
Bab 09 || Umi, Jangan Bercanda.
Bila mencintaimu termasuk bid'ah, maka sungguh aku telah menjadi pelaku bid'ah yang mabni.
Seluruh keluarga besar Kyai Usman berkumpul di ruang keluarga saat mengadakan perkumpulan. Barangkali ini pun sedang melakukan persiapan untuk membicarakan pernikahan Nabil dan seseorang bernama Silky.
Katanya Umi dan Abi sudah berbicara pada Nabil tentang rencana mereka dan Hilya sedikit terkejut saat Nabil mengiyakan pernikahan itu. Sesungguhnya dia tahu bahwa Kakaknya itu menyimpan rasa pada orang lain tetapi dia tak mau ikut campur dengan lingkup yang bukan miliknya.
"Abis ini Nabil langsung nikah," celetuk Hamdan tiba-tiba. Hamdan merupakan Kakak pertama Hilya. Dan Hilya anak terakhir dari pasangan Muhammad Saif Ismail dan Hanin, serta dia anak perempuan satu-satunya.
Biasanya anak terakhir akan disayang oleh kedua kakaknya, tetapi tidak bagi Hilya. Karena kakak keduanya tak bersahabat. Seseorang bernama Nabil itu sering bersikap seenaknya pada dia, andai kakak keduanya itu tidak memiliki rupa yang menawan dan IQ tinggi barangkali dia tak memiliki nilai plus sedikit pun di mata adiknya. Namun, mau mengejek pun, Hilya tak mampu. Tepatnya, tidak tahu caranya.
Laki-laki berambut gondrong yang duduk di dekat Umi Hanin itu hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya.
"Ngomongnya mah, Nabil nggak bakal nikah, Mas sebelum lulus S2. Eh, S1 baru belajar I'rab aja udah ngebet," sindir Hamdan.
"Catat, Nabil udah mau tingkat empat ya, Mas." Laki-laki itu tertawa. Semua keluarga ndalem tersenyum, sesekali tertawa menyaksikan keributan mereka. Entahlah Hilya paling tak paham. Kedua kakaknya itu rindu bila tak bertemu tapi ribut ketika berada di satu lingkaran yang sama. Sejujurnya mau mereka apa?
"Nabil udah mau selesai, Lek?" tanya Kiai Usman. Kakek sekaligus pendiri Nadwatul Ummah. Usianya sudah menginjak 70 tahun lebih dan beliau masih aktif ngajar dari satu kelas ke kelas lain untuk membagikan ilmunya. Karena sebaik-baik manusia memang yang bermanfaat untuk manusia lain. Itulah yang Kiai Usman inginkan.
"Insya Allah Abah mungkin beberapa bulan lagi." Kakak Hilya itu tersenyum.
"Cie... Mas Nabil melepas masa jomlo dong," ledek Hilya.
"Iya dong, emang mau mufrod terus sepanjang tahun," sahutnya.
"Ucapkan selamat untuk Ammi Nabil, Ace!" pinta istri Gus Ibrahim. Ace adalah sepupu Hilya. Gadis itu belum memiliki keponakan karena Hamdan baru saja menikah beberapa hari lalu dan ia berniat menagihnya.
Ace, anak kecil empat tahun yang duduk di pangkuan Abah Usman itu menatap Nabil kemudian. "Turut berduka cita, Ammi!" ucapnya polos.
"Hei, Ace!"
Seketika ruang keluarga pecah oleh tawa. Bagaimana mungkin anak itu berbelasungkawa pada pernikahan sepupunya. Hilya tertawa puas. Entah mengapa dia paling suka saat ada seseorang yang membuat kesalahan pada kakaknya. Atau Ace tahu bagaimana isi hati Nabil? Ah, dia terlalu kecil untuk dilibatkan perihal cinta.
"Bukan begitu, Sayang. Ucapkan begini, selamat menempuh hidup baru, Ammi Nabil." Sang ibu--istri Gus Ibrahim mengajari anaknya lembut.
"Harus begitu, ya. Ya sudah selamat menempuh hidup baru Ammi Nabil."
"Terima kasih, Ace!" Nabil tertawa kecil.
Abah Usman kemudian banyak berbagi cerita. Di sana berkumpul anak, cucu, menantu bahkan beberapa saudara, Hilya kadang tak kenal. Hanya saja putra Gus Adam belum pulang. Entah sudah beberapa tahun dia hanya mengabari orang tuanya melalui ponsel. Dan dia baik-baik saja. Hilya tak terlalu kenal karena putra pamannya itu cukup tertutup.
Kalau tidak salah, usianya sama. Namun, semenjak mengenal syahdunya Kediri, dia enggan balik. Hanya beberapa kali saja. Dan Hilya tak peduli.
Usai banyak berbincang banyak hal, perlahan dari mereka mulai meninggalkan ruang keluarga. Abah Usman sudah ke masjid bersama Gus Adam, Gus Ismail, Gus Ibrahim dan Gus Hamdan. Para Ning pun sudah masuk ke kamar hendak persiapan salat sedangkan di sana tersisa Umi Hanin, Hilya dan Nabil yang masih menikmati kacang almond.
"Mas Nabil nggak ke masjid?" tanya Hilya. Gadis itu duduk di sebelah Umi Hanin yang sedang halangan sedangkan Nabil duduk satu meter di sebelahnya.
"Ntar kalau kacangnya abis."
Hilya lantas memegang tangan Umi Hanin, begitulah dia ketika hendak meminta sesuatu. "Umi, kalau aku pengen lanjutin kuliah di Al-Azhar gimana? Di sana, kan, nggak butuh mahram. Aku ragu kalau ke Yaman." Dia berucap pelan. Sebenarnya di Yaman pun tak butuh mahram bila memang lanjut di Al-Ahgaff, tapi entahlah Hilya hanya ingin satu kampus dengan seseorang yang masih memiliki hubungan darah. Baiklah, sesungguhnya dia tak memiliki alasan lebih spesifik kenapa memilih Egypt. Dia hanya ingin.
Diam-diam kedua mata beloknya menoleh ke arah sang kakak, dan benar saja Nabil menatap ke arahnya. Berani taruhan bahwa laki-laki itu pasti sedang ke-pede-an merasa bahwa Hilya ingin satu kampus dengannya. Walau memang iya.
"Mau ikut Mas Nabil? Tapi kan Mas-mu bentar lagi mau wisuda. Dan belum tentu Gus Nabil lanjut S2 di sana. Umi khawatir kalau kamu nggak ada temen," katanya.
"Kamu menikah saja dengan Kafa. Kata Gus Adam dia mau lanjut di sana, kan? Kalian bisa kuliah bersama dan Umi mungkin nggak akan cemas. Dan sebenarnya Umi dan Abi pernah membicarakan ini jauh-jauh hari."
Deg.
Hilya membulatkan kedua matanya. Apa tadi? Menikah? Umi menyebut nama Kafa? Menikah dengan Kafa.
Hilya langsung tak enak hati. Ia langsung teringat perasaannya yang telah termabni selama dua tahun lamanya dan itu bukan untuk Kafa. Dan ia tak pernah membiarkan orang tuanya melakukan perjodohan pada akhirnya. Yang dipahami, cinta tak bisa dipaksa.
"Umi, jangan bercanda." Gadis itu tertawa kecil berusaha menghilangkan keringat dingin yang langsung menyergapnya.
"Kapan Umi bercanda tentang hal yang serius. Hilya, Kafa itu anak yang baik dan Umi rasa dia mampu menjadi pemimpin untuk keluarga kalian nanti. Umi hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu."
"Oh ya sudah, Hilya nggak jadi kok mau ke Al-Azharnya. Aku cuma bercanda." Hilya tersenyum. Bahkan bila ia harus menguburkan mimpinya untuk tak pernah melanjutkan studi-nya di negeri para Nabi itu tak apa daripada memaksakan kehendak ibunya. Bukannya ia berniat durhaka, tapi sungguh hati kecilnya jelas menolak.
"Mi, emang nggak bisa biarkan Hilya milih siapa? Barangkali dia udah punya pilihannya sendiri coba tanya baik-baik dulu." Nabil bangkit, kemudian pergi saat azan asar benar-benar telah berkumandang.
Hilya menatap kakaknya sekilas, lalu kembali memandang ibunya. "Umi, kalau Umi tahu aku telah menyukai seseorang dan itu bukan Kafa."
Wanita itu tampak terkejut. "Siapa?"
"Kafi. Kembaran Kafa."
"Di mana dia?"
"Dia di sini. Di Jogja."
"Sama seperti Kafa?"
Hilya mengerti maksud pertanyaan ibunya. Barangkali memang menunjuk pada akhlak, agama, dan segala hal yang Kafa miliki dan tentu ada banyak sesuatu yang Kafi tak miliki. Ada banyak hal yang Kafi tak punyai. Namun, bukankah perasaan tak mengenal segala hal itu? Bahkan Hilya tak peduli bahwa Kafi tak mengerti satu pun huruf hijaiyah, bahkan Hilya tak peduli bahwa Kafi tak menghafal al-ikhlas, bahkan Hilya tak peduli bahwa Kafi tak memahami Kalam dan pembagiannya. Persetan dengan semua ini perasaan tidak diukur dengan segala hal yang terlihat. Hilya melihat Kafi dan Hilya melihat sesuatu bernama bahagia. Begitulah perasaan bekerja.
"Kafi tak beragama," desis Hilya. Ada nada penyesalan tetapi ia berusaha menutupi.
Hilya menunduk. Ia yakin bahwa wanita di depannya terkejut dan ia tak perlu memastikan bagaimana raut wajah Umi Hanin saat ini. Dia hanya perlu bersikap tenang dan membiarkan segalanya mengalir. Bila harus berjuang, ia akan berjuang sepenuhnya. Betapa sesungguhnya Hilya tahu pergulatan hati kakaknya saat harus menikahi seseorang yang tak dicinta dan sayangnya Hilya tak memiliki sifat mudah menerima seperti Nabil. Hilya tak bisa tetap tenang seperti Nabil. Bahkan gadis itu kerapkali memberontak tentang segala hal yang tak disuka.
"Dan kamu memilih dia? Hilya, apa yang kamu pikirkan? Apa yang kamu inginkan? Jangan bodoh, Nak."
"Dan Umi juga nggak bisa memaksa. Jangan salahkan aku tentang perasaanku. Aku tak pernah meminta Tuhan untuk membuatku jatuh cinta dan ternyata Allah telah menciptakan skenario seperti ini dan aku nggak bisa menolak sesuatu yang bernama fitrah. Umi, aku mohon jangan paksakan kehendak Umi. Aku ingin kebebasan." Hilya langsung bangkit. Dia segera mengayunkan langkahnya pergi meninggalkan Umi.
Matanya sudah berkaca-kaca dan ia sudah tak tahan. Ia tak bisa mendebat sang ibu dan ia pun tak bisa berbohong untuk menyembunyikan.
Gadis itu keluar dari rumah, ia menoleh dan mendapati Nabil yang bersandar di dekat pintu. Menatapnya. Kedua mata mereka saling berserobok, sebelum akhirnya Hilya berlari kecil ke arah asrama. Ia yakin sekali bahwa Nabil mendengar semuanya. Mendengar percakapannya dengan umi dan laki-laki itu memang kadang menyebalkan.
🍬🍬
Hilya baru saja tiba di kamar asrama. Sepi dari siapa pun kecuali seorang gadis berkulit sawo matang yang sedang memaknai kitab di depan lemari. Hilya mengambil mukena hendak ke musalla, tetapi langkahnya terhenti.
"Mariyah, kamu di sini?" tanya Hilya pada gadis tujuh belas tahun itu. Pasalnya Mariyah sendiri beda kamar dengan Hilya kendati keduanya masih satu komplek.
"Kitabmu ketinggalan di kelas dan aku membawanya. Karena punyamu lengkap, aku minjam sebentar. Tapi sekarang udah selesai." Gadis itu menutup kitab miliknya lalu berdiri dan menyodorkan pada Hilya.
"Ah, makasih ya." Hilya mengambilnya lalu ditaruh di atas lemari.
"Aku keluar dulu," pamit perempuan berselung pipit itu.
"Eh Mariyah, aku mau nanya."
"Nanya apa, Ning?"
Mariyah itu benar-benar lembut. Dia berbeda sekali dengan dirinya. Sangat berbeda dengan Hilya yang kerapkali asal keluar saat berbicara dan sering tidak sopan pada kakak-kakaknya.
"Kafi itu menurutmu bagaimana? Bukannya kamu tinggal dekat dengan mereka?" Sewaktu memberi martabak pada Mariyah, anak itu telah bercerita tentang dia dan bagaimana hingga bisa tinggal bersama dengan keluarga Kafa. Dan dengan tak keberatannya Mariyah menceritakan segalanya pada Hilya. Barangkali dia tahu bahwa Ning-nya memang bisa menjaga rahasia.
"Kafi itu baik. Keluarga mereka itu keluarga baik-baik. Terlepas entah apa yang Kafi yakini itu adalah bagian dari personalnya. Persetan dengan semua itu Kafi sangat perhatian pada sesama.
"Dulu pernah kami ke pasar swalayan bersama. Selepas keluar dan menuju parkiran, kami melihat anak kecil yang duduk di parkiran. Dia terdiam dan mungkin lapar di perutnya membunuh perlahan anak itu di bawah terik matahari. Aku melihat Kafi langsung berbalik ke dalam dan setelah beberapa menit dia kembali membawa satu kresek makanan dan minuman yang kemudian diberikannya pada anak itu.
"Bahkan kalau diceritakan, ada banyak sekali kebaikan-kebaikan yang Kafi lakukan pada sesama. Aku nggak bisa mengingat semuanya. Pada dasarnya di antara kita semua, Kafi lah yang paling tinggi kemanusiannya, dia lah yang pedulinya seakan tak memiliki batas." Mariyah menghentikan ucapannya.
"Dan Mariyah, apa Kafi pernah memiliki kekasih?" Dia bertanya ragu.
"Aku pernah mendengar dia cerita sama Kafa dan katanya dia nggak pernah tertarik dengan banyak gadis di sana. Dan katanya Kafa pernah buka sosial media milik Kafi dan ada banyak perempuan yang mengajaknya ke party, makan malam, nge-gym, dan Kafi tak pernah membalas pesan-pesan mereka kecuali hanya beberapa yang benar-benar penting.
"Kafi itu mirip sekali seperti Om Rafa. Dia nggak tertarik mengenal banyak perempuan. Satu hal yang paling aku ingat perkataan Kafi, katanya Sains lebih sexy daripada betis para perempuan yang mendekatinya dan perempuan yang kenal dekat dengan dia barangkali sangat beruntung. Apalagi bila Kafi mencintainya." Mariyah tertawa kecil.
Hilya terhenyak.
Apakah merupakan keberuntungan saat Kafi mengajaknya berjuang bersama menerobos banyak ketidakmungkinan, menghancurkan perbedaan di antara mereka dan meyakinkan orang tua masing-masing untuk merestui hubungan yang tak sepaham.
Sungguh, ini akan menjadi rumit dan sangat rumit.
Allah, aku tak paham dengan kehendak-Mu. Aku tak paham mengapa Engkau membiarkanku jatuh cinta pada seseorang yang yang tak dikehendaki. Namun, aku mohon jangan pernah hapuskan rasa ini. Bila aku harus menderita karena rasaku padanya, biarkan aku menderita dan itu lebih baik.
Update 😊
Vote dan komennya, jangan lupa ya. Bila ada kesalahan sila sampaikan dengan baik.
Sebelum lanjut, lebih baik follow dulu Gaesssss
IG-nya juga nih di follow @hallo_milkyway
Salam | Milky Way
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro