES." Ucap Nabila yang sengaja menekan kata-kata 'omes'.

"Udah-udah. Kalau ngemeng mulu, kapan nyampe nya sihh. Aishh..kalian ini!? udah ah, yok Tir, mendingan kita duluan aja. Biarin mereka selesain urusan mereka." Tiara hanya mengangguk, mengikuti kata Naya dan membantu menuntun Naya berjalan.

**

Naya menyenggol lengan Tiara yang duduk disebelahnya, "eh, bengong aja, lo. Liatin siapa, hayoo?" Ucap Naya sambil menunjuk kearah lapangan dengan dagunya.

Sekarang, Naya dan Tiara sudah duduk di kursi yang ada di koridor yang menghadap lapangan basket.

"Eh, g-gue gak lagi, liatin siapa-siapa kok." Jawab Tiara ragu.

Naya memicingkan matanya dan memajukan kepalanya kearah Tiara, otomatis Tiara memundurkan kepalanya. Karena kepala Naya yang semakin mendekat, Tiara dengan cepat mendorong kepala Naya dengan telunjuknya, supaya kembali seperti semula, sambil berkata, "iihh, apa-apaan sih lo."

Naya hanya cengengesan. Ia pun menoleh kearah kiri, untuk mencari keberadaan dua temannya itu. Bukannya menemukan temannya, Naya malah melihat Dinda dan kedua teman berjalan menuju kearah-nya.

"Tir..Tir..ada kak Dinda nohhh." Ucap Naya sambil menyenggol lengan Tiara yang tampak fokus melihat permainan basket dari kakak kelas.

"Apaan, sih.." ucap Tiara kesal.

Telat. Dinda dan kedua temannya sudah berada di depannya. Tepat didepan Naya. Mereka menatap Naya, antara senang, sedih, kesal, marah, entahlah, semua nya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Tiara pun menoleh kesamping, tepatnya di depan Naya, ia melihat kakak kelas yang songong itu.

"Eh, ada Kak Dinda. Ada apa, Kak?" Tanya Tiara basa-basi.

Dinda tidak mengubris pertanyaan dari Tiara, objeknya hanya satu yaitu, Naya.

"Ekhem.. dari mana aja lo? Gue cariin, eh, ternyata kagak sekolah! Kenapa? Kapok lo, abis dikerjaiin!?" Ucap Dinda sambil memainkan kuku-kukunya yang panjang.

Ciee..yang nyariin. Hahaha.. Batin Naya sambil tertawa didalam hati.

"Ciee..yang nyariin. Hahahaha.." ucap Tiara tiba-tiba dan disertai tawa. Dan itu membuat Dinda murka.

Alhamdulillah, akhirnya kesampean juga hajat Naya untuk mengatakan, kata itu.

Dinda menyilangkan tangannya didepan dada sambil berkata, "terserah kalian mau bilang apa. Yang pastinya urusan lo.." ia menunjuk Naya yang sudah berdiri, "be-lum se-le-sai." Ucapnya seperti mengeja.

Naya menggelengkan kepalanya, "urusan apa-lagi sih,kak. Gak capek apa ngurusin hidup orang? Belum tentu hidup lo sendiri terurus!!." Ucap Naya dan berhasil membuat Dinda naik darah, muka nya memerah bersiap-siap ingin meledak kapan saja.

Sedangkan, kedua teman Dinda terkejut mendengar ucapan dari adik kelasnya itu.

"Lo...berani-berani nya--"

"Woii, lempar bolanya dong." Teriak salah satu pemain basket yang ada dilapangan dan itu, membuat Dinda tidak jadi melanjutkan kata-katanya itu.

Tiara menatap tajam kearah Dinda dan menunggu ucapannya dilanjutkan.

***

Merasa tidak di respon, salah satu pemain basket melangkah kearah mereka yang tengah saling tatap menatap. Mengubah suasana yang awalnya panas menjadi seperti semula.

"Eh, ada apaan nih?" Tanyanya sambil mengambil bola yang ada dibawah, tepatnya didekat kaki Dinda.

Dinda menoleh ke belakang dan mendapati Farid yang sudah mengambil bola tersebut. "Eh, Farid. Hm..gak ada apa-apa kok. Kita cuman mau bahas masalah eskul doang. Iya gak, Naya?" Tanyanya meminta persetujuan Naya.

"Eh..I--iya, Kak." Jawab Naya dan membuat Tiara yang ada disebelahnya kesal. Tiara ingin mengungkapkan yang sebenarnya, tetapi ditahan oleh Naya.

"Yakin?!" Ucap Farid tidak percaya.

"Iya, Farid." Jawab Dinda sambil mencubit pipi Farid, gemas.

Melihat itu, Naya dan Tiara hanya bergidik jijik. Dua kata buat Dinda.

Sok Imut!!

Farid hanya mengendikkan bahu, tanda acuh. Baginya itu sudah biasa dilakukan gadis itu. Ia tidak mau ambil pusing, dan segera kembali kelapangan.

***

"Kakak kamu belum pulang, Dek? Ini udah malam lohh, coba deh telpon!"

Kini Naya sedang berada diruang keluarga. Seperti biasa, mereka selalu berkumpul sesudah sholat Isya berjamaah.

Naya yang tengah mengunyah cemilan nya terhenti karena ucapan dari sang bunda. Ia pun mengambil hendphone-nya yang berada diatas meja dan mencari kontak Farid.

"Halo, Kak. Lo ada dimana?"

Shit!!

Naya menggigit lidah nya karena tidak sengaja mengucapkan kata 'lo'. Dan itu, membuat Naya diberi tatapan tajam dari sang ayah.

"Eh, maksudnya. Kakak ada dimana?" Ucap Naya memperbaiki.

Dari seberang sana, Farid terkikik mendengar ucapan Naya. Ini pasti lagi ada ayah, nih.. Pikirnya.

"Ini, kakak lagi ada dibengkel. Motor kakak, tiba-tiba mogok. Mungkin sekitar 20 menit lagi selesai."

"Hem..yaudah deh, hati-hati, Kak!"

Dari seberang sana, Farid hanya menjawab dengan gumaman. Dan, telpon pun langsung terputus.

Naya beralih menatap Ayahnya yang tengah menatapnya dengan tangan bersidekap. Naha hanya cengengesan dan melanjutkan memakan cemilannya yang sempat tertunda.

Dewi yang sedang membaca majalah segera menutup dan meletakkannya dibawah meja. "Apa kata, kakakmu, Dek?" Tanyanya sambil memencet remote untuk mencari channel yang menayangkan serial India.

Naya mendelik kearah Bundanya, "iihhh, bunda. Jangan dipindahin."

"Terserah bunda dong." Ucap Dewi acuh dan itu membuat Naya malas.

Naya yang semulanya duduk di karpet, akhirnya pindah duduk disofa, tepatnya duduk disamping ayahnya, bersandar dipundak ayahnya mencari ketenangan disana.

Disaat mereka semua tengah bersantai, tiba-tiba bunyi pintu terbuka terdengar nyaring sekali. Sepertk dobrakan.

BRUKKKK

Mereka yang semula nya sibuk dengan kegiatan masing-masing, segera mengaligkan pandangannya kearah pintu.

"FARID!!???"



TBC
Sabtu, 11 Maret 2017

Kyaaaa..udah part sebelas. Oke, part kali ini panjanggggg benget. Hehe, ini masih pemula yahh. So, santai-satai aja dulu.

Oiya, kira-kira Kak Farid kenapa tuhh??

Oke, sampai sini dulu. Jangan bosan nunggu kelanjutannya yahh!!

Bye.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro