002. Dok-Kun!
Suara bantingan dari tumpukkan kertas polio di atas meja itu membuat Oceana terkesiap kaget.
Sedang fokus memandangi seluruh isi ruang kerja Airlangga yang kabarnya baru direnovasi, tiba-tiba saja lelaki itu menyudahi kegiatan membacanya.
Wajah angkuh Airlangga tertampil jelas ketika si pemilik mendongak.
"Bahkan ini gak pantas disebut tulisan tangan! Lebih parah daripada cakar ayam!" hina Airlangga tanpa perasaan, menunjuk lembar kerja Oceana. "Kamu sengaja, ya?"
Dituduh begitu, Oceana memasang ekspresi bingung. "Ma-maksudnya, Dok?"
"Iya. Sengaja buat minus mata saya bertambah," sambung Airlangga. "Ini mau dibaca pakai kaca pembesar pun, gak akan ada yang ngerti!"
Kumpulan tugas Oceana itu kembali terangkat dan dijatuhkan sadis tepat di hadapan penulisnya.
Di seberang meja, koas gigi itu hanya bisa menunduk menekuri lantai marmer di bawah sana.
"Sabar, Ce! Sabar. Orang sabar, isi rekeningnya lebar!" rapal Oceana dalam hati.
Padahal ingin sekali Oceana mengacak-acak muka menyebalkan sang dosen pembimbing.
Oceana tau kalau Airlangga makin menaruh dendam padanya. Apalagi setelah tadi mendengar dirinya dihina-hina oleh mahasiswa sendiri.
Muka boleh datar tanpa ekspresi, tapi tatapan Airlangga- beuh! Tajam pisau silet pun lewat.
Airlangga menjadikan catatan absen Oceana sebagai alasan.
Kepala departemen itu memberi tugas yang tak berperikemahasiswaan, yaitu men-translate lima case report yang harus dikumpul hari itu juga dan wajib tulis tangan di dalam double polio.
Hampir sepuluh lembar kertas Oceana habiskan demi menuntaskan hukuman. Ia bahkan sampai ganti hari untuk mengerjakan pasien karena Airlangga sama sekali tak memberi ampun.
Pilihan Oceana hanya dua, kerjakan atau siksaan bertambah.
Namun, lihatlah! Sudah dituruti pun, cucu rektor universitas itu kembali berulah mengerjai Oceana.
Satu gebrakan Airlangga memecah gelembung lamunan Oceana. "Kamu gak dengarkan saya, Dek?!"
"Ya—ya, Dok?" gagap Oceana. "Saya dengar, kok!"
"Coba ulang yang saya ucapkan tadi!"
Air ludah Oceana tertelan kasar. "Mati, sih, gue. Ngapain juga lo malah ngaku dengar, Ce!"
Bukan menjawab, Oceana hanya bisa menyengir lebar. "Hehe... maaf, Dok," cicitnya agak malu.
"Fokus kamu itu ke mana, sih?! Saya lagi bicara di sini, tapi pikiranmu malah berpetualang!" Airlangga mulai emosi. Diabaikan adalah hal yang paling lelaki itu benci. "Apa saya seremeh itu di mata kamu, Oceana?!"
"Bukan begitu, Dokter. Maaf," lirih Oceana memasang wajah pura-pura sedih.
Tentu saja hanya akting gadungan Oceana. Ia memilih mengalah. Cari aman ketimbang Airlangga si pemarah itu makin murka.
"Lalu apa yang sedang kamu pikirkan, hah?! Cicilan rumah? tunggakan kredit? Atau jemuran baju yang sudah diangkat apa belum, gitu?" sembur Airlangga. "Kamu itu mahasiswa, Dek! Ketika berada di kampus, seluruh pikiranmu harus ada di sini. Bukan di tempat lain!"
"Baik, Dokter. Saya minta maaf," cicit Oceana.
"Galak amat, heran! Modelan maung kok banyak yang suka! Elu kali yang pikirin KPR rumah! Udah tua, tapi gak kawin-kawin ya gini jadinya. Buas!" dumel dewi batin Oceana.
"Gak usah ngebatin kamu!"
Sepasang pupil mata Oceana praktis membola sempurna. "Lha? Doi dengar? Perasaan mulut gue ke kunci, deh."
"Iya, saya dengar," sahut Airlangga. "Kamu habis tuduh saya punya KPR rumah 'kan?"
"Sumpah, demi apa?! Ini doi sejenis dok-kun, kah? Dokter dukun?!" monolog Oceana dalam hati lagi.
Bibir ranum dari wanita berambut tergelung asal itu sama sekali tak bisa mengerluarkan suara.
"Saya bukan dukun, Oceana!"
Mulut nama yang disebut pun terplongo sempurna.
Spontan tubuh kecil Oceana maju selangkah, merapat ke arah meja kerja Airlangga. Wanita itu menangkup kedua telapak tangan di depan dada disertai raut wajah penuh penyesalan.
"Dok... ampun. Saya minta maaf!" melas Oceana. "Saya janji gak akan omongin Dokter kayak tadi lagi. Maafin saya, Dok."
Airlangga menghela napas panjang.
Sebelah tangan kokoh lelaki tampan itu pura-pura memijat pangkal hidung guna menutupi senyum tipis yang terbentuk.
Mati-matian Airlangga menahan ledakan tawa ketika melihat kekalahan mahasiswi badung satu ini.
Diluar dugaan, Oceana gampang percaya dengan kebohongan yang Airlangga ciptakan.
Pada dasarnya lelaki itu hanya menebak-nebak isi kepala Oceana. Raut wajah wanita itu terlalu jelas menggambarkan apa yang tengah dipikirkan.
"Dokter," cicit Oceana agak seperti merengek. "Saya minta maaf."
"Basi," gumam Airlangga cuek. "Pasti besok diulangi."
Kepala Oceana menggeleng kuat hingga ikatan rambutnya melonggar. "Janji gak gitu lagi!"
"Apa yang kamu janjikan?"
"Ja—janji gak bicara hal jelek tentang Dokter di belakang orangnya."
"Tadi itu, kamu mengoceh di depan saya," tandas Airlangga agak kesal.
Enak saja kulitnya dikatakan warna cokelat menjurus ke dekil. Airlangga selalu melabeli skin tone-nya dalam golongan eksotis atau tan seksi dan dia bangga untuk itu.
Kelopak mata Oceana mengerjap cepat. "Ya 'kan karena saya gak tau Dokter ada di belakang Dokter Cakra."
"Lalu, udah itu aja janjinya?" sebelah alis tebal Airlangga terangkat remeh. "Saya gak peduli, Dek. Mau kamu bicarakan tentang apapun. Justru malah senang, pahalamu pindah ke saya."
Bibir bawah Oceana tergigit kuat. Tau Airlangga punya kemampuan ajaib membaca pikiran, mana mungkin ia dengan semangat 45' menjelek-jelekkan dosen tersebut.
Sama saja gantung diri namanya.
Ragu-ragu iris legam Oceana membalas tatapan dingin Airlangga. "La—lalu ... saya harus apa, Dok?"
"Kamu maunya gimana?"
"Serius gue diginiin, nih? Eh, tahan, Ce! Jangan cakap apapun dalam hati!"
"Dek! Dijawab," tuntut Airlangga tak sabaran. "Saya gak lagi ngomong sama phantom* 'kan?"
"Sa—saya, saya gak tau, Dok," balas Oceana nelangsa.
Sorot mata koas gigi itu tampak sangat minta dikasihani, tapi jelas tak berpengaruh bagi Airlangga yang terlihat bodo amat.
Siapa suruh koas berbadan minimalis itu duluan cari gara-gara.
Lelaki yang masih duduk di bangku kerja itu melipat tangan di depan dada. Punggung besar Airlangga bersandar santai sembari menikmati pemandangan langka, yaitu wajah memelas Oceana.
Biasa Airlangga yang selalu dibuat sakit kepala saat Oceana menatapnya dengan mata berani.
Tapi kali ini, dewi fortuna memberi pengajar usil itu kesempatan untuk bersenang-senang.
"Jadi kamu mau apa, Oceana?"
"Terserah, Dokter."
"Kalau saya suruh lari keliling fkg sebanyak seratus putaran, kamu mau sanggupi?"
"Hah?!"
Perhatian Oceana lantas beralih ke arah jendela besar di samping Airlangga. Panas terik dari mentari di luar sana membuatnya memicing silau.
"Gimana?" tanya Airlangga. "Kamu tentukan saja hukumanmu sendiri. Saya malas suruh ini itu tapi tidak dikerjakan dengan baik. Contohnya seperti ini."
Dagu Airlangga terangkat mengarah pada kumpulan tugas Oceana.
"Maaf, Dokter. Tulisan saya memang sudah jelek dari dulu," decit Oceana. "Saya akan belajar menulis lagi mulai sekarang.
"Yakin?"
"I—iya."
Seulas seringai samar Airlangga tertarik. "Oke kalau begitu. Sekarang kamu tulis ulang semua laporan ini, lalu kumpulkan besok pagi di meja saya. Itupun kalau kamu gak keberatan. Gimana?"
"Gak keberatan?! Lo pake nany- astaga, Oce! Tahan congormu ya sayang."
Berlembar-lembar kertas double polio itu terdorong sampai ke tepian meja di dekat Oceana.
Bahu kecil wanita muda itu melorot lemas. Alamat jari-jarinya akan pegal linu semalaman ini.
Mau tak mau Oceana menyanggupi perintah Airlangga tanpa perlawanan.
Setelah pamit izin keluar, wanita itu berbalik menghadap pintu.
Namun baru dua langkah berjalan, vokal maskulin dukun jadi-jadian itu kembali memasuki indera pendengaran Oceana.
"Oiya, Dek. Case repot-nya genapkan jadi sepuluh, ya. Kan waktu yang kamu punya masih panjang."
Senyum pahit Oceana terkulum dalam.
Anggukan kepala tak ikhlas itu bergerak kaku. "Baik, Dokter."
"Bagus. Saya 'kan senang kalau kamu jadi penurut."
"Anda puas, saya lemas, Dok!"
.
.
.
KETERANGAN:
*Phantom adalah alat peraga yang biasa digunakan oleh siswa-siswi sekolah kebidanan, kedokteran, kedokteran gigi sebagai bahan belajar.
.
.
.
Ada gak sih yang pernah seapes Oceana? Kepergok menggunjing dosbim sendiri.
Tapi ... kalau model dosen kayak Airlangga emang mancing banget gak sih buat dighibahin?
Menurut kalian gimana? Hehe ^^
Udahlah, Oce mau makan dulu. Dia capek habis menghadapi Airlangga.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro