Di dalam sebuah bangunan megah Grande Moschea, duduk berderet ratusan tamu yang hendak menghadiri sebuah upacara pernikahan dua manusia yang telah hadir di depan mereka. Pernikahan yang telah disiapkan sejak jauh-jauh hari itu akhirnya terlaksana hari ini.
Sang mempelai laki-laki tampak mengenakan setelan kemeja putih dan telah duduk di depan pria berusia sekitar 55 tahunan yang akan menikahkannya, sedangkan mempelai perempuan duduk sedikit di belakang mempelai lelaki menggunakan gaun berwarna senada dengan prianya yang sangat mewah. Gaun itu tampak melebar beberapa meter membentuk lingkaran yang cantik. Kepalanya terbalut jilbab putih dan di atasnya melingkar mahkota bunga.
Masjid yang dibangun di atas lahan 30 ribu meter ini, terlihat tengah menampung tamu kedatangan dari Indonesia dan beberapa warga asli Roma yang memadati tempat kebanggan Muslim Italia sejak 1995 peresmiannya. Di antara kentalnya Katholik, mereka mengizinkan tanahnya untuk didirikan sebuah masjid Agung yang dibiayai oleh 23 negara. Cream dan cokelat muda yang mendominasi, sekilas tampilannya seperti berada di timur tengah.
Suasana hening.
Sang ayah dari mempelai perempuan mulai berjabat tangan dengan calon menantunya. Akad akan dikumandangkan.
"MR. Kafi Nathnael Stewart son of Rafael Stewart, i marry off and i wed off my real daughter Hilyatul Aulia to you, with the dowry fifty nine thousand euros and one hundred grams of gold, in cash," ucapnya tegas.
"I accept her marriage and wedding Hilyatul Aulia daughter of MR. Muhammad Saif Ismail with the dowry mentioned above in cash," tegasnya dalam sekali tarikan napas.
"Alhamdulillah." Gumaman itu terdengar dari beberapa tamu. Tak seramai adat di Indonesia saat sedang mengesahkan pasangan pengantin yang biasanya akan terdengar semangat menyebut kata 'sah'.
Setelahnya, sang pengantin perempuan berjalan dengan lututnya sedikit ke depan sekadar menyamakan posisinya di sebelah sang suami ketika MC meminta mereka untuk bersalaman.
Hingga akhirnya kedua pasangan itu dipinta bangkit dan mereka bergandengan tangan, mulai menuruni tangga masjid menuju mobil hitam yang telah terparkir di bawah sana. Di belakangnya, tampak tiga Bridesmaid berkemeja cokelat tua dan tiga Groomsmen menggunakan dress senada yang merupakan teman Kafi dari Aussie. Merekalah yang menyambut hangat ketika Kafi memintanya mengiringi di hari ini.
Para tamu pun keluar, mereka ikut serta mengantar kepergian sepasang pengantin baru itu. Melepasnya pergi, seolah keluarga Hilya telah mengizinkan Kafi untuk menggantikan tugasnya dalam menjaga dan membimbing, seolah mereka telah memberikan kartu sukses ujian selama tujuh tahun perjalanan yang melelahkan.
Matahari siang Eropa kali ini terlihat cerah. Langit birunya tampak tampil cantik dan awan-awan menyembul seakan tengah memakai gaun putih yang sama dengan Hilya.
Ketika telah sampai di depan mobil yang pintunya telah terbuka, Kafi dan Hilya berbalik, membungkukan badannya tuk berpamitan pada keluarga mereka yang berada di belakang untuk menuju kembali ke rumah. Nanti malam, pesta akan dilaksanakan di belakang rumah Kafi yang berada di pusat Roma.
Sesungguhnya rumah itu bukan murni miliknya. Kafi sendiri tinggal di apartemen yang berada tak jauh dari kampus di Milan. Namun, dia menyewa dari salah satu kolega selama tiga tahun untuk tempatnya melarikan diri dari apartemen yang kadang membosankan. Sesekali, dia tinggalkan Milan saat liburan dan berlari ke Roma mencari hiburan.
Mereka lantas masuk ke mobil, lalu pintunya ditutup oleh sang Sopir. Dari balik kaca, Hilya melihat ayahnya yang mengusap air mata. Namun, dia tersenyum saat kedua kakaknya berada di sampingnya, menenangkan. Tetapi tetap saja dia merasa sedih bahkan ketika sebenarnya dia tahu bahwa akan kembali dan tak akan pernah jauh dari mereka. Entah beberapa tahun lagi setelah Kafi menuntaskan S3-nya di sini, Jakarta adalah tujuannya karena Kafi harus menggantikan tugas Rafael di perusahaan.
Perlahan, kendara roda empat itu mulai bergerak menjauhi masjid menuju rumah yang berada sekitar 10 KM dari Grande Moschea, mereka masih tetap berpegangan tangan seolah tak ingin terlepas lagi, setelah melakukan panjangnya perjalanan tujuh tahun lamanya semesta mempermainkan mereka.
Alam mengajaknya bertualang, mencari jawaban dan menuntut untuk tak pernah menyerah dalam menuntaskan problematika yang penuh dengan angka. Waktu, tenaga, harapan, kesedihan, kemarahan, terangkum dalam panjangnya cerita yang tak pernah usai.
Barangkali ini masih seperti mimpi. Kisah cinta dua anak manusia yang nyaris patah setelah kelulusan SMA kembali bersemi dan mekar menjadi bunga yang luar biasa. Setelah menghapus nomor Hilya tujuh tahun lalu, setelah bertemu Albania lima tahun lalu, setelah mencari bukti-bukti kebenaran ayat Tuhan, setelah mereka beberapa kali bertemu atas ketidaksengajaan, setelah Kafa menemukan mimpinya sendiri, setelah dan setelah banyaknya drama yang terjadi di kedua rumah mereka, akhirnya Tuhan memberi sebuah tiket keberhasilan yang tak pernah mereka bayangkan.
"Aku ingin tahu tentang pertemuanmu dan Albania," kata Hilya tiba-tiba.
Laki-laki di sebelahnya menoleh. Dia menyentuh pipi perempuan berjilbab putih itu dan menatap wajah cantiknya yang terbalut make up. "Kami bertemu. Tapi kami tak bisa menyatu, karena aku masih inginkan kamu dan Albania telah memiliki nama lain di hatinya. Janji kami hanya bertemu dan dia berhasil menggapai kebahagiaannya," jawabnya seraya tersenyum.
Hilya membalasnya. Setelah dinaikan roller coaster oleh semesta, kini mereka kembali diturunkan dan membebaskan kebahagiaan menyapanya.
"Berjanjilah untuk selalu seperti ini." Hilya mengacungkan jari kelingkingnya di depan Kafi.
"Nggak perlu memintaku berjanji. I will always be here for you. Aku akan membahagiakanmu tanpa diminta. Kamu tahu, hari ini kita seakan diberi kesempatan untuk melanjutkan membaca bab paling indah yang sempat tertunda. Ya, terima kasih karena tak pernah berhenti mencintaiku." Laki-laki itu mengecup bibir Hilya singkat.
Gadis itu merasakan debaran syahdu dari jantungnya yang tak bisa diajak kerjasama untuk tetap tenang. Kafi tersenyum. "Sekali lagi terima kasih mau berjuang bersamaku dan tak pernah menyerah meyakinkanku."
"Kenapa harus berterima kasih padaku, ketika kamu juga melakukannya. I'm totally in to you," kata Hilya pada laki-laki berkacamata itu.
Di jalanan Roma, keduanya merasakan kehendak Tuhan yang Maha Kuasa. Selama ini, Hilya hanya tak pernah sekalipun melepaskan kebenaran bahwa Allah tak akan pernah mengingkari janji, bahwa Dia akan memperkenankan doa-doa hamba yang meminta pada-Nya.
Ketika sujudnya semakin direndahkan setiap malam, akhirnya Tuhan memberikan jawaban atas segala permintaan. Dan Tuhan takkan pernah mengingkari janji-Nya. Dan kini dia mengerti tentang sebuah episode, bahwa kerapkali Tuhan akan mengeluarkan part paling membahagiakan bagi hamba-hamba-Nya yang mau menunggu.
Tuhan kerapkali merencanakan suatu skenario yang tak bisa diterima akal. Di negeri mayoritas Katholik ini, di depan Cathedral Gothic yang luas itu, di antara syahdunya aliran sungai Venesia, di Roma, di Milan, di Vatikan, di tengah-tengah banyaknya teman non Muslim yang memeluknya, Kafi melihat keadilan Tuhan yang tak terbatas. Dari dia berkehendak untuk tak pernah percaya narasi agama yang tak masuk akal, hingga ia merasakan bagaimana skenario Tuhan berjalan, memberi suatu keajaiban.
Dan Allah Dzat maha Cinta adalah Dia yang telah menciptakan Mazhab yang indah ini.
Pada mereka yang tak pernah mengkafirkan, pada mereka yang tak hobi membid'ahkan, pada mereka yang tak pernah membenci liyan, pada Ulama yang mengerti hukum, pada mereka yang toleran, pada mereka yang menjunjung tinggi kemanusiaan, pada mereka yang beragama tanpa membenci agama lain, pada Nadwatul Ummah, pada pesantren Ali bin Abi Thalib, pada pesantren Umar bin Khattab, Kafi melihat Mazhab Cinta berdiri tegak di sana. Dia melihat Mazhab yang indah ini di tatapan-tatapan meneduhkan mereka.
💙💙
Datanglah siapa pun engkau.
Meskipun engkau seorang kafir, penyembah berhala atau penyembah api.
Datanglah! Persaudaraan kita bukan sebagian dari keputusasaan.
Meskipun engkau telah melakukan kesalahan ratusan kali. Kami adalah gerbang harapan. Datanglah sebagai dirimu sendiri.
—Jalaluddin Rumi.
Yhahaha Okey Selesai 💙
Maaf ya baru diupdate sekarang karena kemarin saya masih sibuk.
Dan alhamdulillah ya nggak kerasa udah sampai epilog dan akhirnya MC bener-bener usai, walau sebenernya ini gantung, sih. Tapi nggak apa, yang penting bahagia 🖤
Sekali lagi terima kasih sudah membaca hingga akhir dan bagi teman-teman yang memiliki waktu luang, boleh tulis pesan dan kesannya di sini. Kalau gamau juga ya nggak papa, ini bukan kewajiban wkwkw jadi ya terserah.
Ya, maaf banget kalau endingnya nggak memuaskan tapi entah saya suka senang telah menuntaskannya. Haha~
Dan kalau berminat sila follow IG-nya @/hallo_milkyway okey? Muehehehe~
Salam | Milky Way
Pict; google.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro