2. Aku Si Gadis Pemalu
POV Nada
Aku memandangi gerbang kampus UNS dengan antusias. Yes. Akhirnya aku kuliah disini.
Namaku Nada Nur Maulida, 18 tahun. Asalku Bumiayu, kedua orangtuaku pengasuh pondok Al-Falah Bumiayu. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakakku perempuan semua dan yang sulung baru saja menikah. Aku memiliki sifat canggung dan pemalu sekali. Namun jika bersama orang-orang terdekatku, aku bisa menjadi sosok yang cerewet dan manja sekali termasuk kepada kakak sepupu sekaligus sepersusuanku ini. Mas Azzam namanya atau dikenal dengan gus singa garang. Begitulah julukan masku kalau di Al-Hikam. Hihihi.
"Ayok masuk."
"Oke Mas."
Kami mulai memasuki kawasan kampus UNS tepatnya dikawasan rektorat untuk melakukan daftar ulang dan cek kesehatan.
"Wah banyak banget ya Mas mahasiswanya."
"Hem."
Aku mulai antri, dan menunggu giliranku untuk masuk.
Saat aku akan masuk, aku sedikit merengek pada Mas Azzam karena rasa takut dan minderku kembali menyerang. Tapi lihatlah kakakku ini, dia menyemangatiku tapi dengan bahasa yang sarkas. Tapi memang seperti itulah dirinya, meski dingin dan garang tapi penyayang dan suka menabung.
Akhirnya dengan rasa takut-takut, aku masuk ke dalam. Saat akan cek kesehatan aku sudah ketakutan duluan, aku fobia jarum suntik soalnya. Keringat dingin sudah mengalir dari keningku.
"Gak disuntik Mbak. Sante aja. Sini nanti saya tunggu."
Aku menoleh ke arah gadis itu. Aku terkesima, walau kesan galak dan juteknya kelihatan sekali tapi gadis itu sangat cantik. Kayaknya kalau disandingkan sama mas garangku cocok nih.
"Mbak ... Mbak." Aku tersentak dari lamunan gak jelasku.
"Eh i-iya beneran saya ditungguin ya?" cicitku.
"Iya," jawabnya dengan senyum menenangkan.
Akhirnya cek kesehatan dan daftar ulangku selesai. Ketika keluar dari pintu auditorium, Caca nama gadis itu pamit akan mencari adik sepupunya yang juga Maba. Kami pun berpisah.
Aku segera mencari Mas Azzam rupanya dia tengah diajak ngobrol sama mas-mas berpostur tinggi sedang. Lumayan sih, meski gantengan Mas Azzam cuma gak tahu kenapa wajah si mas-mas itu membuat dadaku berdesir. Bahkan ketika berpamitan dengannya, aku merasakan deburan aneh karena senyum itu begitu membuatku terpesona. Perasaan apa sih ini sebenarnya?
****
"Mas ... cepetan aku gak mau telat," rajukku.
"Sabar kenapa sih! Lagian berangkat sendiri kenapa?"
"Gak mauuuu? Anterin."
"Ck. Manja."
"Biarin. Nanti aku telepon Budhe Aisyah kalau Mas gak mau anterin biar Budhe konser terus sampai Mas Azzam bosan."
"Iya-iya."
Kami pun berpamitan pada pemilik kost. Mas Azzam menginap di pondok di sekitar kost-ku. Mas Azzam emang punya hobi mondok pindah-pindah semenjak lulus Aliyah. Nah, pondok yang sekarang sedang ditumpangi olehnya itu, pondok yang ditempati Mas Azzam selama bulan puasa kemarin.
Ketika kami sedang melewati tikungan yang masih sepi sebelum menuju kampusku. Mas Azzam tiba-tiba menghentikan motornya.
"Kenapa sih Mas, kok ngerem mendadak?" kesalku.
Mas Azzam tidak bersuara namun pandangan matanya menatap tajam ke depan.
Aku melongo melihat pemandangan yang berjarak 200 meter dari kami. Seorang gadis berkerudung hitam dengan kemeja putih dan rok hitamnya tengah memukuli seorang preman sepertinya.
"Aduh. Aduh. Wadaw. Aw. Aw. Hentikan! Hentikan!"
"Makan ini! Kurang ajar! Bisa-bisanya berani cuma sama perempuan. Makan ini."
Bugh. Bugh. Bugh.
Aku meringis merasa kasihan kepada si preman tadi.
"Ampun. Ampun, Mbak. Ampun. Gak lagi-lagi Mbak."
"Pergi kamu. Atau mau aku hajar lagi."
"Iya Mbak ampun. Ampun."
Si preman langsung lari tunggang langgang. Baik aku dan Mas Azzam hanya diam dan mengamati sampai gadis jagoan dan temannya itu berlalu pergi.
"Astaga Mas. Gadis itu jagoan sekali ya."
"Iya."
"Kayak pahlawan ya Mas."
"Hem."
"Mas."
"Cantik."
"Apa!" pekikku.
"Eh ... oh ... buruan katanya kamu takut telat. Cepetan! Mas gak mau lihat kamu nangis kejer gara-gara telat di hari pertama."
Aku memilih diam dan segera naik. Malas berdebat, soalnya takut terlambat juga sih.
*****
"Aduh aku lupa."
"Kenapa Mbak?" tanya seseorang dan saat kutengok ternyata dia si cewek tadi dan eh ... bukannya dia ....
"Caca."
Dia mengernyit sebentar lalu tersenyum, cantik sekali. Aku saja yang sesama cewek terpesona apalagi yang cowok.
"Nada ya."
"Iya. Kamu biologi?" tanyaku.
"Iya."
"Wah. Asyik aku jadi ada temannya," ucapku girang sekali.
"Kamu nyari apa?" tanya Caca.
"Aku lupa bawa apel. Gimana ini?"
"Coba ke sepupuku dulu ya. Dia di matematika. Tadi kami bawa dua tapi punyaku udah tak kasihkan ke Meta, dia juga lupa bawa."
Akhirnya aku dan Caca bertemu Hasan, ternyata apelnya Hasan pun sudah dia berikan kepada Maba lain. Mataku sudah mulai berkaca-kaca.
"Kok mau nangis Mbak kenapa?"
Aku menoleh ke arah lelaki yang bertanya padaku. Loh dia kan?
"Loh Mbak yang waktu itu, 'kan? Kamu kenapa?"
"Eh. Jamal. Ini temennya Caca gak bawa apel. Apelnya aku sama Caca udah tak kasihkan ke orang lain." Hasan mencoba menjelaskan pada Jamal.
"Oh. Karena apel. Udah ini ambil apelku aja. Tenang, aku punya banyak nih ambil." Jamal mengulurkan apelnya kepadaku.
Aku ragu untuk menerimanya.
"Ambil."
Jamal masih mengulurkannya dan aku pun menerimanya.
"Makasih," ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama. Nah gitu, kalau senyum, kan cantik. Eh aku balik ke barisanku dulu ya."
"Iya," jawabku.
"Cie. Yang mukanya merona," ledek Caca.
"Hahaha. Kayaknya ada yang kena virus merah jambu Ca," kini Hasan yang meledekku.
"Au ah." Aku langsung lari dan kembali ke barisan.
Akhirnya kami diam dan mulai fokus mengikuti serangkaian kegiatan OSPEK hari pertama.
Saat sedang waktu ISHOMA, aku kaget karena Jamal ternyata habis kena hukuman, karena tidak membawa salah satu benda yang harus dibawa dan itu ternyata apel.
Aku merasa bersalah dan terenyuh pada saat itu juga. Fix. Secara tidak langsung sosok Jamal sudah terpatri di dalam hatiku.
****
Ini hari terakhir masa OSPEK, akhirnya penderitaan selama menjalani OSPEK akan segera berakhir.
Aku agak kaget karena tiba-tiba Caca sudah di sampingku.
"Kamu kok baru kelihatan sih."
"Iya tadi aku telat datang gara-gara nolongin Hasan bikin cerpen. Ckckck dia ngomong pas aku mau berangkat. Kalau bukan adik sepupuku males aku bantu dia mana tadi ketemu mas-mas gondrong nyebelin."
"Mas-mas gondrong?"
"Iya. Marah-marah ke aku sampai semua dalil dikeluarkan. Bodo amat aku tinggalin aja dia soalnya udah mau telat."
"Kenapa kamu dimarahin sama dia?"
Kulihat cengiran tanpa dosa di wajah Caca.
"Pasti kamu yang salah, 'kan?" tuduhku.
"Hehehe. Habis takut telat malas dihukum." Dia senyum lagi.
"Emangnya kamu tadi ngapain?"
"Manjat gerbang belakang lab Biologi biar gak perlu muter, jadi aku bisa lewat kebon langsung sampai sini hehehe."
Astaga! Aku cuma melongo melihat tingkah sahabatku ini. Ini cewek padahal cantik banget tapi tomboynya gak ketulungan macam preman. Aku cuma menggeleng-gelengkan kepalaku. Sepertinya hidupku selama kuliah akan seperti pelangi deh karena punya sahabat macam Caca.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro